
"Sekarang aku harus fokus dengan lagu yang sedang aku buat, untuk hari ini aku tidak ingin memikirkan siapapun kecuali lirik lagu yang sudah terarsip di otakku."
Ya. Hari itu Marco sama sekali tak memikirkan siapapun. Marco hanya terfokus pada lirik lagu yang sedang ia tulis.
Hingga malam tiba, Marco akhirnya menyelesaikan pekerjaannya walau dirinya hanya bekerja dirumah.
"Halo Al, kita bisa ketemu malam ini?"
"Halo Mar, bisa-bisa lo dateng ke rumah gue ya, gue lagi bakar sosis ama daging nih di atap, Oh iya jangan lupa bawa Bir ya Mar."
"Oke gue otw Al."
Marco bersiap-siap pergi menuju rumah Alby, Marco memakai celana pendek longgar berwarna hitam yang pendeknya hanya selutut dan kaos hitam bertangan panjang.
Marco masuk ke dalam mobilnya dan menyalakan mesin, namun ketika Marco akan pergi di tengah jalan mobilnya di hadang oleh Catty.
Berhenti!!!!
Catty berteriak sembari merentangkan tanganya. Marco pun dengan cepat menginjak rem dan berhenti.
Astaga Catty! Wanita ini benar-benar!
Ketika Marco menghentikan mobilnya, Catty langsung berlari menghampiri mobil Marco dan masuk ke dalam mobil Marco.
"Marco! Kamu mau kemana aku ikut!"
"Catty, cepat keluar! Aku tak ingin membawamu! Keluar!"
"Engga! Aku ngga mau Marco, aku ikut!"
Dan tiba-tiba Catty menundukan tubuhnya, ketika Marco melihat ke arah luar ternyata pria yang mengawal Catty tadi pagi tengah berlarian kesana kemari mencari Catty.
"Oh apa dia sedang mencarimu, apa pengawal barumu itu sedang mencarimu atau kalian sedang bermain petak umpet?"
"Cepat pergi dari sini! Aku ingin ikut bermain denganmu Marco, aku risih dia terus mengikutiku."
Marco tiba-tiba membuka kaca mobilnya dan mencoba berteriak pada pengawal Catty jika Catty ada di dalam mobilnya. Namun Catty Malah menarik tangan Marco sehingga Marco ikutan menunduk dan akhirnya wajah mereka saling bersentuhan karena saking dekatnya.
Mata Marco terbelalak setelah melihat wajah Catty lagi dengan jarak yang begitu dekat.
Marco dengan cepat menjauhkan wajahnya dari Catty, dan langsung menginjak gas.
"Dari tadi ke, kenapa kamu baru mentancap gas sekarang? Apa harus aku menciummu dulu agar kamu bergerak." Cetus Catty sembari duduk di samping kursi kemudi Marco.
"Jaga ucapanmu mana mau aku mencium wanita aneh."
"Lagian kenapa hidupmu itu sangat aneh Catty, sampai-sampai kamu punya pengawal. Memangnya kamu Princess apa?"
__ADS_1
"Ya, seharusnya begitu... Aku harus jadi seorang princess tapi aku rasa itu tidak mungkin."
Marco seketika menghentikan mobilnya untuk membeli beberapa Bir.
"Kamu tunggu disini dan jangan banyak bertingkah aku ingin membeli beberap Bir." Kata Marco dengan tegas pada Catty.
"...Eung Baiklah."
Setelah Marco membeli beberapa Bir, Marco kembali ke mobil dan pergi menuju rumah Alby bersama dengan Catty.
Ketika mereka tiba di rumah Alby yang cukup besar dan mewah. Marco terus menasehati Catty agar menjaga sikapnya ketika berada di rumah orang lain.
"Catty, ini rumah Alby dan ingat jangan banyak bertingkah dan tetap di sampingku. Jangan bertingkah seperi tarzan paham!"
"... iya Marco!"
Marco pun masuk membawa banyak Bir dan berjalan bersama dengan Catty masuk ke dalam rumah Alby.
Alby! Gue datang!
Marco! Naiklah ke atap!
Marco naik ke atap bersama dengan Catty untuk menemui Alby dan terlihat Alby tengah memanggang banyak sosis dan daging.
"Wah... Baunya enak sekali! Marco apa kita akan makan daging?" tanya Catty kegirangan.
"Marco! Dia siapa? Kenapa lo ajak wanita aneh kesini?"
Alby benar-benar terkejut karena melihat penampilan Catty yang tampak seperti wanita aneh.
"Apa maksudmu Al, dia Catty, dia memang selalu berpenampilan seperti ini. Rambut panjang dan berpajama. Walau memang hari ini sangat aneh soalnya dia pakai pajama berwarna hitam."
"Jadi dia Catty, wanita yang ada di sampul majalah itu, Kenapa berbeda?"
"Al cukup, jaga ucapanmu."
Tiba-tiba Catty menjadi murung dan menjauh dari Marco dan Alby.
Catty berjalan ke sudut atap rumah Alby yang cukup luas.
"Mar, kayanya dia sedih gara-gara gue bilang dia cewe aneh, lo bujuk gih sana! bilang sama dia gue orang baik ko, gue cuman bercanda."
"Mangkanya jaga ucapan lo Al, Cewe itu hatinya lembut mereka gampang nangis."
"Iya maafin gue....Udah lo samperin dia sana Mar biar gue yang panggang dagingnya."
Marco berjalan mendekati Catty yang sedari tadi terdiam menatap langit malam.
__ADS_1
Ekhem..
Marco berdehem sembari mendekati Catty.
"Kamu marah sama Alby? Gara-gara ucapan dia. Kenapa kamu marah, padahal setiap kali aku bertemu denganmu aku selalu mengatakan kata-kata itu dan kamu tak marah tapi kenapa sangat sensitif sekarang?"
"Kata siapa aku marah padanya. Aku hanya rindu dengan teman-temanku, dulu kami selalu membakar daging di atap asrama saat berjuang bersama menjadi seorang model. Tapi sekarang aku sudah tidak bisa melakukan itu lagi."
"Jadi kamu tak marah pada Alby, ini pakai handphoneku."
Tiba-tiba Marco memberikan Handphonenya pada Catty.
"Hoh, untuk apa?"
"Hubungi teman-temanmu, katanya kamu merindukan mereka."
Catty tiba-tiba tersenyum lebar. Tapi hanya sebentar, tiba-tiba wajah Catty berubah jadi murung lagi.
"Ini ambil saja handphonemu Marco, lagi pula aku tak ingat nomer mereka. Bahkan mereka pun pasti sampai sekarang masih membenciku. Jadi lebih baik kita makan daging saja. Ayo! Aku lapar!"
Catty memberikan handphone Marco kembali pada Marco dan berjalan ke arah Alby. Namun Marco menahan tangan Catty.
"Catty... Kemari aku ingin bertanya serius padamu. Kenapa kamu mengatakan orang-orang membencimu, apa yang terjadi di masalalu padamu?"
Catty malah terdiam dan menatap tajam Marco, Catty sama sekali tak menjelaskan apa yang terjadi denganya.
"Lalu pengawal itu, adikmu, terutama Bibi Meeza dan Yuri tolong beritahu aku ada apa dengan mereka semua?"
"Bagaimana kamu tahu nama anak perempuanya Bibi Meeza itu Yuri?"
"Aku mengetahuinya sejak kalian ada di Party Jaeden."
"Oh..., aku tak bisa memberitahumu Marco semuanya sangatlah rumit. Hidupku sangat rumit. Yang harus kamu tahu hanyalah, aku seperti hidup di neraka tapi saat bersamamu Marco, aku merasa di surga. Walau suasana neraka selalu terasa di setiap detiknya."
"Jika kamu merasa hidup di neraka, kenapa kamu tak melarikan diri dari sana?"
"Aku sudah mengatakannya aku tak bisa melakukannya semudah itu. Aku berlari bersamamu hanya untuk menghilangkan sedikit rasa jenuhku. Setelah ini aku harus kembali pulang ke rumah itu lagi."
Marco! Catty! Daging sudah siap kemarilah!
"Wahh sudah matang boleh aku mencicipinya sedikit saja."
Catty berlari bahagia menghampiri Alby sedangkan Marco hanya menatap Catty yang berlari menghampiri Alby.
"Sebenarnya dia itu seperti apa si kadang bad mood dan kadang good mood. Memang benar dia itu wanita aneh."
...Bantu like komen dan vote ya...
__ADS_1
...Terima kasih.❄...