
Di dalam gua yang cukup gelap, hiduplah seorang lelaki paruh baya yang kini sedang merawat seorang pria muda yang telah terdampar.
Dengan mata serius namun tenang, pria tua itu memperhatikannya dengan rasa prihatin “ Hai, nak. Apakah engkau sedang tersesat? ”
Sejenak dia berkata kepadanya yang masih terbaring tak berdaya. Kemudian pergi keluar gua untuk mengambil beberapa makanan yang murni dari suatu pulau terpencil.
“ Mungkin aku harus menyiapkan santapan untuknya, lagi pula. Menghormati tamu adalah suatu prioritas penting di luar sana ”
gumamnya.
Pria tua itu pun keluar dan mencari ikan serta beberapa batu bara, guna untuk membakarnya. Tak lupa pula, dia berniat mengambil beberapa buah yang tersedia di pulau itu.
Tak kala ketika dia sedang sibuk mencari mereka, si pemuda itu pun mulai sadar. Dan saat-saat ingin sadar, sempatlah ia bermimpi tentang suatu mimpi yang cukup buruk.
“ Siapa tuhan–Mu? ”
“ Aku belum mengenal-Nya ”
Ketika di dalam mimpinya, dia ditanya oleh sesosok berjubah lagi menyeramkan memegang cambuk berpaku tajam.
Dan ketika dia menjawabnya.
PLAKK
Dalam mimpinya, dia sedang di cambuk olehnya hingga berkali-kali. Dia pun mengigau kesakitan meminta berhenti dalam kenyataan.
“ Siapa junjungan–Mu? ”
“ Aku tidak tahu ”
PLAKK
Dia pun dicambuk berkali-kali lagi dikarenakan jawabannya yang tak mampu dia menjawabnya dengan tepat.
“ Berhentiii! ”
Sontak saja karena cambukan yang ketiga secara otomatis dia tebangun dari tidurnya, nafasnya terengah-engah hingga keringat bercucuran pada wajahnya.
“ Mimpi apa aku? Dan apa yang terjadi denganku? Dan juga... Tempat apa ini?! ”
Dia pun mencoba mengingat-ingat kejadian yang telah berlalu, merasakan sakit kepala karena berusaha mengingatnya dan akhirnya dia berhasil mengingatnya.
“ Aku ingat sekarang! Tapi, bukankah aku tenggelam dan kehabisan nafas? ”
Sejenak memikirkan tentang itu, dia pun langsung tersungkur bersujud syukur kepada Tuhannya “ Hu, hu, hu. Aku berterima kasih pada–Mu, karena Mu. Aku mungkin tidaklah akan bisa hidup lagi ”
Dia menagis tersedu-sedu, hingga datanglah pria tua yang membawa tiga ikan yang tertancap oleh tombak berujung batu tajam yang telah diasah dan se-ikat buah pisang.
“ Mengapa dia menangis? ” gumamnya.
Karena dia telah selesai dengan pekerjaannya, dia pun menghampiri si pemuda itu.
“ Nak, sekarang. Coba ceritakan apa yang telah terjadi ”
__ADS_1
Si pemuda berhenti menangis walaupun masih terisak-isak. Kemudia, dia menceritakan tentang kejadiannya.
“ Jadi begitu yah, aku paham apa maksudmu, dan apa yang sedang kau cari ” dia berkata kepada si pemuda.
“ Memangnya apa yang harus ku cari? ”
“ Jika kau ingin tahu, mari kita makan dahulu untuk membuat diri merasa sedikit senang ”
Pemuda itu pun setuju dengannya, dan mereka mulai membakar ikan yang telah di dapatkan olehnya.
“ Hai nak, bisakah kamu membantu ku? aku lupa mengambil batu bara untuk membuat api ”
Pemuda itu mengangguk dan pergi keluar gua untuk mencari batu tersebut. Ketika dia telah sampai di luar, dia bingung “ Di manakah aku bisa mendapatkannya? ”
Dia pun pergi menuju tepi pantai yang tak jauh dari pada gua tersebut.
Angin berhembus kencang, gelombang laut yang sangat tenang. Burung-burung lautan yang bernyanyi serta membentangkan sayapnya.
Dengarkanlah!
Dia kini tengah duduk meratapi tentang "siapa" dirinya ini “ Siapakah sebenarnya diriku? Apakah aku si saudagar yang kaya-raya atau... Si miskin yang tengah kebingungan? ”
Dalam lamunanya, dia menatap awan yang berjalan sangat tenang. Langit senja yang berwarna kemerahan, merupakan suatu tanda kebesaran sang Pencipta yang maha kuasa.
“ Seandainya aku mati, apa yang akan terjadi nanti? ” gumamnya.
Dorr, Pria tua itu menepuk bahunya yang membuat dirinya sedikit terkejut. “ Jangan melamun melulu, nanti kesambet saya juga yang repot loh ”
“ Saya gak lagi melamun kok, saya cuman merenung tentang siapa saya yang sebenarnya ”
Pria tua itu tersenyun lebar, dan terlihatlah beberapa gigi emas dan omopong yang terlihat darinya.
“ Sudahlah, mari kita kembali lagi kedalam gua. Kamu belum makan kan? ”
Pemuda lansung bangun dan pergi kembali bersamanya. Dan saat di dalam gua, mereka mulai memakan ikannya terlebih dahulu.
“ Semoga Tuhan meberkahi makanan kita ” ucap pria tua sebelum memakan dan kemudian diikuti oleh si pemuda.
“ semoga Tuhan memberkahi makanan kita ”
Mereka pun memakan ikan tersebut dan saat dalam pertengahan makan. Pemuda bertanya kepada pria tua “ Kalo boleh tahu, bagaimana dan kenapa Anda bisa di sini? ”
“ Oh iya, siapa juga nama Anda ”
Dia menjawab “ Kalau bagaimana, aku terhampar dari suatu kecelakaan pesawat. Kalau kenapa, itu adalah karena kuasa Tuhan ”
“ Dan jika engkau menayai nama, pangil lah aku pak tua saja, sebab aku telah hilang ingatan mengenai siapa namaku ” sambungnya.
“ Kecelakaan...!? Bisakah engkau perjelaskan lagi? ”
“ Dasar anak muda, aku sudah bilang aku hilang ingatan. Aku hanya ingat bahwa aku terhempas ke lautan yang luas hingga aku sampai terbawa ke sini ”
“ Apakah Anda tidak ingin kembali ke daratan? ”
__ADS_1
“ Daratan...? Maksudmu, seperti semacam kota begitu ”
Si pemuda mengangguk.
“ Kalau kamu bertanya begitu, sebenarnya aku lebih suka disini dibanding aku pergi dari sini ”
“ Memangnya kenapa? ”
“ Tidak ada alasan yang bagus, hanya saja aku sudah mencoba berkali-kali untuk pergi namun tidak bisa. Mungkin, aku disuruh untuk menjaga pulau ini ”
“ Maksud Anda? ”
“ Kau tahu, percaya atau tidaknya. Engkau adalah orang yang ke–tiga yang ku jamu di pulau terpencil ini ”
“ Berarti, sebelum diriku. Sudah pernah ada orang yang terdampar disini? ”
Pria tua menganggukan kepalanya “ Dan mereka sudah berhasil kembali ketempat yang mereka ingin ” katanya.
“ Dari mana Anda tahu? ”
“ Aku hanya menebak sebab mereka tidak pernah datang kemari lagi ”
Mereka pun melanjutkan memakan ikannya hingga habis dan hanya tersisa tulangnya.
“ Ini! Cuci mulutmu dulu ” ujar pak tua sambil menyodorkan sebuah pisang yang tergantung pada tangannya.
“ Terimakasih ^_^ ”
Di dalam gua yang kini telah cukup terang dan hangat sebab api unggun yang telah menyala, dan cobalah dengar betapa merdunya suara api yang berbunyi kretek, kretek. Dan juga beberapa serangga yang berbunyi ngingg.
Dengarkanlah!
Hingga, bertanyalah si pemuda untuk mengisi keheningan.
“ Pak tua, ngomong-omong. Dari mana engkau bisa menyalakan api ini? Sedangkan aku tidak mengambil apa yang telah kau suruh padaku? ”
“ Oh itu yah, sebenarnya. Tampa batu bara juga bisa, aku menggunkan kayu dan menggeseknya dengan kayu pula, memangnya... Apakah kamu mendapatkannya? ”
“ Karena saya baru disini, yah... Saya gak tahu harus kemana saya mengambilnya, toh Pak tua juga lihat saya malah-malah di tepi pantai ”
“ Kau benar juga yah, hehehe ”
Pak tua tertawa kecil-kecil.
“ Oh ya Pak, bukankah engkau ingin memberi tahu kepadaku apa masalahku yang telah ku ceritakan sebelumnya? ”
“ Eh, apa? Saya sepertinya lupa apa yang telah kau ceritakan sebelumnya ”
“ Apa Anda sedang bercanda? ”
“ Tentu saja bocah, aku sedang bosan belakangan ini ”
Si pemuda mengembungkan pipinya “ Huff, Anda ini. Bagaimana sih ”
__ADS_1
“ Baiklah, sekarang. Aku akan mejelaskannya bersama Dia ”
“ Dia...?! Siapa Dia? ”