Bukanlah Apa-apa

Bukanlah Apa-apa
# Bagian–12 : Serikat Petualang


__ADS_3

Mereka pun paham apa yang telah dijelaskan oleh Pak Tua itu.


“Jadi lebih mengerti sedikit tentang dunia ini” ucap Jika Hadap.


“Terimakasih ya” ujar Jadi kepada Pak Tua.


“Tidak papa nak”


Keduannya pun berpisah darinya dan pergi menuju Serikat Petualang.


“Itu dia, lihat kak Jadi” shut Jika Hadap.


Jadi menatap cermat dari kejauhan “Oh, itu ya. Baik, aku bisa melihatnya”


Keduanya pun langsung menuju ketempat tersebut dan terulislah pada platform serikat Union Adventurerse klasik berpahatan batu.


“Apakah kita akan masuk?” tanya Jadi.


“Memangnya, kita kesini buat apa?”


“Baiklah”


Mereka pun masuk kedalamnya dan terdiam sejenak membaca keadaan.


“Lalu, apa yang kita harus lakukan selanjutnya?” ujar Jadi.


“Sebentar, aku akan mencoba bertanya lagi”


Jika Hadap melihat-lihat sekitar dan mencoba bertanya pada pelayan perempuan yang telah menaruh sebuah pesanan orang.


“Anu, apakah saya boleh bertanya”


“Eh, siapa?” ucap Pelayan yang memalingkan wajahnya kepada Jika Hadap “Iya, kenapa? Ada yang bisa saya bantu?”


“Ano, bagaimana caranya agar bisa mengikuti misi-misi di sini?”


“Oh,... Jadi Anda Petualang baru yah?”


“Yah, begitulah”

__ADS_1


“Ya sudah, mari. Ikutlah aku”


“Oh iya, aku juga punya teman baru. Aku ingin mengikut sertakan”


“Baik, kalo begitu. Nanti aku akan memanggilkan Anda setelah saya meberitahu pada pemilik serikat ini kepada Anda”


Kemudian Jika mengikuti langkah-langkah Pelayan tersebut dan kembali lagi pada Jadi.


“Kenapa Anda memakai topeng?” Ucap Jika yang sedikit terkejut.


“Yah, kau tahu kan. Jikalau sebelumnya aku dikerumuni banyak wanita?”


Jika mengangguk “Lalu, bagaimana kau bisa mendapatkan topeng itu?”


“Yah... Kalo itu mah, tadi ada wanita cantik yang tidak terpesona denganku. Dia menarik bajuku sambil menyodorkan topeng yang kini ku pakai lalu dia pergi tampa berujar sedikitpun”


“......” Jika bergumam.


“Aku serius”


“Terserahlah”


“Permisi tuan”ucap Pelayan yang datang seketika.


“Kalian bisa masuk ke kantor serikat kami”


“Tolong bantuannya” ucapnya sambil memohon.


“Baik, ikutlah aku”


“Kak, Jadi. Ayo”


“Kemana?”


“Udah ayo...” Ujarnya sambil menarik tangan Jadi.


Lalu...


“Boleh saya tahu siapakah nama kalian” ucap lelaki bermbut panjang berwarna biru polos dengan topi flanel berwarna coklat tengah duduk di atas kursi kayu.

__ADS_1


“Kami hanyalah Pejalan Kaki yang tak punya arah maupun tujuan” ucap Jika Hadap.


“Begitu yah, jadi. Apa alasan kalian datang kemari?”


“Tidak tahu, hanya saja. Kami ingin mencoba hal-hal yang baru”


“Dimengerti, baiklah. Kalo begitu silahkan kalian duduk dahulu”


Keduanya pun duduk.


“Santir! Cepat ambilkan kartu daftar penggunanya” sahutnya memerintahkan Pelayan perempuan yang tadi.


“Sebelum kalian menerima permintaan-permintaan, aku ingin bercengkrama lebih dulu dengan kalian” sambungnya “Perkenalkan, nama saya adalah Èďgáro Ávinďô” ucapnya sambil berdiri membuka topi flanelnya “Dan kalian, siapa?”


dengan tenang Jika menjawab “Saya adalah JikDap, dan ini adalah kaka tiri saya bernama Jade. Salam kenal” tutupnya membungkukkan badan.


buk “Oy, yang benar kalo ngasih nama” bisik


Jadi menyenggol pelan Jika Hadap sambil membisik, dan dia hanya mengedipkan mata kanannya.


“Oh, iya. Kalo boleh tahu, dimanakah kalian berasal?” lanjut Èďgáro yang tengah duduk kembali.


“Kami berasal dari negri antara timur Dan barat”


“Begitu yah, menarik”


“Tuan,...” Ucap si Pelayan.


“Oh, sudah datang. Baiklah tuan-tuan, silahkan tanda tangan di sini” ucapnya yang kemudian menaruh sebuah kertas kuning dengan tulisan yang tidak dapat mereka mengerti.


“....¿ Apa ini?” keduanya serentak bergumam.


“Jik, kamu mengerti bahasa ini?” bisik Jadi.


“Aku juga tidak tahu”


“Yah, sebelum itu. Aku akan menjelaskan apa ini” ujar Èďgáro “Tidak usah panjang-panjang karena saya masih ada urusan, bila kalian menyetujui ini. Maka secara otomatis akan muncul sebuah kartu Petualang, bila ada pertanyaan. Silahkan tanyakan pada Dewa saja, ralat! Becanda, kalian boleh tanya pada Santir pembantuku. Dadah!”


Seketika dia menghilang tampa jejak kecuali hanya sebuah angin yang terasa.

__ADS_1


“Eh, kemana dia?” Ucap Jadi.


“Apakah ada pertanyaan lagi?” Santir berkata.


__ADS_2