Bukanlah Apa-apa

Bukanlah Apa-apa
# Bagian–8 : Kembali Formal


__ADS_3

Pagi yang kini masih kian cerah, burung-burung yang terbang melayang di atas udara. Dan kepakannya merupakan suatu tanda wujud pemujaan kepada Sang Maha Kuasa.


“Oh, jadi. Anda datang kesini karena suatu kertas tua yang bisa mengabulkan keinginan?” Ucap Jika Hadap kepada Jadi.


“Yah,... Begitulah. Sampai sekarang aku bingung kenapa aku bisa berada di dunia ini”


“Tapi, memangnya. Keinginan Anda itu apa tuan” tanya Puspita.


“Keinginan saya? Kalo gak salah sih, saya mau mencoba menjadi pengelana” balasnya “Oh iya Kalo gak salah, kamu bilang sebelumnya kamu juga dari dunia yang sepertiku kan? Tapi, kalo diukur waktu. Bagiku adalah kamu itu dari masa depanku dan aku adalah masa depanmu” sambungnya.


“Yah,... Aku mengerti sih apa yang telah kau pikirkan. Tapi, masalahku masuk ke dunia ini berbeda dengan masalahmu” ucap Jika Hadap sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


“Dan... Satu hal lagi, siapakah Gadis yang ikut bersama mu?”


“Saya?” ucap Puspita kebingungan sambil menunjuk dirinya. Dan keduanya menjawab dengan tatapan “Saya adalah Puspita Wita, salam kenal semua” tutupnya dengan menundukan kepala.


“Oh iya, Jika. Aku ingin bertanya satu hal pada mu” sambung Puspita kepada Jika Hadap.


“Ada apa?”


“Dari mana Anda tahu nama saya?”


“Aku juga sebenarnya tidak tahu pasti kenapa aku bisa tahu nama Anda. Kecuali...” Ucapnya yang terhenti karena dia melihat sesuatu yang samar-samar dalam pikirannya.


“Jika, apakah ada sesuatu yang mengganjal dalam pikiranmu?” Jadi bertanya.


“Tunggu sebentar, sepertinya. Aku ingat akan sesuatu” ujar Jika sambil memegang kepalanya yang terasa baginya mulai sakit.


“Jika! Apakah kau baik-baik saja?!” Jadi mulai khawatir karena Jika Hadap yang terlihat mulai kesakitan.


“Argghh”


Dia sedang menahan rasa sakit yang ada di dalam kepalanya membuat keduanya kaget dan merasa khawatir “Jika!” ucap keduanya serentak.


“Ke–Pa–LaKu!....WaaAAhhhHH”


“Jika! Engkau kenapa?! Sadarlah” ucap Jadi yang mengoncangkan tubuhnya berharap bisa cepat sadar.


“Jadi! Menjauhlah darinya, dia. Dia bukanlah Jika Hadap”


“Apa maksudmu?!”


“Kita jaga jarak dengannya dahulu!”


Jadi pun menuruti perkataanya dan mereka pun menjaga jarak dari Jika Hadap yang tengah merintih kesakitan.


“wwWaaaAAAAAHhhhHHHH”

__ADS_1


Tiba-tiba saja, aura energi jiwa berwarna ungu keluar dari tubuhnya dan kemudian Jika Hadap membuat angin yang mendorong keras mundur dari padanya.


“Apa-apaan ini? Kenapa dia menjadi seperti ini?” Jadi terkejut setelah melihat Jika Hadap yang kini mempunyai aura membunuh.


“Wita! Apa kau tahu yang terjadi saat ini?”


“Aku tidak tahu pasti... Tapi,... ”


“Tapi apa?! Cepat! Beri tahu aku! Mungkin Tuhan akan memberiku petunjuk”


“Jika tidak salah, dia kini telah dirasuki oleh...”


KERBEROS!


“Apa?! Maaf aku tak bisa mendengar karena angin yang dibuat olehnya sangatlah kencang dan berutal!”


“Kerberos! Dia adalah makhluk anjing berkepala tiga yang mampu mengeluarkan api dari masing-masing mulutnya. Sepertinya Jika tengah dirasuki oleh sebagian jiwa jahatnya”


“Aku tidak mengerti pasti apa yang kau katakan tadi, tapi yang intinya adalah. Pergi atau mati!”


“Apa maksudmu mati?!”


“Maksudku adalah...”


Jadi mulai pergi lebih dekat berhadapan dengan Jika yang sedang kerasukan.


“Aku tidak punya apa-apa! dan aku tidak peduli aku berbuat apa! Mungkin Dia telah memberikan sedikit dariNya agar aku bisa untuk berbuat apa!”


“Aku tidak mengerti apa yang kau maksud!”


Jadi pun berhasil mendekati Jika dengan lebih dekat, terlihat bahwa matanya berubah menjadi merah polos dengan mimik yang penuh amarah.


“Jika!” sahut Jadi.


Kini, Jadi berhasil menembus angin topan yang dibuat oleh Jika Hadap. Dia berhasil berpapasan dengannya dan langsung memegang kepalanya dengan erat-erat.


“Jika! Ingatlah bahwa...”


Jadi pun mendekatkan suaranya sampai telinganya.


“ArggggghhhhHHHH”


Dia pun makin kesakitan karena bisikan yang tersampaikan dari Jadi.


“Sadarlah! Hiaaaaaaatttt!” Teriak Jadi serentak dengan teriakan Jika.


“Keluarlah!”

__ADS_1


Jadi pun menarik sesuatu dari kepala Jika, dia menarik jiwa membunuhnya yang berwarna keunguan dengan satu tangannya sambil berucap keras “Illahul Akbar” yang berarti. (Tuhanlah yang Maha Besar)


Jadi pun melepaskan Jika dan terus berusaha menarik apa yang harus dia tarik.


“Puspita! Ambilah sesuatu botol atau semisal dengannya!” Perintah Jadi kepada Puspita.


“Hebat” Puspita tertegun berdecak kagum.


“Puspita!”


“Ba, baik!”


Dengan segera dia pergi mencari apa yang dipinta olehnya.


Jadi pun langsung menarik lebih kuat hingga apa yang di dalam Jika menghilang lalu digenggam oleh tangan Jadi.


“Uhh, panas! Panasss!” ucapnya sambil menahan kesakitan.


“Jadi! Ini aku sudah mendapatkannya”


“Bukalah tutupnya”


Jadi pun langsung berlari dan memasukan apa yang digenggam olehnya kedalam sebuah botol kulit yang dibawa oleh Puspita.


“Ya PembimbingKu! Demi Mu aku melakukan ini!”


Dengan segera Jadi langsung memasukan apa yang telah digenggamnya kedalam botol tersebut. Setelah Jadi merasa semuanya telah benar-benar masuk, dia langsung menutup botol tersebut.


“Tutupnya” ucap Jadi sambil terengah-engah “Fiuhhh... Akhirnya”


Jadi langsung berbaring lelah menghadap ke atas awan “Terimakasih Tuhan-Ku”


“Jadi, apa yang sebenarnya yang telah kau lakukan?”


“Nanti saja lagi, aku masih lelah. Mungkin setelah pulih aku akan menjelaskannya”


Puspita hanya menatapnya sambil menaikan kedua bahunya.


“Puspita, bisa kau rawat bocah itu?”


“Baiklah,....Eh tunggu”


Kenapa aku mengikuti perintahnya ya?


Batin Puspita.


Ah, biarlah. Aku tidak terlalu mempedulikannya

__ADS_1


Puspita pun menghampiri Jika Hadap.


__ADS_2