
Akhirnya, mereka telah selesai melakukan "itu" hingga si pemuda sadar tentang dirinya. Ketika dia sedang melakukan "itu"
Dia mendapatkan sebuah gambaran dari suatu nostalgia.
_____
“ Kak, kalau sudah besar aku ingin menikahi mu ” ucap gadis kecil kepada lelaki berumur 10–an tahun.
“ Memang, kenapa engkau ingin menikahi aku? ”
“ Rah–Ha–Si–A ”
Wajah lelaki itu memerah dan berkata “ Terserah dirimu sajalah ” dia tersenyum sambil melihat langit.
“ Janji yah kak! ” senyumnya si gadis sambil mencoba membuat janji.
“ Em, iy. Iya ”
“ Oh iya, misalnya kalau kakak sudah sukses. Jangan lupakan aku yah! ”
“ Hah, kamu ini. Mana mungkin aku melupakan mu, lagi pula mungkin aku tidak akan menjadi orang terpandang lalu melupakan mu ”
_____
“ Apa itu tadi? ”
Di dalam gua yang paling amat dalam, terbaringlah sepasang manusia tidur tampa memakai busana.
“ Si, siapakah wanita yang di sampingku ini? ”
Sejenak dia memikirkan kembali tentang apa yang telah terjadi “ Ah, benar juga. Jika tidak salah aku sudah melakukan "itu" dengan wanita ini ” ujar si pemuda sambil menaruh punggung tangannya di atas dahinya.
Dalam batinnya, ada sedikit keributan antara nafsu dan dirinya yang lain.
“ Bagaimana sobat, nikmat bukan? ” tanya nafsu.
“ Nikmat...? Kau memang benar itu nikmat, tetapi ada benarnya juga kalo itu sementara ” ujar pemuda kepada nafsunya.
“ Sudahlah, lagi pula kau tak perlu menyesali walaupun harus kau sesali. Pun karena kau telah melakukan "itu" kau jadi tahu sesuatu ”
Dirinya yang lain berkata.
“ Sesungguhnya, aku gak tahu harus apa. Mungkin diantara bersyukur atau harus menyesal ”
“ Lalu, apakah namanya? ”
“ Mungkin... Gimana tuhan aja yang membuat hatiku berkata apa ” ujar pemuda kepadanya sambil tersenyum.
Di dalam gua yang amat dalam lagi gelap kecuali hanya beberapa cahaya. Pemuda itu langsung bangun dan segera mengenakan pakaiannya.
“ Kemudian, bagaimana aku memperlakukan wanita ini? ”
Apakah aku akan tinggalkan dia, tidak! Aku haruslah bertanggung jawab
“ Tapi, bagaimana aku bisa keluar dari sini bersamanya ”
Mungkin aku harus membangunkannya
Pemuda itu mencoba membangunkannya dengan menyentuh pipinya. Namun, dia merasa iba karena kasian. Dia pun memutuskan untuk menunggunya, sambil melihat tangannya yang terlihat sudah membaik kembali. Dia kebingungan sampai dalam hatinya berkata
Bukankah kulihat kedua tanganku berdarah?
Aneh...
Setelah dia melihat kedua tangannya yang sembuh layaknya sedia kala. perempuan yang sedang berbaring itu pun bangun “ Aku mohon janganlah engkau pergi ” ucapnya sambil menguapkan mulut dan menutupnya dengan tangannya.
“ Kau sudah bangun? ”
Segera pemuda itu berdiri dan memberikan bajunya kepada perempuan tersebut.
__ADS_1
“ Ini, pakailah. Tidak enak kalau dilihat nanti ”
“ Loh, memang kenapa? Kan kita di sini cuma berduaan aja. Apa kamu masih malu padahal kita sudah berhubungan ”
“ Pakailah saja dahulu ”
“ Ba, baik ”
Perempuan itu pun mengenakan pakaian s pria tersebut “ terimakasih ”
“ Ah iya. Apakah kamu tahu bagaimana aku bisa keluar dari sini? ”
“ Ke, keluar?! Kenapa tiba-tiba? Apakah engkau ingin meninggalkan diriku? ”
Pria itu langsung membungkuk dan berkata “ Tidak, aku tidak akan meninggalkan dirimu. Aku hanya ingin mengajak mu keluar dari sini ”
“ Tapi... Sebenarnya, kita tidak akan bisa keluar dari sini ”
“ Apa?! Kenapa? ”
“ Pertanyaan, apakah sebelum kau masuk ke jurang ini. Sudahkah kamu menemukan seseorang yang suka disebut Pak tua? ”
“ Pak tua...?! Memang kenapa dengan dia? ”
“ Di, dia sebenarnya yang telah membunuh ke–3 temanku ”
“ Apa?! Mem-bunuh? Tapi dia bilang dia tidak bisa keluar dengan alasan yang jelas. Malah-malah dia yang sudah membatu orang yang pernah datang ke pulau terpencil ini ”
“ Ternyata begitu yah, ”
“ Memang maksudmu apa? ”
“ Sebenarnya, mereka itu adalah syarat-syarat agar dia dapat keluar dari pulau ini ”
Pemuda itu menelan ludah.
Slapp
Perkataan perempuan itu terputus, dia tertancap sebuah anak panah.
“ Ap, apa! Kenapa? Apa yang terjadi ”
Menyingkirrr! Nak! Janganlah engkau dengarkan dia! ingatlah bahwa dia bukanlah yang kau cari!
Teriak menggema dari langit dari pria tua
Bumm!
Perempuan itu hampir terkena tebasan dari lelaki paruh baya tersebut, dia menghindar dengan sangat cepatnya menjauh dari padanya.
“ Nak, aku akan katakan padamu. Yang sebenarnya setelah aku telah menghadapi wanita ini ” ucapnya sambil memperhatikan si wanita.
“ Maksud anda apa?! Dan mengapa engkau menyerang dia? ”
“ Mengapa aku menyerang dia...?! Sekarang aku ingin bertanya dahulu sebelum aku menjawab pertanyaanmu ”
Suasana pun berubah menjadi mencekam “ Apakah kamu melakukan itu dengan dia? ”
Wajah pria itu memerah dan dengan malu dia menganggukan kepala.
“ Sudah kuduga kau memang belum mampu mengatasi prihal tersebut ”
“ Lalu, kenapa engkau menyerangnya? ”
“ Apakah kau tidak tahu? Padahal dia sudah menyakiti mu ”
“ Da, dari mana anda tahu? ”
“ Sesungguhnya Tuhan lah yang meberi tahu kepadaku, dan kalo kamu tahu juga. Percaya atau tidaknya dia itu adalah penyihir yang mencoba menangkap pria-pria tampan lalu dia menjadikannya mainan ”
__ADS_1
“ BOHONG! Dia itu Pembohong! Aku mohon janganlah engkau dengarkan dia ”
Perempuan itu berteriak.
“ Nak, sekarang. Dengarkanlah aku, dan abaikan dia saja ”
“ Tapi... Bagaimana... ” ucapan si pria itu terpotong oleh pria paru baya yang tengah memegang tombak dan panah disertai busurnya yang tengah ia punggungkan.
“ Tentang kisahmu dan dia?! Itu hanyalah sebuah ilusi semata. Memangnya engkau pernah kenal dia sebelumnya?! Sadarlah! ”
Tiba-tiba saja perempuan itu menyerang pria tua tersebut dengan dua belati yang tengah dipegang olehnya.
“ Menyingkirlah nak! ”
Dengan segera dia langsung mendorong pria itu dan slapp dia berhasil tertancap oleh salah satu belatinya.
Perempuan itu pun langsung melompat jauh menjaga jarak dengan pria tua tersebut.
“ Ke, kenapa? Kenapa engkau melukai dia?! ” sahut pemuda kepada perempuan.
“ Aku mohon, jangan dengarkan dia. Dia itu hanyalah sorang pembunuh belaka ”
“ Ohok, ohok! ” Pria paruh baya itu terbatuk-batuk sampai mengeluarkan darah.
“ Pak tua! ” seru si pemuda.
“ Tidak papa nak, aku baik-baik saja. ”
Seandainya aku masih muda, mungkin aku lebih cepat menghindarinya Batin si Pak tua.
“ Sayangku! Kemarilah, dia hanya membuai saja agar engkau dapat terpengaruh olehnya! ” sahutnya si perempuan.
“ Bah, haha. Sayang?! perempuan Psikopat itu memanggil dirimu sayang? Hah, lucu sekali ” ucap pak tua dengan nada meledek.
Perempuan itu terlihat geram dan menggererakan giginya.
“ Hai nak, aku punya pertanyaan. Apakah engkau telah menemukan hijabmu? Dan apakah diantara itu adalah nafsu? ”
Dengan tatapan memelas, pria itu menganggukan kepalanya.
“ Dan apakah kamu sudah tahu apa yang kau cari? ”
“ Apa yang ku cari? ”
“ Yah, benar. Pasti diantara hijabmu sudah memberi tahu mu apa yang harus kau cari ”
Sejenak dia mengingat apa perkataan dirinya yang lain “ Tuhanmu lah yang harus kau cari! ”
Dia pun mengingatnya dan akhirnya.
“ Yah, aku sudah mengingatnya ” ujarnya dengan tatapan tajam dan seketika auranya berubah drastis.
“ TIDAKKK! ” pekik si perempuan.
“ Akhhh! ” Pria tua itu mencabut belati yang telah tertancap pada dirinya “ Dan apakah kau sadar bahwa kau telah di tipu olehnya dengan sihir yang sangat nyata? ” ucapnya sambil menunjukan belati yang penuh dengan darah lelaki paruh baya tersebut.
“ TIDAK! JANGAN DENGARKAN DIA! ”
Perempuan itu berteriak mencoba mencegah pemuda tersebut agar bisa kembali kepadanya.
“ Hai nak, sebenarnya. Dialah yang membawa kita kemari! Dan kamu bila ingin bisa keluar dari sini, tidak. Bila engaku ingin menyelamatkan orang-orang yang telah dibunuh olehnya, Habisilah dia ”
sahut pria tua sambil mencoba berdiri tegak.
“ Dan kau tahu, dia memang benar. Mungkin aku adalah pembuai belaka, tapi. Aku membuai untuk menutupi fakta, dan bila engkau tahu pula nak. Keluargaku telah dibunuh olehnya ” Sambungnya.
“ Pak, sebenarnya aku tidak ingin bertarung melawannya. Tapi, diriku yang lain merasa ingin membunuhnya karena telah merebut keperjakaanku, dan telah membuatku semakin jauh dari padaNya ” ucap si pemuda sambil menundukan kepala.
“ Aku tahu sekarang apa yang harus ku lakukan! ”
__ADS_1