
Di sebuah kota yang disebut dengan kota JayaKertas, hiduplah seorang lelaki muda yang berusia 17-an Thn. Asik sibuk bermain SmartPhone–nya di dalam sebuah kamar yang sangat berantakan tidak tertata rapih.
Namanya adalah Jika Hadap seorang lelaki yang sudah putus terhadap kehidupan, baik kehidupan dunia atau pun kehidupan setelahnya. Dahulunya dia orang yang semangat dalam mencapai suatu tujuan tetapi, entah mengapa suatu ketika. Dirinya putus asa, serta di dalam lubuk jiwanya dia sudah tidak mempunyai harapan atau pun tujuan.
Orang tuanya pula sempat menangis karena kelakuannya. Ketika saat pertengahan semester satu, dia mengisi soal ujian dengan sangat cepat namun, semua itu salah dan dia tidak mendapat apapun nilai terbaik kecuali nilai terburuk ketika dia duduk di SMA kelas satu MIA.
“Buat apa sekolah kalau nantinya cuma bikin kebodohan” pikirnya ketika dia sudah merasakan ke-tidak pedulian.
Bahkan, nilai agamanya pun juga hancur berantakan. Dia benar-benar sudah tidak peduli akan dunia atau pun setelahnya.
Pernah suatu hari Jika Hadap ditanyakan surga dan neraka maka dia menjawab “Aku sudah tidak peduli akan hal itu kenapa? Jawabannya mudah sekali. Aku akan memberikan tiga jawaban dari satu pertanyaan dirimu.”
“Pertama, adalah ketika aku masuk kesurga ataupun neraka aku akan senang karena di tempat keduanya aku bisa menyebut nama Tuhanku yang salah satu namanya adalah Ahad”
“Kedua, jika engkau menanyakan keduanya aku akan bersedih karena ketika aku berada di dalamnya. Aku yakin aku tidak akan bertemu Tuhanku yakni, Ahad”
“Dan yang ketiga adalah,.. Aku tidak merasakan senang ataupun sedih yang lebih tepatnya ialah, aku sudah tidak peduli aku masuk ke surga ataupun neraka karena keduanya itu sama saja dan tidak ada bedanya. Jadi, apakah sekarang kau sudah mengerti tentang diriku...? Aku yakin belum! Dan aku sekarang bingun ingin kemana dan aku pula tidak tahu siapa "Aku" maka, janganlah engkau pedulikan aku bila engkau tidak ingin pikiranmu itu terpengaruh olehku”
Begitulah ketika dia memutuskan berhenti sekolah. Jika Hadap sudah merasa tidak betah hidup di dunia. Orang bilang mungkin seperti “Hidup tidak mau mati pun enggan”
Dia sedang merasakan itu tetapi dia tidak takut mati. Alasan dia hidup yang baru Jika Hadap temukan adalah “Aku hidup di dunia tidak memiliki harapan. Aku hidup di dunia pun tidak punya tujuan. Walaupun aku punya keinginan yang sangat tinggi pun itu bukan keinginan diriku”
__ADS_1
Orang tuannya pun sudah hampir tidak– sanggup dan sudah hampir tidak–peduli dengannya. Sampailah ketika salah satu kedua orangtuanya berkata “Kalau kamu ingin terus-menerus begini! Maka kamu harus cari duit sendiri!” perkataan darinya tidaklah Jika Hadap menghiraukannya. Dia berusaha, mengetahui. Bagaimana caranya agar dapat uang sendiri?
Hingga ketika dia mengetahui ada aplikasi yang menawarkan suatu jasa untuk membuat cerita, Jika Hadap mulai membuatnya. Dan akhirnya. Dia berhasil menghasilkan uang sendiri.
Sampailah suatu ketika, saat Jika Hadap pergi keluar rumah untuk membeli suatu barang dengan jaket hijau berhode dan sedikit corak hitam bergaris disisinya juga celana training yang serasi.Yakni membeli Mie Cup serta Potato Chips juga tak lupa Air mineral sebotol tanggung. Di dalam sebuah Mini Market,sempatlah dia membaca sebuah komik yang berjudul "Pahlawan Baru"
“Komik apakah ini?! Mungkin aku bisa membelinya untuk sebagai refrensi pembuatan Novel” ujarnya ketika melihat cover komik tersebut yang masih tersampul plastik sangat rapih “Mungkin, aku akan membelinya. Eh tapi, kok gak ada sampel gratisannya yah?”
Jika pun mencoba mencari sampel komik tersebut namun, nihil dia tidak menemukannya “Baiklah, jikalau begitu. Aku tidak dapat menemukannya mungkin aku harus membelinya.“
Karena rasa penasaranya dia pun mengambilnya dan menyerahkannya langsung ke kasir.
“Tidak, tidak. Terimakasih atas tawarannya, ini saja sudah cukup untuk diriku” balas Jika dengan senyuman yang tipis.
Gadis kasir itu pun langsung memasukan belanjaan Jika kedalam kantong plastik berwarna putih dengan sedikit corak warna biru yang bertulisan "Mini Mart"
“Ini!” Jika juga langsung memberikan uangnya kepada si kasir dan langsung pergi meninggalkan tempat tersebut lalu kembali kerumahanya.
Sesaat sampai dirumah, dia membuka keripik kentang tersebut hingga selesai. Dia langsung meminum air dalam kemasannya, dan suatu hal kebiasaan baginya ketika makan dia tidak minum dengan segera. Jika suka minum ketika makan hanya dalam darurat yakni tersedak.
Satu hal dari Jika Hadap tidak suka adalah dia tidak suka makan minum berdiri, karena. Pahlawannya mengajarkan “Janganlah kalian semua minum berdiri!” serta salah satu dari perkataannya “Aku nabi, aku tidak makan berdiri”
__ADS_1
Dan itu merupakan etika ketika dalam keadaan keduanya yakni makan dan minum. Oh iya, Jika Hadap juga mengikuti kebiasaan pahlawannya. Walaupun tidak semua, dia terkadang suka melakukannya walaupun dia sudah tidak peduli dengan dirinya sendiri.
Hingga ketika dia duduk di atas kasurnya, Jika teringat akan sesuatu saat ingin memegang SmartPhone–nya “Ah, benar juga. Kalau tidak salah aku membeli komik dengan judul yang cukup menarik.”
Dia pun berdiri kembali mengambil barang yang telah dibelinya yang kini tengah ditaruh di atas meja dekat Laptop–nya.
Setelah selesai mengambilnya, Jika hadap langsung berbaring di atas kasurnya dan membuka segel dari komik tersebut. Dan pada saat dia membuka halaman yang pertama dia membaca “Terimakasih telah membeli buku ini, nikmatilah sebagai Pahlawan Baru”
“Aku rasa ini akan menarik” ucapnya sambil membuka beberapa halaman. Dan sampai dia ke halaman prolog, tidaklah dia melihat gambar atau pun tulisan kecuali...“Apa-apaan ini! Mengapa bagian pertama ini kosong?! Apakah aku sedang dibodohi?” Jika Hadap pun langsung kaget terbangun duduk kembali dari kasurnya.
Dia pun mencoba membolak-balikan lembaran-lembaran kertas tersebut, tetapi sangat disayangkan dia tidak mendapatkan sedikitpun kata ataupun gambar “Sial! Mengapa tidak ada? Apakah aku sedang bermimpi?” Sampailah dia berhenti di halaman yang terakhir dan terlihat ada suatu tulisan “Selamat! Kamu dipilih sebagai Pahlawan Baru! Tetapi kamu adalah Pahlawan yang tidak akan dikenal banyak oleh orang-orang kebanyakan”
“Apa! Hanya ini saja?! Mengapa buku setebal ini hanya berisi kertas kosong yang hanya sedikit kata?! ” dia berdecak kesal dan merasa sedikit kecewa “Sudahlah, lagi pula aku sudah tidak peduli dengan harta ataupun uang juga yang serupa”
“Huff, kalo begini. Lebih baik aku tidur saja untuk menghilangkan amarah”
Jika hadap pun langsung tertidur sambil memegang buku komik tersebut. Dia pun mulai menutup matanya dengan segera untuk meredakan kekesalannya.
Sampailah dia terbangun dari tidurnya untuk beberapa jam.
“Di, dimana aku sekarang?”
__ADS_1