Butterfly Hug

Butterfly Hug
CHAPTER 25


__ADS_3

Setelah Marco yakin Hana sudah benar-benar pulang ke rumahnya, Marco langsung kembali ke dalam rumah lalu mengunci pintu depan rumahnya.


Marco berlari ke lantai dua untuk menemui Catty yang tengah berganti pakaian.


Tok! Tok! Tok!


Marco mengetuk pintu kamarnya untuk memastikan Catty sudah selesai berganti pakaian atau belum.


"Marco! Masuklah, aku sudah berganti pakaian."


Ketika Marco masuk ke dalam terlihat Catty tengah duduk di atas kasur Marco dengan mengenakan pakaian milik Marco.


"Marco, apa tadi itu Hana?"


"Ya, Kenapa?"


"Apa kamu tidak memberitahu dia jika aku ada disini?"


"Tidak, jika aku memberitahu dia kamu ada disini situasi akan memburuk untukku. Oh iya apa kamu lapar?"


"Ya... Sedikit lapar, aku ingin makan nasi."


"Hana membawa banyak makanan ayo kita turun ke bawah dan makan."


"Tapi Marco... Kamu pasti akan lelah terus menggendongku, lebih baik bawa saja makanan itu kesini."


Tanpa berkata-kata Marco turun ke bawah untuk mengambil makananya.


Setelah itu Marco dan Catty makan bersama. Mereka makan makanan yang diberi oleh Hana. Hari masih siang tapi awan mendung sudah menutupi cahaya matahari.


"Ya ampun langit gelap sekali, apakah badai akan datang hari ini?" kata Catty sembari menatap ke arah luar jendela kamar Marco.


Dan benar saja badai tiba-tiba datang, hujan deras beserta angin kencang benar-benar datang siang itu.


"Catty! Kenapa kamu terus mendekati jendela itu, awas minggir! Aku akan menutupnya badai besar benar-benar datang siang ini."


Marco menutup jendela kamarnya setelah tahu sedari tadi Catty terus menatap ke arah luar.


Marco tiba-tiba duduk diatas kasur, mendekati Catty yang tengah duduk di kasur juga.


"Catty... Sekarang kamu harus jelaskan semuanya, apa yang terjadi denganmu."

__ADS_1


"Apa aku harus menceritakannya dari awal?"


"Tentu! Aku ingin tahu semua masalahmu dari awal, mulai dari siapa kamu, siapa bibi meeza kenapa mereka melakukan hal buruk padamu. Aku ingin tahu semuanya, aku juga ingin tahu alasan kenapa kamu tidak pernah lari dari mereka."


"Baiklah Marco, sebelumnya aku tak pernah menceritakan ini kepada siapapun, karena aku tak percaya pada orang-orang. Tapi entah kenapa tanpa alasan aku benar-benar ingin memberitahu segalanya padamu."


"Kalo begitu cepat katakan semuanya."


Flashback


Catty Ruth. Dulunya dia seorang model yang sangat populer di kalangan orang-orang yang menyukai fashion. Catty benar-benar berusaha untuk mendapatkan posisi itu, hingga dirinya sekolah di asrama khusus seniman untuk berlatih menjadi seorang model, bersama dengan beberapa temannya. Itulah kenapa Catty terkadang merindukan teman asramanya.


Setelah sekolah tiga tahun dan tinggal di asrama, akhirnya Catty debut menjadi seorang model disalah satu perusahaan bersama dengan beberapa temannya.


Perusahaan itu bernama AM ENTERTAINMENT (Art Modeling) dimana perusahaan itu mendebutkan banyak model.


Saat pertama Catty masuk ke perusahaan itu, Catty benar-benar yang paling menonjol, ya karena wajahnya yang cantik, proporsi tubuhnya yang indah dan sangat ahli dalam melakukan pose di depan kamera, walau dirinya baru saja debut menjadi seorang model.


Catty semakin populer dan banyak yang ingin menjadikannya brand ambasador untuk produk-produk barang mewah. Tapi... Kesuksesannya itu membuat dirinya dalam bahaya.


Suatu hari setelah lamanya Catty bekerja dan berjuang untuk menjadi seorang model, Catty akhirnya mempunyai waktu luang. Dan waktu luang itu Catty ambil untuk menemui keluarganya. Karena biasanya Catty hanya berkomunikasi melalui telepon.


Tok! Tok! Tok!


Catty mengetuk pintu rumahnya sembari memanggil nama sang adik yang bernama Niko.


"Kakak!"


Catty yang melihat adik laki-lakinya sudah mulai tumbuh menjadi seorang remaja, langsung memelukknya begitu erat.


"Astaga aku merindukanmu Niko."


"Oh iya, kemana ayah dan ibu Niko? Apa mereka belum pulang dari pekerjaanya, aku sudah bilang pada mereka jangan bekerja lagi biar aku saja yang bekerja mereka harus fokus jaga kamu Niko." Ucap Catty sembari masuk ke dalam rumah, ya rumah yang cukup besar karena Catty baru membelinya untuk orang tua dan adiknya.


"Tidak, mereka sudah tidak bekerja lagi ko kak, mereka sedang berkunjung ke rumah Bibi Meeza."


"Oh bibi Meeza, tapi kenapa mereka yang harus berkunjung kesana bukan bibi Meeza yang datang kesini? Mereka kan sudah tau aku akan datang hari ini."


"Entahlah kak, biarkan saja mereka, pasti mereka akan segera pulang."


Setelah beberapa jam Catty pulang, malam pun datang.

__ADS_1


Sudah larut malam tapi kedua orang tua Catty belum juga pulang, Catty dan Niko khawatir kepada kedua orang tuanya karena mereka benar-benar tak mengangkat telepon.


"Kak aku khawatir dengan ayah dan ibu, biasanya mereka selalu mengangkat telepon, kenapa hari ini nomernya tidak aktif." Kata Niko dengan tatapan yang penuh ke khawatiran pada Catty.


"Niko, apa kamu ingat rumah bibi Meeza? Apa rumah bibi Meeza masih sama dengan rumah yang dulu?" tanya Catty sembari memegang pundak Niko.


"Ya, karena bibi Meeza adalah kakak dari ibu, aku masih ingat rumah bibi Meeza. Aku tahu arah jalannya, aku pernah kesana bersama dengan ibu dan ayah."


"Baiklah hari ini, lebih baik kita yang datang kesana, temui mereka."


Malamnya Catty dan Niko pergi ke rumah Bibi Meeza untuk menemui kedua orang tuanya. Catty yang mengemudi mobilnya dan Niko duduk di sampingnya.


Setelah perjalanan hampir memakan waktu satu jam akhirnya Catty dan Niko tiba di rumah Bibi Meeza. Rumah Bibi Meeza amat sangat sederahana berbeda dengan rumah milik Catty. Yang sekarang cukup besar.


"Niko, sudah lama aku tak berkunjung ke rumah Bibi Meeza, sekarang pasti mereka tengah sibuk makan malam tanpa kita. Ayo kita temui mereka." Ajak Catty pada Niko.


Mereka berdua berjalan menuju rumah Bibi Meeza dengan membawa beberapa bingkisan.


Tok! Tok! Tok!


Bibi Meeza! Ini Catty dan Niko!


Sahut Catty sembari mengetuk-ngetuk pintu rumah Bibi Meeza. Namun sama sekali tak ada yang menyahut dari dalam.


"Kak, sepertinya mereka pergi, lihat mobil ayah tak ada disini." kata Niko curiga karena mobil Ayahnya tak terparkir di halaman rumah Bibi Meeza.


"Benarkah? Lalu sandal itu. Itu sandal ibu Niko, kakak ingat. Kakak memberikannya pada  hari ulang tahun ibu."


Catty tetap yakin pasti ayah dan ibunya ada didalam, Catty pun tiba-tiba memegang gagang pintu rumah Bibi Meeza dan membukanya perlahan.


"Permisi... Bibi Meeza." panggil Catty sembari masuk ke dalam rumah Bibi Meeza.


Catty masuk bersama Niko, namun ketika Catty  melihat ke arah ruang makan sesuatu mengejutkan Catty.


Hingga bingkisan yang Catty bawa terjatuh semua ke lantai.


Bruk!!!


"Kak, kakak kenapa? Semua bingkisannya jadi ru... sak... Ayah! Ibu!"


...Bantu like komen dan vote ya...

__ADS_1


...Terima kasih.❄...


__ADS_2