
"Gue tau dari Hana, udah beberapa hari ini Hana tiba-tiba hubungin gue dan pengen ketemu gue."
"Nah baguskan Al, sekarang lo bisa deketin Hana. Lo suka sama diakan!"
"Gue tau Mar, tapi... Hana kayanya emang suka sama lo, setiap kali kita berdua ketemu dia selalu bahas Lo bukan hal lain, dan itu sedikit... Ah lo tau kan, sedih."
"Sorry Al, tapi gue udah tau semuanya, gue tau Hana suka sama gue, tapi gue sama sekali ga ada rasa sama Hana, gue sayang sama Hana cuman sebagai sahabat. Lo tenang aja Al gue sama sekali ga ada perasaan sama Hana."
Alby tersenyum pada Marco sembari menganggukan kepalanya.
"Terus kenapa lo bisa berantem sama Hana? Apa bener Catty itu tinggal dirumah lo sekarang?"
"Ya. Catty tinggal dirumah gue sekarang... Dia dalam bahaya gue ga bisa lepasin dia. Dan karena itu Hana marah sama gue, Hana cemburu."
"Lo suka sama Catty Mar?"
Saat Alby menanyakan hal itu, Marco malah terdiam dan tak menjawab pertanyaannya.
"Oke kalo lo ga mau jawab, gue tau ko lo pasti ada rasa sama dia, cuman lo ga tahu apa yang harus lo ungkapin."
****
Selama berhari-hari kehidupan terus berjalan dengan lancar tak ada masalah apapun selama 5 hari ke depan. Walau Hana masih saja merajuk pada Marco dan jarang bertemu dengan Marco, kini Hana sangat dekat dengan Alby. Walau begitu terkadang Marco merindukan Hana sahabatnya.
Catty masih tinggal di rumah Marco, Bibi Meeza dan keluarganya belum tahu pasti jika Catty ada di rumah Marco.
Terkadang Marco dan Catty selalu berbagai cerita satu sama lain, sehingga mereka terasa dekat. Setelah lima hari berlalu Catty tinggal di rumah Marco, tiba-tiba sedikit demi sedikit masalah terjadi di rumah Marco.
Malam itu setelah Marco usai bekerja, Marco pulang tepat pukul sepuluh Malam, tak seperti biasanya yang terkadang pulang tepat pukul delapan malam.
Saat Marco tiba didepan rumahnya, Marco curiga dengan gerbang rumah yang terbuka lebar. Sekarang Marco selalu menguncinya karena khawatir seseorang masuk dan menemukan Catty di rumahnya.
Marco begitu khawatir dengan Catty, akhirnya Marco berlari masuk ke dalam rumah setelah memarkirkan mobil di garasinya.
Saat Marco membuka pintu depan, pintunya tak terkunci.
"Astaga kenapa Catty membuka pintunya." Gumam Marco terkejut setelah tahu pintu rumahnya juga tak terkunci.
__ADS_1
Marco tak berteriak menyauti nama Catty, karena Marco takut Bibi Meeza dan keluargnya mendengar.
Marco langsung berlari ke lantai dua menuju kamarnya, yang sekarang di tempati oleh Catty.
Saat Marco masuk, Catty tengah menangis sembari melakukan butterfly hug di sudut kasur.
"Catty! Apa yang terjadi! Kenapa kamu membuka gerbangnya! Kenapa kamu membuka pintunya! Aku sudah bilang siapapun itu yang bertamu ke rumah ini saat aku tak ada dirumah jangan membukanya! Kenapa kamu melakukannya!" Sentak Marco pada Catty dengan tandasnya.
Marco baru tiba, tapi langsung memarahi Catty tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Mm-maafkan aku Marco... Aku tak sengaja membukanya..." jawab Catty dengan nada suara rendah yang ketakutan.
Marco perlahan menghampiri Catty dan duduk di hadapan Catty.
"Katakan apa yang terjadi, siapa yang datang kemari?"
Catty masih saja melakukan butterfly hug pada dirinya diringi dengan tangisannya.
Perlahan Marco memegang kedua tangan Catty dan melepaskan tangan Catty yang tengah melakukan butterfly hug.
"Sudah aku katakan, jika ada aku kamu tak perlu melakukan butterfly hug, aku akan memelukmu... "
"Marco... Tadi ada dua orang wanita yang datang kemari, mereka tiba-tiba sudah ada di depan pintu dan salah satu dari mereka berkata, 'Marco ini ibu' aku pikir itu adalah ibumu, jadi aku membuka pintunya."
"Siapa nama mereka?"
"Aku tidak tahu mereka, tapi salah satu dari perempuan itu bernama Lily.'
"Oh, ya dia memang seperti ibuku, dia ibu panti dan anak perempuannya bernama Lily. Apa yang membawa mereka datang kemari?"
"Mereka menitipkan sebuah surat untukmu, dan aku letakan disana, di samping komputermu."
Marco melepaskan pelukannya dari Catty lalu bertanya kembali pada Catty apa yang membuat Catty merasa takut.
"Lalu apa yang membuat kamu ketakutan seperti itu Catty? Apa mereka melakukan hal buruk padamu?"
"Ya... Mereka membuatku takut Marco... Salah satu dari mereka mengancamku bahwa aku tak akan pernah hidup bahagia jika aku dekat denganmu Marco, dia bilang aku wanita aneh dan berpenampilan seperti orang gila. Ibu pantimu mendorongku dan menjambak rambutku, dia menyuruhku pergi dari rumah ini dan jangan mendekatimu lagi Marco."
__ADS_1
Marco terkejut setelah mendengar penjelasan Catty tentang ibu pantinya.
"Ii-itu ga mungkin Catty, ibu panti orang yang sangat baik, bahkan aku dirawat olehnya sejak aku bayi."
"Marco! Aku berkata benar, kenapa kamu tak mempercayaiku, oh. Aku lupa ini seperti deja vu. Saat itu, saat aku bertengkar dengan Hana kamu juga tak mempercayaiku."
"Cukup Catty! Jangan pernah mengungkit masalah yang kemarin-kemarin, lupakan itu."
"Lalu apa sekarang? Apa kamu tak mempercayaiku?" tanya Catty sembari menyentuh wajah Marco dengan kedua tanganya.
Namun Marco malah mengabaikan Catty.
"Aku tahu Catty kamu selalu tersakiti, tapi aku tak percaya jika itu menyangkut pautkan dengan ibu yang mengasuhku sejak bayi. Dia juga ibuku. Aku tak suka mendengar fitnah dari orang lain tentangnya."
Catty meneteskan air matanya karena Marco tak percaya dengan ucapannya. Marco langsung mengambil surat dari ibu panti yang ada di sebelah komputernya.
Setelah Marco mengambil surat itu, Marco langsung turun ke lantai bawah dan membacanya.
"Surat apa ini..." gumam Marco.
Saat Marco membukanya dan membacanya. Surat itu berisi data tentang keluarga Matteo. Bahkan terdapat foto-foto dari keluarga Matteo.
"Data keluarga Matteo."
Isi dalam surat
Matteo Murac seorang pengusaha yang kaya raya, istrinya bernama Marry mereka dikaruniai anak pertama berjenis kelamin laki-laki setelah 5 tahun pernikahan yang diberi nama Matteo Marco. Namun karena ke lalaian mereka anak mereka hilang di bandara.
Setelah bertahun-tahun anak mereka tak ditemukan. Akhirnya mereka di karunia 2 anak, satu perempuan dan satu laki-laki yang diberi nama. Millie dan Matteo Mason.
Setelah Marco membaca isi surat itu dan melihat foto-foto keluarga Matteo, akhirnya Marco tersadar jika dirinya memang anak dari keluarga Matteo.
Marco tiba-tiba meneteskan air matanya saat melihat foto Marry ibunya sendiri.
"Jadi wanita yang aku temui di Mall benar-benar ibuku... "
"Ibu panti orang yang sangat baik, bahkan dia bersusah payah mencari keluargaku. Padahal aku sendiri tak pernah ada niatan mencari mereka."
__ADS_1
...Bantu like komen dan vote ya...
...Terima kasih.❄...