Bukanlah Apa-apa

Bukanlah Apa-apa
# Bagian–4 : Tampa Harapan


__ADS_3

Puspita menunjuk rumahnya dengan jempol miliknya.


“Ayo, ikut aku” ajak Puspita.


saat keduanya mulai melangkah lebih dekat ke tempat kediamannya, Jika seketika merasakan suatu hawa yang sangat janggal.


Tunggu, apa yang tengah kurasakan ini?!


Jika pun disadarkan ketika buku Novel ajaib yang dikantonginya itu terlihat bersinar.


Eh, kenapa ini begini?


Selanjutnya, Puspita mengarah ke belakang dan sedikit terkejut “Jika, kantongmu... Bersinar!”


Dengan segera dia langsung menurunkan kedua embernya dan langsung mengambil buku dari kantongnya. Saat setelahnya, Jika langsung membuka buku tersebut dan saat dibuka munculah tulisan.


Saat Jika Hadap di ajak oleh Gadis, dan saat sudah sampai di kediamannya. Tiba-tiba saja atmosfer berguncang sangat kuat


“Apa?!” batin jika.


Tempat itu pun berguncang, Puspita pun terkejut “ Apa yang sedang terjadi?!”


Jika Hadap pun mulai bersiaga, matanya teralihkan pada Puspita dan kembali lagi pada buku tersebut hingga...


Tertulislah lagi lanjutan darinya.


Pertanda guncangan yang semakin kuat itu adalah pertanda yang sangat ganjil, ini mungkin akan menjadi sesuatu yang menyulitkan bagi dirinya. Dia mungkin akan datang untuk mengambil "apa" darinya


“Tunggu, siapa itu Dia? dan apa itu yang dimaksud "apa" ” Jika membatin.


Raughhh!!!!


Suara teriakan seperti hewan muncul, suara itu terdengar membuat para warga desa keluar seluruhnya. Mereka beratnya-tanya "mengapa" hampir serentak atas kejadian.


Dan saat Jika memalingkan wajahnya lagi ke Puspita, dia kini telah tiada dihadapanya. Jika tidak terlalu mempedulikannya, pandangannya kini penasaran atas suara yang bergema mengerikan “Suara apa itu tadi”


“Semuanya! MASUK KEDALAM RUMAH!!!” teriak salah satu warga memerintahkan untuk kembali ke dalam. Mereka semua pun masuk kedalamnya.


“Apa yang sebenarnya tengah terjadi?!”

__ADS_1


Bump! Bump! Bump!


Guncangan pada tempat itu semakin kuat, saking kuatnya membuat Jika Hadap terlompat kecil-kecilan.


Dan, muncullah suatu mahluk raksasa berwarna hitam kecokelatan berkepala tiga dengan ekor berujung yang bentuknya segitiga.


“Bukan kah ini... ” gumam Jika Hadap.


Kepala tiga itu menyerupai anjing liar yang ganas dan ia terlihat seperti makhluk mitoligi Yunani bernama...


“Kerberos. Mahluk ini... Yang bisa menyemburkan api”



Raughhhh!


Makhluk itu melolong, membuat suara yang sangat mengerilan.


Fuuuushhhh


Kemudian setelanya, dia menyemburkan api dari mulutnya mulai membakar desa tersebut.


Jika Hadap hanya melihat kejadian tersebut, dia tidak mampu berbuat apa-apa hingga. Bersinar teranglah buku yang dipegang olehnya membuat dia melihat kembali kedalam buku.


Jika Hadap merasa ketakutan, tetapi rasa takut itu seketika hilang bagai debu di atas batu yang tertimpa hujan yang deras. Batu itu menjadi licin! Tampa panjang pikir, Jika Hadap memulai petualangannya dengan tangan kosong


“Begitu ya” gumamnya sambil tersenyum sinis “Aku mengerti sekarang!”


Jika Hadap yang sebelumnya terpaku diam, kini dia semakin mendekat kepada Kerberos tersebut.


“Woy! Anjing gila! Mengapa engkau membakar desa ini! Apakah engkau sedang lapar? Kalo kamu berani kejar aku!” Sahut Jika Hadap kepadanya.


Anjing itupun teralihkan pandangannya kepada Jika Hadap, wajah besar itu mendekati dirinya. Dia mendenguskan nafasnya melalui hidungnya, seraya menatap tajam Jika Hadap lalu tersenyum sinis. Dia berkata melalui pikiran Jika Hadap.


“Manusia?!... ”


“Eh, dia bisa bicara toh” gumam Jika Hadap.


“Tentu saja bodoh! Aku ini bukan anjing biasa pada umumnya”

__ADS_1


“Bagaimana dia...”


“Kenapa? Takut?”


“Siapa yang takut dasar anjing!”


“Tidak perlu basa-basi, sekarang. Cepat serahkan kitab itu!”


“Apa, ki. Kitab...?!”


_______


“Tidak perlu basa-basi, sekarang. Cepat serahkan kitab itu!”


“Apa, ki. Kitab...?!” gumam Jika Hadap.


“Ya... benar, kitab yang ada dalam kantong bajumu manusia”


“Oh... Maksudmu yang ini?!” Ujar Jika Hadap sambil mengambil buku tersebut.


“Itu dia! Dari mana kau dapatkan itu?!”


“Dari mini market”


“Apa?! Apa itu mini market?”


“Memangnya, kamu benar benar menginginkan buku ini?”


“Itu tidak penting bagimu!”


“Oke, oke. Kalo begitu, saya akan kasih buku ini tapi...”


Anjing tersebut menunggu jawabannya “Kita pergi dulu ketempat yang lain, dan... Bisakah kamu memperbaiki ini?”


“Baik, akan aku lakukan”


Atmosfer tersebut pun berubah, sesuatu yang berputar seperti sinar ungu meluap dari tanah. Itu merupakan salah satu kekuatan yang dimiliki oleh Kerberos.


Sampailah mereka kesuatu tempat yang mana banyaknya lahar panas membuat tempat tersebut berhawa sangat panas.

__ADS_1


“Baik, sekarang. Berikan kitab yang kau pegang itu”


__ADS_2