Butterfly Hug

Butterfly Hug
CHAPTER 47


__ADS_3

Ketika pagi tiba saat Marco terbangun dari tidurnya, Marco melihat Catty tengah berdiri terdiam menatap ke arah luar rumah bibi Meeza yang tepat berada di depan rumah Marco.


Marco dengan wajah bantalnya menghampiri Catty, lalu memeluknya dari belakang.


"Hei... Ada apa? Kenapa kamu bangun sepagi ini?" tanya Marco dengan suara berat karena baru bangun tidur.


"Kemana mereka pergi Marco... Aku ingin segera menangkap mereka."


"Kamu tenang saja Catty, polisi akan menangkap mereka. Kita sudah memberikan bukti itu pada polisi."


"Tetap saja aku ingin mencari Bibi Meeza. Hari ini aku akan mencari dia Marco,"


"Tidak! Kamu tidak boleh mencari Bibi Meeza sendirian, itu berbahaya. Aku akan Menemanimu."


"Benarkah, kamu mau menolongku Marco?!"


"Ya, aku akan lakukan apapun demi kamu Catty, sekarang bersiaplah dan kita akan pergi sekarang."


Catty tersenyum bahagia setelah Marco berkata padanya jika dirinya mau membantu Catty mencari Bibi Meeza yang melarikan diri setelah tahu Catty mempunyai bukti jika dirinya telah membunuh orang tua Catty.


Tepat pukul sepuluh pagi Catty dan Marco berniat kembali menuju rumah sang Photogrpaher yang bernama Sian, yang menyimpan memberikan Catty bukti jika Bibi Meeza yang membunuh kedua orang tuanya.


Saat Marco dan Catty sudah tiba di area rumah tempat tinggal Sian sang photographer, Marco dan Catty di kejutkan oleh banyaknya orang di rumah Sian.


"Astaga Marco, ada apa itu? Kenapa banyak sekali orang dirumah Sian!" tanya Catty curiga.


"Entalah Catty, lebih baik kita kesana untuk mencari tahu."


Marco dan Catty keluar dari mobil dan menghampiri rumah Sian. Saat Marco dan Catty sudah ada disana, Catty langsung bertanya pada seorang pria yang tengah berdiri di tepi kerumunan.


"Maaf pak, ada apa ya?" tanya Catty pada pria itu.


"Sian meninggal dunia, ada sepasang suami istri yang membunuhnya. Yang saya ketahui hanya itu." jawab pria itu.

__ADS_1


Catty tak percaya dengan apa yang diucapkan pria itu padanya. Catty tiba-tiba terdiam dengan tatapan kosongnya.


"M-marco... Sian, dia.... Dia satu-satunya orang yang tahu tentang kejadian itu dan sekarang dia telah tiada."


Marco memeluk Catty dan mencoba menenangkannya.


"Catty ayo kita kembali ke mobil, kita akan kembali sore nanti setelah semuanya baik-baik saja."


Marco membawa Catty ke dalam mobil dan membawanya pulang. Marco dan Catty berniat kembali ke rumah Sian setelah suasannya mulai sedikit sepi.


Catty terus kebingungan dan banyak diam memikirkan tentang kasus yang sudah bertahun-tahun ingin ia selesaikan. Tapi saat dirinya menemukan saksi dan bukti, saksi itu telah meninggal dunia akibat dibunuh.


"Marco aku yakin sekali, jika yang membunuh Sian adalah Bibi Meeza dan juga suaminya. Siapa lagi jika bukan mereka!"


"Aku juga berfikiran seperti itu Catty, sekarang kamu tak perlu khawatir. Semuanya akan segera selesai, kasus ini akan segera selesai."


Saat Marco dan Catty tengah di perjalanan menuju arah jalan pulang. Tak sengaja Catty tiba-tiba mabuk kendaraan.


"Owh... M-marco, tolong berhenti sebentar aku sangat mual, aku rasa aku akan muntah!"


Marco mengelus perlahan punggung Catty dan memegang rambut Catty yang terurai panjang. Agar tak mengenai muntahan Catty akibat mabuk kendaraan.


Setelah beberapa menit, mereka akan kembali masuk ke dalam mobil. Mereka berdua di kejutkan dengan mobil yang tampak tak asing bagi mereka terparkir di depan mobil Marco yang jaraknya sedikit jauh.


"Tunggu. Marco... Itukan mobil Bibi Meeza!" Ucap Catty dengan mata yang terbelalak karena terkejut.


"Iya aku rasa itu mobil Bibi Meeza Catty."


Dan tiba-tiba mereka berdua mencium bau asap dari dalam hutan sana.


"Tunggu ini bau asap, Aku curiga dengan asap ini. Marco aku akan melihat ke dalam hutan sana. Aku ingin tahu asap apa ini."


"Tunggu, aku akan ikut denganmu."

__ADS_1


Marco dan Catty masuk ke dalam hutan dan meninggalkan mobil mereka di tepi jalan berdekatan dengan mobil Bibi Meeza yang terparkir di depannya.


Marco dan Catty masuk ke dalam hutan itu dengan perlahan tanpa membuat suara.


Saat bau asap itu mulai tercium sangat jelas, dan mereka berdua sudah benar-benar berada di dalam hutan. Mereka berdua tiba-tiba dikejutkan dengan pemandangan yang sedikit mengerikan.


Marco dan Catty di kejutkan dengan Bibi Meeza dan suaminya yang hanya mengenakan pakaian dalam, sedang membakar baju mereka berdua yang terkena simbahan darah.


Marco dan Catty bersembunyi dibalik pohon besar, Marco bahkan merekam kejadian itu diam-diam dengan handphonenya.


"Sepertinya itu baju mereka yang mereka gunakan saat membunuh Sian Marco. Aku jadi ingat ucapan Sian, dia berkata padaku jika Bibi Meeza juga membakar baju mereka setelah membunuh kedua orang tuaku." gumam Catty pada Marco yang ada di sampingnya.


Setelah baju yang Bibi Meeza dan suaminya kenakan untuk membunuh Sian itu sudah menjadi abu. Bibi Meeza dan suaminya berjalan hanya dengan baju dalam mereka menuju mobilnya.


Hal itu membuat Marco dan Catty terburu-buru berlari mendahului Bibi Meeza dan suaminya menuju jalan lain. Mereka berdua melakukan itu karena teringat dengan mobil mereka yang terparkir di dekat mobil Bibi Meeza.


Namun sayang Marco dan Catty gagal, Bibi Meeza dan suaminya lebih dulu tiba ditepi jalan.


"Marco pasti mereka tahu jika itu mobil kamu!" bisik Catty pada Marco yang sama-sama bersembunyi di balik pohon besar.


"Tidak, mereka tak akan tahu, mereka tak akan menyadarinya." Ucap Marco meyakinkan Catty jika semuanya akan baik-baik saja.


Namun perkataan Marco salah, Bibi Meeza mengenali mobil Marco. Bibi Meeza terus menatap mobil Marco sebelum dirinya masuk ke dalam mobil miliknya.


Setelah Bibi Meeza terlihat menatap mobil Marco sebentar, Bibi Meeza dan suaminya langsung melarikan diri dengan mobilnya.


"Marco! Ayo kita ikuti mereka, kita harus tahu dimana mereka sekarang tinggal!" ajak Catty sembari berlari ke arah mobil dengan menarik tangan Marco.


Mungkin mobil Bibi Meeza itu sudah berjalan jauh beberapa meter jaraknya dari tempat perkara. Namun Marco dan Catty tetap mengejarnya.


Marco dan Catty mengikuti mereka dari belakang dan terlihat mobil Bibi Meeza itu masuk ke area perumahan yang sangat mewah.


"Astaga aku rasa aku mengenal tempat ini Marco... Ini adalah rumahku yang dulu aku belikan untuk Ayah, ibu dan juga adikku. Sekarang aku tak bisa berfikiran jernih Marco, pikiranku terisi kembali dengan kenangan itu."

__ADS_1


Catty tiba-tiba menangis sembari memegang kepalanya, kepalanya merasa sakit setelah melihat rumahnya kembali.


__ADS_2