
Saat Puspita telah berada di samping Jika Hadap, dia terbangun dari ke tidak sadarannya. Saat dia membuka mata dia melihat sesosok wanita berambut merah pekat dihadapannya.
“Dimana aku...”
“Kau sudah bangun?” tanya Puspita.
“Siapa engkau?”
“Teman barumu kawan”
“Ooh”
“Cuman oh doang?”
“Memang Anda ingin aku seperti apa?”
“Biasanya lelaki yang ada di atas paha perempuan bakal malu-malu dan terkejut”
“Ooh....”
“Cuman O doang? Gak ada yang lain?” ucap Puspita dengan nada sedikit kesal.
“Ya sudah”
Dia pun bangun dari pangkuannya lalu berdiri dan berujar polos pelan “Kyaaaa”
“Sudah gak usah dipaksakan” ujar Puspita dengan wajah yang tersenyum masam.
“Siapa Anda?”
Seketika Jika menghampiri Jadi yang tengah berbaring kelelahan.
“Oh, itu Jadi. Yang telah menolong mu” jawab Puspita.
“Maaf, saya tidak bertanya dengan Anda. Saya bertanya dengan Pria yang satu ini”
“Terserah deh,...”
Jika pun mencoba membangunkan Jadi dengan menggunakan ujung batang kayu yang baru saja dia temukan.
“Woy, oy. Bangun, ayo kak bangun”
Berkali-kali dia mencoba tapi sayang dia tidak bangun akibat kelelahan yang sangat.
“Eh, kamu yang di sana” sahut Jika kepada Puspita.
“Aye punya nama makhluk”
“Siapa?”
“Puspita”
“Yang nanya”
Puspita pun kesal dan langsung menghajar Jika Hadap tepat di pipi kirinya dengan amat kuat.
__ADS_1
“Kamu tadi nanya ****** fir'aun! Jangan bikin aye kesel apa. Mood aye lagi gak enak gegara You”
Jika bangkit kembali setelah sudah lama dipukul “Kapan terakhir kali aku dipukul ya?”
“Kak Pus! Kamu itu penyembuh kan? Coba sembuhin ni orang”
“Ehh, dari mana Anda tahu?”
“Dari mana saya tahu? Eh Idiot! Lu kan yang punya kemampuan begitu bukanya ngasih tenaga ni orang malah-malah diem wae”
“Ma, maaf!” Ucap Puspita sambil menundukan kepala.
“Eee. Malahan minta maaf, itu Pasien sedang menunggu”
“Ba, baik!”
Puspita pun menghampiri Jika yang masih berbaring kelelahan, dan. Pada saat dia ingin menggunakan skill–nya malah-malah Jadi bangun dan menahan tangannya.
“Sudah, tidak perlu dan terimakasih”
“Eh?!”
“Aku sudah baikan kok Pus” ucap Jadi seraya senyum tipis.
“Tapi...”
Jadi pun berdiri “Jika! Apakah kau baik-baik saja?” sahut Jadi.
“Eh, kenapa? Oh. Iya, aku baik kok” jawab Jika.
“Ya, benar. Kenapa?”
“Mengapa engkau memasukannya?”
“Kenapa yah, saya juga gak tahu”
“Saya serius”
“Biar dia gak pindah ke dalam hatimu”
Bukk
Jadi pun langsung terkena pukulan tangan Puspita “Aye lagi gak bercanda dasar bujank!”
Kembali bangun lagi, Jadi mulai berbicara tentang yang telah dilakukan olehnya.
“Ehem, baik. Biar dia gak kabur...”
“Segitu aja?”
Jadi hanya menganggukan kepalanya
“Simpel amet”
“Mau yang lebih jelas?”
__ADS_1
“Mana?!”
“Tapi sayang waktuku sudah habis dadah”
“Eh, apa?! Tu, tunggu!”
Jadi langsung pergi meninggalkan keduanya.
“Dasar aneh....Oh iya, kemana Jika?”
Saat Puspita ingin melihat Jika Hadap, seketika saja dia sudah menghilang dari pandangan.
“Eh, kok. Gak ada, tadi kan...”
Di suatu jalan menuju perkotaan, Jika Hadap sedang berjalan menuju tempat tersebut. Saat di dalam perjalanannya, dia bertemu kembali dengan Jadi.
“Yo bocah, kenapa engkau meninggalkan kami berdua?”
“Eh, siapa Anda”
“Gua serius bego”
“Kak Jadi?”
“Yap, dan sekarang. Ingin pergi kemana Anda”
“Gak tahu ingin kemana, yang penting aku berjalan saja bagai air yang terus mengalir walau nantinya bakalan kering”
“Begitu, yah... Oh, bagaimana kita menuju kota saja dan buka usaha di sana” sahut Jadi sambil merangkul Jika.
“....Terserah dirimu sih, tapi. Kalo aku pikir-pikir lagi, itu bukan hal yang buruk” balas Jika tersenyum tipis.
“Yosh, kalau begitu ayo kita lanjutkan perjalanan ini”
Mereka pun berjalan menuju kota.
Sementara di sebuah istana.
_______
“Wahai cermin ajaib! Siapakah lelaki tertampan di negeri ini?”
“Tentu saja Anda tuan”
“Sudah kuduga”
“Eh, ralat! Sekarang lelaki ini yang paling tampan di negeri ini”
“Apa?!”
Cermin ajaib tersebut memberikan dua pejalan kaki yang sedang menuju kota dan terlihatlah orang tampan yang dimaksud oleh cermin tersebut, dan dia adalah....
_______
“Hacuuu” Jadi yang seketika bersin “Jik, kayanya ada yang ngomongin saya dah”
__ADS_1
Jika hanya melirik dirinya saja.