
Jika Hadap seketika terkejut! Dia terbangun dari tidurnya dan sontak langsung terduduk diam setelah membuka matanya yang kian sadar dia melihat bulan biru cerah disertai langitnya yang dipenuhi banyak bintang.
“Mengapa aku bisa di sini?! Bukankah tadi aku sedang tidur di atas kasurku yang empuk? Dan mengapa sekarang aku berada di tengah lapang rumput hijau yang nan luas? Apakah aku sedang bermimpi?” batinnya dalam hati yang kini telah dilanda keganjilan.
Jika Hadap mencoba berdiri memeriksa dirinya itu hanyalah bermimpi dan tampa sadar dia tengah memegang buku yang berisi sedikit kata “Tunggu, bukankah ini... ” Dia pun tersadar ketika dia melihat dirinya memegang buku tersebut.
“Tidak, tidak. Aku yakin ini pasti cuman mimpi” ujarnya dengan rawut wajah yang masam. Jika Hadap pun memulai memeriksa dirinya dengan mencubit pipinya dengan kuku.
“Awww” dia mencubit dirinya dengan cukup bertenaga “Ternyata sakit tapi, tunggu. Mungkin karena aku yang mencubit jadi aku sendiri yang merasakan sakit.Bagaimana jika orang lain” ucapnya yang merasa masih belum percaya akan keberadaanya.
Jika Hadap memalingkan wajahnya kepada buku yang ganjil tersebut “Mengapa buku ini masih terbawa mimpi olehku? Aku penasaran apakah ini akan berisi bila ku buka?”
Rasa penasaran Jika Hadap muncul lagi, dan saat dia membuka halaman pertama masih sama seperti sebelumnya yakni ucapan terimakasih “Ok, ok. Masih sama seperti sebelumnya. Bagaimana bila aku membuka halaman selanjutnya dengan perlahan”
Jika pun memutuskan membuka halaman buku tersebut dengan perlahan, dan ketika sampai di prolog. Tulisannya masih kosong akan tetapi...
“ Ternyata masih kosong, tapi kok aku merasa aneh dengan buku ini yah”
Saat dia memperhatikan isi dalam buku tersebut muncul lah sebuah kata “Tunggu! Apa ini?! Mengapa tiba-tiba muncul beberapa kata lagi?”
Perlahan kata-kata itu tersusun menjadi sebuah cerita “Ternyata ini bukanlah komik, melainkan sebuah Novel yang unik dan ini sangat aneh sekali” ucap Jika Hadap yang tertuju pada tulisan, dia pun mulai membaca.
Di sebuah malam yang sangat sunyi dan sepi, hiduplah seorang lelaki muda yang terbaring lagi kebingungan, dia menyangka bahwa dirinya bermimpi padahal. Ini bukanlah mimpi...
“Tunggu, sudah selesai?! Mengapa bikin penasaran saja. Mana kelanjutannya tapi, tunggu dulu. I, Ini kan. Bukankah cerita ini... ”
Jika Hadap mulai berfikir tentang isi dalam cerita tersebut. Dia mencoba memastikan bahwa dia bukanlah salah satu tokoh dalamnya
“Bukankah ini seperti diriku yang ketika terbangun...?!” ujar Jika Hadap sambil memegang dagunya.
__ADS_1
“Eh, muncul lagi!” Jika Hadap dikejutkan lagi dengan buku tersebut, dia melihat tulisan itu berlanjut yang isinya kemudian dia baca yang berisi...
Jika Hadap namanya, kini dia mulai sadar bahwa dirinya itu sedang berada di dalam sebuah cerita. Bagaimanakah kisah selanjutnya...?
“Sudah kuduga, ternyata aku berada di dalam buku ini. Tapi, mengapa aku berada di dalamnya. Padahal kan diriku masih memegang buku ini?!” kembali sejenak berfikir lalu menyimpulkan “Mungkin, ini adalah suatu kisah yang mana setelah aku menyadarinya, tulisan dalam buku ini muncul. Tapi, apakah ini ada ending–nya?”
Jika Hadap mengantungi bukunya dan berfikir lagi “Pasti. Aku yakin pasti ada endingnya, karena di dalam buku tersebut mempunyai batas dari kertas akhir, dan yang terakhir bertulisan...” Jika mulai mengingat tulisan tersebut “ Jika tidak salah adalah "Pahlawan Baru" juga "tidak terkenal" Baik, aku akan menyimpulkan kemungkinan aku adalah pahlawan yang telah disebutkan olehnya, dan yang satunya lagi mungkin. Aku akan mengalami kesulitan karena aku tidaklah terkenal”
Selesai menyimpulkan dia terduduk kembali di atas rumput hijau di bawah sinar rembulan biru yang terang dan indah.
“Mungkin, aku harus mencoba melakukan penelitian dengan buku ini. Aku rasa bila aku melakukan beberapa tindakan yang khusus, maka akan terulis pula beberapa kata” ujarnya.
“ Baik, karena ini malam. Aku ingin tahu bagaiman bila aku tidur lagi” Jika Hadap langsung meregangkan tubuhnya dan berbaring tidur, dia menaruh kepala diatas kedua telapak tangannya.
Saat dia sudah pulas tertidur, buku yang telah dikantonginya bercahaya. membuat katong tersebut bersinar terang hingga menerangi tempat tersebut, tetapi. Jika tetap tertidur pulas tidak terganggu olehnya.
Pagi telah tiba, Jika Hadap terbangun di waktu shubuh. Dengan segera dia mencoba mencari air untuk melakukan penyucian diri, sebelum dirinya melaksanakan ritual shubuh.
“Segala puji bagi Ahad!” ucap Jika dengan rasa syukur karena dia telah menemukan suatu perkampungan dan dia melihat pula sumur yang kini sudah tak jauh dari pandangannya.
Saat dia sampai di dekat sumur, terlihat seorang gadis muda dengan rambut pendek berwarna merah terang. Sedang menimba air di sumur.
“Seorang gadis...? Berambut merah? Dunia ini memang benar aneh”
Saat Jika telah sampai di samping sumur, wanita itu terdiam dan mulai memperhatikan dirinya “Anu... Anda ini siapa yah. Firasatku,...Apakah Anda orang baru di sini?” ujar gadis berambut merah.
“Tidak, aku hanya seorang pejalan kaki yang sekarang butuh air. Bila engkau sudah selesai, bisakah Anda menyerahkannya padaku?” pinta Jika.
Gadis itu tersenyum lalu berkata “Baiklah tuan pejalan kaki”
__ADS_1
Setelah selesai menimba sumur, gadis itu langsung berucap “Silahkan tuan!”
“Terimakasih” balas Jika.
Ketika Jika sedang menimba air, sempat dia bertanya kepada gadis tersebut “Oh iya, kak. Kalau saya boleh tanya, ini dimana?”
Ketika gadis itu hendak pergi, dia terhentikan dan menjawab “Eh, kamu gak tahu. Yah memang wajar sih” batin si gadis.
Jika pun selesai mengambil air dan ditaruhnya di atas bebatuan sumur sambil menunggu jawaban darinya “Kak, apakah kamu tahu di mana ini?”
“Eh, iy. Iya, maksudku ehem.” dia sedikit terkejut lalu mulai menjelaskan “Seperti yang kau lihat disini adalah sebuah desa kecil yang bernama "Desa Rumput Hijau" karena di sini desa kami, dikelilingi oleh padang yang luas dengan permukaan yang asri.”
Saat gadis itu menjelaskan, Jika melakukan penyucian dengan air yang telah dia dapatkan.
“Wehh! Bukankah kamu minta menjelaskan tempat ini? Mengapa kau sibuk sendiri?” ucap gadis seraya geram.
“Iya, iya. Aku udah denger kok ini di mana. Lagi pula sekarang, aku sudah tidak punya waktu lagi.” balas Jika yang telah melakukan penyucian.
“Tidak punya waktu lagi...? Maksud Anda?”
“Ngomong-omong, arah barat itu di mana yah?”
“Eh! Barat? Di, di sana!” unjuk gadis itu ke arah yang berlawanan dari papasan Jika dengannya.
“Terimakasih yah”
“Sama-sama, tunggu dulu. Engkau ingin kemana lagi?”
“Ahadu Akbar”
__ADS_1
“Eh, apa yang dia sedang lakukan?” batin si gadis.
Jika Hadap pun melakukan ibadahnya.