
Gadis itu pun bertanya-tanya pada dirinya “Apa yang sedang dia lakukan?” Pertanyaan tersebut terus terngiang di dalam kepalanya, hingga dia terus terpaku melihat Jika Hadap sampai selesai melaksanakan ritual ibadahnya.
Saat si gadis ingin bertanya sesuatu, niatnya terkurungkan sebab Jika mengangkat tangannya ke atas sambil menengadah wajahnya ke langit.
Kemudian wajahnya pun tertunduk malu dan mengalirlah air mata yang penuh paksaan. Dalam relung jiwa Jika Hadap ketika mengangkat tangan dia ternyata berdoa
“Tuhanku! Engkaulah yang telah menjadikan-Ku lemah hingga sekarang. Engkaulah yang membuat diri–Ku kebingungan, aku... Bukanlah apa-apa karena menggunakan apa yang Kau titipkan pada–Ku tidak digunakan dengan sebenar-benarnya.”
Gadis itu pun mulai mengangkat pembicaraan “Hai, dek. Mengapa engkau menangis”
Jika pun sontak terkejut saat gadis itu memegang pundak kirinya dengan jarinya, dia langsung mengambil beberapa jarak darinya
“Ma, maaf” Jika pun langsung membersihkan air matanya. Dia tertunduk dengan kerut wajah yang cemberut setelah menangis.
“Kalo boleh saya tanya, mengapa Anda menangis? Dan juga... Apa yang telah kau lakukan tadi hingga membuat diriku penasaran, engkau melakukan tunduk dan sampai juga bersujud?”
“Tidak, itu hanyalah suatu ibadah yang telah ku lakukan kepada Tuhanku, dan bila aku tanya mengapa aku menangis? Aku sekarang tidak menangis”
Gadis itu memasang wajah curiga “Aneh... ” gumam si gadis.
“Ya sudah, aku ingin pergi dahulu yah! Semoga sejahterah bagimu”
Saat Jika Hadap beranjak pergi mulai melangkahkan beberapa kakinya, pergerakannya terhentikan oleh sahutan si gadis yang telah berbincang dengannya.
“Tunggu! Aku punya pertanyaan lagi sebelum kau pergi”
Jika pun memalingkan wajahnya disusuli dengan pergerakan tubuhnya. Sambil menutup mata dan senyum tipis, dia menjawab “Yah, tentu saja. Apa yang ingin kau tanyakan?”
“Sebenarnya, siapa dirimu yang sebenarnya?”
Jika Hadap menghela napas “Begitu yah,” dia pun menjawab pertanyaannya dengan tenang “Aku sudah bilang kan, kalo aku hanyalah pejalan kaki. Tapi bila kau menanyakan diriku yang sebenarnya, tidaklah daku tahu siapa aku yang sebenarnya. Dan bila kau tanya ingin kemana aku? Aku tidaklah punya tujuan. Sekian”
“Apa, kau tidak tahu dirimu yang sebenarnya? dan kau juga tak tahu ingin pergi kemana? Aneh sekali, baru kali ini aku mendengar orang yang seperti itu dan juga, bila kulihat dari pakaianmu. Kau berasal dari mana?”
“Aku? Aku berasal dari kota Jaya Kertas,... Ada yang ditanyakan lagi?”
“Apa? Jaya Kertas, baru pertama kali aku mendengarnya”
Jika Hadap hanya tersenyum tipis “Bila engkau tidak punya urusan denganku lagi, saya mohon pamitnya, dadah”
Saat Jika berpaling lagi, dia terhentikan sebab pergelangan tangannya yang tertutup oleh jaket berlengan panjang miliknya, terpegang oleh si gadis “Jangan pergi dulu, aku belum mengizinkan dirimu” ucap si gadis.
“Eh,...?”
__ADS_1
“Aku ingin meminta sesuatu”
“Tapi,... Bisakah kau melepaskan tanganmu?” ucap Jika seraya tersenyum tipis.
Gadis itu pun sontak langsung melepaskan tangan Jika dari genggamannya, dia merasa sedikit malu, terlukis pada pipinya yang kemerahan “Duh, ngapa pula aku menggenggam tangannya” batinnya berkata.
Jika hanya tersenyum tipis, dia kembali berhadapan dengannya “Jadi, apa yang kau mau dariku. Padahal kau bisa lihat bahwa diriku tidak mempunyai apa-apa kecuali apa yang kugunakan” sambungnya.
“Begini, Anda tidak tahu ingin kemana dan tak tahu siapa Anda yang sebenarnya kan?” ucap si gadis.
“Yah, kau benar!”
“Dan kau bilang, tak tahu dirimu yang sebenarnya kan? Jadi. Siapakah nama Anda?”
“Wah, ternyata kaka hebat yah. Memperhatikan perkataanku. Kalo namaku adalah...Jika Hadap”
“Nama yang aneh... Ehem, dan kamu gak tahu ingin pergi kemana kan?” sambil memegang dagunya dengan jari telunjuk dan jempolnya yang terlekat, si gadis melanjutkan pembicaraannya.
“Yah tepat sekali, memangnya kenapa?”
“Gimana yah cara menjelaskannya, begini aja nak Jika. Kalo kamu mau, kamu bisa ikut denganku. Lagi pula, kamu tidak memiliki apa-apa kan kecuali apa yang kau bawa”
Jika pun mulai tertarik dengan tawarannya, dia mulai berfikir sejenak. Dalam jiwanya terjadi perselisihan antara dirinya
“Aku sih ya, sebenarnya gak terlalu peduli. Ini adalah keputusan dirimu loh. Kalo aku boleh milih yah... Gimana gak Tuhan Ahad aja yang menentukan”
“Jadi, maksudmu adalah... Apa yang aku mau, dikembalikan lagi padaNya, begitu?”
“Yah, begitulah”
Terasa cukup sedikit lama, gadis itupun berkata “Jadi, bagaimana? Apakah kamu mau tinggal denganku?”
“Eh, apa siapa?” Jika pun terkejut setelah melamun beberapa saat.
“Ah, haha. Kamu ini, ternyata imut juga kalo sedang terkejut” ujar si gadis sambil tertawa kecil-kecilan.
Seketika Jika berekspresi malu sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Jadi, apa keputusanmu?”
“Ya sudahlah, aku mah. Gimana gak menurut Tuhanku saja jadi,... Aku akan ikut dengan mu” ucap Jika seraya tersenyum.
“Baiklah, kalo begitu. Perkenalkan namaku adalah Puspira Wita, salam kenal yah!” balas si gadis sambil memperkenalkan dirinya, dia mengulurkan tangannya.
__ADS_1
“Yap, salam kenal” Jika pun membalasnya dengan menundukan badan.
“Eh, kok. Dia gak memegang tanganku yah? Tapi, dia mebalasnya dengan menundukan badan. Pria yang menarik” batin Puspita “ Yah.. Kalo begitu, yuk kita pergi kerumahku”
“Tunggu kak puspita, biar aku aja yang membawa air dalam embernya”
Dengan segera Jika langsung mengambilnya yang terbuat dari kayu dan gagang untuk mengangkatnya berupa besi. Perlakuan Jika membuat Puspita tertegun sedikit kagum “Mengapa engkau ingin?” tanya Puspita.
Sambil mententeng ember yang berisi dengan kedua tangannya, Jika menjawab “Bukan apa-apa sih, hanya saja. Aku merasa tidak enak dengan Anda, soalnya kan. Saya akan tinggal untuk beberapa waktu di rumah Anda, yah setidaknya. Aku membantu mu” Jika tersenyum tipis kepadanya.
Puspita pun membalas senyumannya “Baiklah, terserah dirimu saja”
Mereka pun pergi meninggalkan sumur menuju rumah kediaman Puspita.
Saat dalam perjalanan menuju rumah, Jika sempat bertanya kepada Puspita.
“Oh ya kak. Ngomong-omong, kaka di rumah tinggal sendirian?”
Puspita pun menjawabnya sambil ketika telah meliriknya sejenak atas pertanyaannya “Kaka tidak sendiri kok. Kaka tinggal bertiga”
“Bertiga...?”
“Iyah, bertiga. Aku adik ku dan nenek ku”
“Kayaknya bila aku menanyakan orang tuanya gak sopan deh” batin Jika.
“Kalo engkau bertanya tentang kedua orang tuaku, mereka telah meninggal dalam peperangan melawan Hiu Putih”
“Hi, Hiu Putih? Kalo engkau bisa menjelaskan dengan singkat, bisakah engkau ceritakan tentang Hiu Putih”
“Maaf, aku tidak bisa menjelaskannya sekarang. Aku jadi teringat kembali suatu kenangan yang menyakitkan” ucap Puspita yang nada suaranya merendah sambil menundukan kepalanya.
“Eh, apakah aku salah karena menanyai hal itu? Kalo begitu, aku minta maaf”
“Tidak, aku sendiri kok yang menceritakan sedikit tentangnya pada mu. Jadi, kamu gak perlu minta maaf”
“Yah, tapi tetap saja aku merasa bersalah”
“Ya sudah kalau kamu masih merasa bersalah. Nanti kamu bantu aku saja yah”
Perjalanan mereka terhenti, karena Puspita tersenyum berjalan menghadap ke hadapannya membuat Jika sedikit berdecak.
“Juga, kak. Dimana rumah kakak?”
__ADS_1
“Oh iya hampir lupa, itu dia!” tunjuk puspita dengan jari ibunya.