
Aku sampai di sebuah lembah yang mana penuh dengan pepohonan.
Dimana lagi ini?
Aku pun berjalan langkah-per langkah dengan perlahan-lahan.
Krek
Si, siapa di sana!
Bulu kudukku berdiri ketika mendengarkan suara yang misterius seperti dahan pohon yang patah.
←_←)
(→_→
Aku celingak–celinguk memerhatikan keadaan.
Dan tidaklah tidak ada cuma hanya tumbuh-tumbuhan. Aku pun memajukan langkahku, hingga. Sampailah di suatu rawa yang mana banyak sekali tumbuh-tumbuhan air di sertai beberapa serangga dan katak yang bersuara.
Apakah yang aneh di sini?
Belumlah aku merasakan sesuatupun kacuali hawa yang biasa saja.
Kalo aku kembali... Tapi kemana agar aku bisa kembali?
Setelah aku bergumam, Dari rawa muncul lah sebuah gelembung-gelembung yang meletup-letup.
Kulihat sesuatu yang aneh mulai muncul darinya. Dan kemudian, Kabut tebal yang entah dari mana muncul dengan perlahan namun cepat menutupi pandangan.
Duh, lagi-lagi ini lagi
Tidaklah aku melihat apapun kecuali...Putih dan tebalnya.
Blup, Blup, Blup,... Casshh
Aku mendengar suara yang tak lain adalah letupan.
Apapun itu, tetaplah tenang
Aku mulai memegang Trisulaku lalu...
Kemana Tisulaku...?! Di mana dia?
Kini aku hanya diam bergeming dan pasrah mengikuti alur.
Slaapp!
Ap, apa ini!?
Aku merasakan leherku tertancap sesuatu dan ku coba mencabutnya, dan kulihat ia seperti...
Ini....
Bukk
_________
Aku membuka mataku dan kurasakan tubuhku masih melemas dan aku merasakan setengah sadar.
Di, ma–na Ak–U
Saat mataku melihat dengan sepenuhnya, aku sudah berada di atas ranjang putih juga kulihat bahwa aku sudah berada di dalam kamar dengan celah-celahnya adalah kayu seperti...
Apakah aku ada di dalam pohon?
Saat ku coba untuk duduk darinya, nampak sesorang gadis berambut kuning emas dan pakaiannya yang mana terbuat seperti dari daun-daunan, telinganya pun panjang dibanding kan manusia pada umumnya.
Elf kah?
Aku menyangka bahwa dia itu seperti makhluk yang langka yang mampu hidup bertahun-tahun lamanya.
Dia menghampiri ku.
“ Si, siapa kamu? ”
Gadis elf itu semakin mendekat dan kini telah tengah duduk di atas ranjang hingga aku berkata “ Mau ap... ”
“ Shuuttt, kamu cukup diam dan tenang saja. Aku di sini hanya untukmu ”
Perkataanku terpenggal dan ia menutup mulutku dengan telunjuknya.
Dia makin mendekat!
“ Berbaringlah dengan tenang ”
Aku kembali berbaring dan dibaringkan olehnya, dia mulai membuka bajuku dengan perlahan.
“ Apa yang... ”
Ucapanku dihentikan oleh telunjuknya yang lembut di bibir.
__ADS_1
“ Tataplah aku ” katanya dengan pandangan yang serius hingga aku menelan ludah.
Glek
Pandangannya membuat diriku terhipnotis, dirinya semakin mendekat termasuk wajahnya. Kami saling berpapasan sangat dekat.
Kulihat wajahnya memerah merona kemudian berkata “ Aku akan mencicipi mu dan membuat mu merasakan kepuasan ”
“ Mak–Sud, maksudmu? ”
“ Maksudku adalah ”
Belumlah selesai dia bebicara dia langsung mencium bibirku dengan sangat ganasnya.
Aku pun terkejut hingga dia melepaskan bibirnya sementara.
Aku mulai terbawa suasana.
“ Aku akan melanjutkannya, kamu tenang saja ”
Aku pun mengikuti perkataanya dan aku terbawa nafsu dan dia mulai menyerang ku kembali dan kurasa energiku sudah bangkit.
“ Wah, ternyata kamu itu besar dan kuat dari apa yang aku kira ”
Kami melakukannya hingga lama entah sudah berapa lama sekarang kami melakukan itu.
______
Hosh, hosh, hosh.
Aku terbangun dari tidurku dan kurasakan diriku mendapatkan sesuatu yang....
Nikmat.
Mimpi apa aku barusan? Mengapa aku melakukan itu? Rasanya yang itu seperti lucidDream
Nafasku tersengal-sengal karena telah melakukan itu dengan seorang Elf yang menggoda.
Fiuh, hampir saja. Tapi tunggu!? Dimana lagi aku?
Aku melihat atmosfer ini yang rupanya adalah suatu lembah yang tadi.
Trisulaku!
Saat ku raba-raba di atas bumi untuk mencarinya, tidaklah ku dapatkan ia.
Tapi, bila ku tutup mataku, ku dapat melihatnya.
Untuk suatu pandangan yang logis memanglah tidak bisa dipercaya jika aku menjangkaunya ketika menutup mata.
Aku pun berusaha meraihnya lalu berhasil.
Kemudian ku buka mataku maka tersentuhlah Trisulaku.
Sungguh aneh, apakah aku bisa menaruhnya lagi didalam?
Ku-coba melakukan kejadian itu untuk yang kedua kalinya dan akhirnya...
Aku berhasil
Aku membuka mata kembali dan bertanya
Tadi itu... Tempat apa yah?
Sejenak untuk befikir dan kemudian melupakannya.
Toh biarkan saja, lagi pula ada untungnya kalo bisa nyimpen bareng di dalam sana
Setelah beberapa lama aku di sini aku teringatkan akan sebuah perkataan seorang anak yang telah menghilang dihadapanku sebelumnya.
Ah, benar juga. Untuk apa ya aku berada di sini?
Aku beratanya lagi kepada yang maha mendengar. Apakah yang akan terjadi bila aku tidur lagi?
Setelah itu aku berbaring rebahan dan menutup mata mencoba untuk tidur.
Srek, srek, srek.
Apa itu...?!
Aku kembali bangkit dengan duduk, mendengar suara semak-semak yang terdengar aneh.
Siapa disana? Cepat keluar!
Saat aku meneriakinya, tidaklah ada sesuatupun yang keluar.
Apa cuma perasaanku saja ya?
Ketika aku telah berdiri lagi, aku mulai merasakan hawa yang mencekam.
Kok aku merasa merinding ya?
__ADS_1
Dan kutengok kebelakang
Srasss
Apa...
Aku tak dapat berbicara, pernapasanku mulai dihentikan. Makhluk aneh yang dipenuhi dengan tumbuh–tumbuhan danau dan adapun tubuh dan tangannya menyerupai pohon, Mencekik diriku yang sudah terperangkap.
Dengan segera aku menutup mata untuk mengambil Trisulaku.
Apa!? Dimana dia?
Trisula menghilang!? Dan aku mulai kehabisan nafas.
Apakah ini akhir hidupku?
Dan aku tak bisa bangkit lagi...
“ Kak! Sadarlah kak! ”
Aku mendengar suara anak kecil.
“ Bangunlah! Kau belumlah mati! ”
Apa!
Aku membuka mata kembali dan kulihat cicin yang melingkar di jari manis bersinar terang hingga membuat diriku lepas dari cekikannya.
“ Tutup matamu dan ambil lah Terisulamu ”
Dengan segera namun tenang aku menutup mata dan kuperiksa ternyata ada! Dengan cepat ku ambil Terisulaku lalu kembali dan menyerang mahkluk tersebut.
“ Jangan serang dia! ”
“ Baik aku tidak akan... Lah ”
Seranganku terhentikan karena ucapannya yang tak diduga-duga.
“ Lalu sebab apa aku mengambil ini? ”
“ Lihat di atas! ”
Saat pandanganku teralihkan ke atas, aku melihat sebuah...
Kepala Naga
Dia menatap ku dan aku juga menatapnya.
Duh,
Aku tersentak terpaku melihat dia dan tak mampu diriku bebuat apa-apa.
Happp!
Aku dilahap hidup-hidup.
_________
Aku masih merasakan diriku hidup dan ini sungguh ajaib.
Yaks, bau jigong naga. Apakah dia tak pernah sikat gigi?
Disini sangatlah gelap, dan berbau seperti amis.
“ Aku sudah bilang, engkau tidak mati ”
Cicin tadi bercahaya dan berbicara
“ Cincin, mengapa engkau bisa berbicara? ”
“ Apa kau sudah lupa sebelumnya? ”
“ Apa kau anak kecil yang tertusuk itu? ”
“ Sudahlah, sekarang tujuanmu adalah ”
Aku menunggu jawabannya.
“ Tidak ada tujuan ”
“ Apa maksudmu? ”
“ Ikutilah saja nalurimu nanti juga akan tahu ”
Aku pun mencoba mengikutinya.
Aku berjalan lurus ke depan dan terlihat suatu seperti Gua tetapi bukanlah itu.
Aku yakin ini adalah tenggorokan si naga. Apakah aku akan terjun?
Dengan keberanian yang kupunya, aku langsung melompat darinya.
__ADS_1
Aku rasa aku akan mengalami suatu perkara yang pernah terjadi lagi