Bukanlah Apa-apa

Bukanlah Apa-apa
# Bagian–18 : Serius +An


__ADS_3

Aku,... Siapa aku?


Aku terbangun dari tidur dan kulihat diriku kini tengah berada di sebuah ruangan.


Di manakah ini?


kulihat pula bahwa, tubuhku kini dipenuhi dengan perban.


Tok, tok, tok!


Terdengar suara ketokan pintu dari luar dan muncullah seorang lelaki yang aku kenal tapi,... Siapa yah, dia.


“Aku masuk” ucapnya sambil membuka pintu dan juga membawa semangkuk bubur “Oh, Jik. Kamu udah sadar rupanya, ini makanlah! Mbak Seti ngebuatin bubur untuk mu loh”


Jik...? Ah aku ingat sekarang, aku adalah JikDap atau Jika Hadap yang terhempas di dunia entah di mana. Dan orang yang kuajak bicara adalah kak Jade atau Jadi


“Jik, kau baik-baik saja?” Tanyanya yang memecahkan keheningan.


“Eh, iya. Aku baik-baik saja”


“Oh iya Jik, Ngomong-omong. Nih, saya pengen nanya sesuatu”


“Nanya apaan kak,”


“Soal minggu lalu, dan 2 minggu lalu”


“Ada apakah gerangan?”


“Sebenarnya saya,....” Omongannya terhenti sejenak, dengan berat suara. Dia berbicara lagi “Saya sudah akan menikah”


“Oh,... Begitu rupanya. Ya sudah, selamat yah” ucapku dengan nada datar.


Suasana ruangan pun kembali hening.


“Jik,...”


“Iya *kulan, naha? Aya naon deui?”

__ADS_1


*


Apa, kenapa? Ada apa lagi?


*


“*Sia teu ngajingklak atawa semisal eta” ucapnya serius.


*


Elu gak lompat atau gak kaya yang seperti itu


*


“Memangnya kenapa?”


“Kamu gak bilang kyaaa kaya perempuan kaget ngeliat orang tampan kaya W gitu? Kok ekspresi lu biasa aja kaya orang yang gak bersalah”


“Oh gitu, ya udah kalo maunya kaget kaya begitu” aku mengambil nafas “Kyaaaaa” dengan lembek aku berteriak lemas “Udah kok”


Plakk!


“Kenapa kau tepis?” Sahutnya dengan kesal.


“Kamu gak bilang-bilang dulu pengen nabok aing”


“Nak Jik! Saya pengen nampar sia!”


“Of course silahkan aja!” Ucapku sambil tersenyum tipis.


PLAKKK!


Aku pun tertampar olehnya tepat di jidadku.


“Kenapa engkau menawarkan ku? Salah apakah aku?” Ujarku kebingungan.


“Eh, Jik. Karena mu, aku jadi sangat berterimakasih karena aku bukan lagi perjaka”

__ADS_1


“Toh Bagus dong”


“Bagus Dari mana busyet!” Dia menarik kerah bajuku “Dan mengapa engkau masih tenang-tenang saja hah?!”


“Beneran sumpah, saya tidak mengerti apa yang sedang kau bicarakan. Saya baru saja hilang ingatan dan tiba-tiba dikejutkan dengan orang aneh seperti mu”


“Eh,... Lupa ingatan? Becanda kan?”


“Aku serius pake an”


“Hadeh... kalo begini bisa ribet urusannya mah. Jik, kamu tahu gak kalo kamu punya utang?”


“Tau kok kalau aku punya utang”


“Tuh kan, eh. Apa lu kate? Lu tahu kalau ente punya utang?”


“Iya saya tahu kok, dari ketika Anda mendapatkan jodoh dadakan dari pemilik warung dadakan dan nikahnya pula yang nanti dadakan, saya tahu kok”


“Lah kata lu, bukannya ente ilang ingatan?”


“Bapa gak dengerin saya yah? Toh, saya udah bilang kalo saya "Baru saja hilang ingatan" Jadi, hilangnya itu baru. Kalo ingatannya mah udah lama, jadilah "Baru hilang Ingatan" ”


“Argghhh, owe bingung. Lebih baik owe mati aja dah!”


“Jangan maz, kasian. Orang tua udah cape-cape ngurusin Anda, masa pengen cepet-cepet mati sih,”


Di ruangan ini pun semakin berisik.


“Aku rindu bertemu dengan Dia, aku sudah muak hidup di dunia. Aku tak tahu lagi harus apa”


Tiba-tiba saja Jade menjadi putus asa.


“Nee kak, kan kalo kamu gak ada. Saya mungkin pula bakalan gak terselamatkan. Lagi pula kau akan menikah kan? Jadi, terimakasih”


Terlihat dari wajahnya yang mulai menangis, dia pun langsung melompat memeluk jasad ini.


“Jika Hadap!”

__ADS_1


Tamat.


__ADS_2