
“Dari mana kau...” Ucapan Puspita terpotong oleh sebuah hantaman yang sangat mengelegar membahana mengalahkan suara para Pedangdut Indonesia.
“Apa itu?!” ucap Puspita serentak dengan Jika Hadap.
“Apakah kau penasaran dengan suara yang jatuh itu? Aku lihat dari sini ada asap yang tebal keluar dari tanah” tanya Puspita kepada Jika Hadap.
“Apakah engkau ingin kesana?”
Puspita mengangkat alisnya seraya berkata “Mungkin, tapi karena aku penasaran. Aku akan kesana. Kau juga akan pergi?”
Balas Jika Hadap dengan mengangukan kepala “Aku ikut”
Kemudian keduanya langsung pergi untuk menginvetigasi kejadian dengan sangat rinci dan sangat tajam setajam Silet.
Setelah mereka sampai ketempat kejadian, muncullah seorang lelaki muda berusia 20-an Thn, mencoba tegak berdiri sambil terbatuk-batuk.
“Di, dimana ini...” ujarnya sambil mencoba membuka mata.
“Luar biasa”
“Apakah Anda baik-baik saja?” tanya Puspita yang langsung menghampiri dirinya.
“Aku?”
Kemudian Jika Hadap menyusul dan bertanya lagi “Nee-san apakah baik-baik saja?”
Pemuda itu tersenyum dan menjawab “Cobakan tanya saja pada... Rumput yang bergoyang”
__ADS_1
“Woahh Eibiet G ade ya? Tahunan berapa Anda muncul?” tanya Jika Hadap yang berdecak kagum.
“Tahun 78–an saya masih hidup, dan saya sekarang berumur 20-an lebih”
“Lalu, adek dari tahun berapa?” sambungnya.
“2020-an”
“Apa! 2020?!” Pemuda itu tersentak kaget “Lalu ini dimana?”
“Jika Ananda bertaya, maka coba memohon maaflah kepada ibu yang satu ini...”
Pemuda itu pun bertanya kepadanya “Di manakah ini?”
“Ini, Ini adalah desa Rumput Hijau”
“Ohh, begitu. Terimakasih ya, neng”
“Oh ya! Ne-san. Siapakah nama Anda?” Ujar Jika Hadap sambil mengacungkan tangan.
“Namaku?... Apakah kau mau tahu namaku?”
“Tentu saja! Karena kami penasaran maka kami gak mau tahu nama Anda!” ujar Jika bersemangat dengan mata yang berbinar-binar.
Perasaanku ada yang aneh... Ah masa sih, mungkin ini cuma firasatku saja
Gumam Puspita Wita.
__ADS_1
Pemuda itu mengangukan kepala dan terkejut “Eh, Apa! Gak mau tau? Memangnya kenapa”
“Karena bila saya lihat, Anda adalah artis terkenal papan bawah dikalangan orang-orang miskin...” ujar Jika sambil berpuisi seperti puitis.
“Dari mana Anda tahu!”
“Dari lubuk hatimu yang terdalam mengingatkan Ku Pada–Nya yang Maha Berkuasa”
“Mmm, begitu yah. Baiklah, karena Anda telah berhasil membuat saya berdecak kagum maka. Saya akan memberi tahu nama saya”
ujarnya sambil membungkuk kan badan “Nama saya adalah Jadi, saya berasal dari desa yang "Entah Dimana" Dan saya baru saja jatuh dari langit tampa terluka sedikit pun dengan seizin Tuhan”
“Dan... Siapakah nama Anda berdua?”
“Saya adalah...” Lagi, ucapan Puspita terpotong karena sesuatu yakni,...
“Tidak semudah itu Jadi, karena kami masih merasa curiga dengan Anda, maka. Anda harus memenuhi syarat saya ini” elak Jika Hadap sambil bergaya ala pahlawan satria Garuda.
Jadi pun tersenyum sinis, dia menatap tajam dan menyetujuinya “Baiklah, apa pun itu. Aku akan turuti perintahmu asal jangan suruh aku pergi haji karena aku belum mampu”
“Tidak masalah, tidaklah berat bagi Anda sobat. Kamu cuma perlu,...”
“Thawaf 7× di tempat kau jatuh lalu memperbaiki apa yang telah kau perbuat” sambungnya dengan nada tinggi.
“Hanya itu saja?”
Jika Hadap mengangukan kepala.
__ADS_1
“Baiklah kalau begitu, aku mungkin bisa melakukannya”
Jadi pun lagsung melaksanakan perintahnya dan kemudian memperbaiki dengan kekuatan yang Entah Dimana.