Butterfly Hug

Butterfly Hug
CHAPTER 40


__ADS_3

Ketika Marco dan Catty sudah tiba di area perumahan mereka, dari arah kejauhan terlihat Bibi Meeza dan keluarganya keluar dari mobil dan memasuki rumah mereka.


"Marco... Itu Bibi Meeza, aku ingin keluar dan menghampirinya. Aku ingin membalas perbuatan dia yang sudah melebihi batas itu. Dia sudah membuat Hana terluka. Dan memanipulasi segalanya agar aku yang salah."


"Engga Catty, aku ga akan mengizinkanmu bertemu denganya dulu. Jangan lakukan itu, tetaplah diam dimobil dan masuk ke dalam rumah melalui pintu belakang."


"Tapi Marco..."


"Catty... Ini bukan rencana kita, kita harus mencari bukti tentang Bibi Meeza. Aku tahu Bibi Meeza sudah tahu kamu ada bersamaku. Tapi untuk saat ini lebih baik kita diam dan berpura-pura tidak tahu jika Bibi Meeza sudah tahu kamu ada bersamaku."


"Baiklah Marco."


****


Satu hari berlalu begitu saja, pagi ini di hari weekend, Marco dan Catty berniat pergi menuju rumah lama Bibi Meeza untuk mencari bukti jika Bibi Meeza adalah pembunuh kedua orang tuanya.


"Apa benar kita jalan ke arah sini Catty?" tanya Marco yang tengah menyetir mobil dan Catty yang memberi arah pada Marco, Arah menuju rumah lama Bibi Meeza.


"Ya kita masuk ke hutan kecil, setelah melalui hutan itu kita akan melihat rumah Bibi Meeza dan rumah lainha disana, karena itu sebuah desa."


Setelah beberapa jam perjalanan Marco dan Catty dari kota menuju desa. Akhirnya mereka berdua tiba dirumah lama Bibi Meeza.


"Astaga rumah ini sudah sangat tak terurus, bahkan tak ada yang mau mengontraknya. Mereka pasti takut dengan kejadian pembunuhan itu." Ucap Catty yang melihat rumah lama Bibi Meeza yang benar-benar sudah kumuh, tumbuh akar-akar menakutkan dan juga lumut hijau di setiap temboknya.


Catty dan Marco masuk kedalam rumah itu. Saat mereka masuk, bau busuk rumah itu mulai tercium begitu menyengat. Hingga Catty dan Marco menutup hidung mereka dengan tanganya.


Marco dan Catty mencari barang bukti di rumah itu, mereka berdua memasuki sebuah kamar. Mereka membuka laci lemari yang sudah berdebu.


Namun hasilnya nihil, mereka tak menemukan apapun disana.


Dan akhirnya mereka berdua keluar dari rumah dan berdiri sejenak di halaman rumah itu.


"Marco... Apa kamu yakin ini akan berhasil, bahkan disini aku tak menemuka bukti apapun." Ucap Catty mengeluh.

__ADS_1


"Catty jangan menyerah, kamu jangan putus asa dulu. Pokoknya rasa sakitmu selama ini harus terbayarkan. Ini saatnya untuk kamu melakukan apa yang harus kamu lakukan. Agar hidupmu lebih bebas dari beban ini."


Saat Marco mencoba menyemangati Catty dengan kata-katanya. Tiba-tiba Catty melihat seorang pria berjalan..


"M-Marco... Aku mengenal wajah pria itu, dia... Dia adalah Photographer yang memotretku saat itu." Ucap Catty yang melihat kembali seorang photographer yang saat itu memotretnya.


Catty dan Marco mengejarnya perlahan mengikuti langkah sang photographer itu.


"Sepertinya dia tinggal disekitaraan sini Marco." Ucap Catty perlahan sembari mengendap-endap mengikuti photographer itu.


Dan ucapan Catty itu benar, photographer itu tinggal di sekitaran tempat tinggal Bibi Meeza.


"Catty dia sudah masuk ke rumahnya, lebih baik kita datangi dia perlahan dan jangan menampakan emosi. Jika itu terjadi pasti dia akan lari." Kata Marco pada Catty dengan tegas.


Catty menyetujui ucapan Marco. Lalu mereka berdua akhirnya mendekati rumah sang photographer itu.


Tok! Tok! Tok!


Catty mengetuk pintu rumahnya tanpa berbicara sedikit pun. Dan tak lama sang photographer itu membukakan pintunya.


"Apa kamu masih mengingatku? Boleh aku berbicara denganmu?" Tanya Catty perlahan kepada sang photographer itu.


"M-maaf saya ada kerjaan, saya tidak punya waktu." Sang photographer itu menolak Catty untuk berbicara dengannya.


"Sebentar saja. Jika kamu tidak merasa bersalah dan tak ingin melakukan itu, kamu pasti akan menerimaku berbicara sebentar denganmu." Pinta Catty lagi kepada sanga photographer itu.


Sang photographer itupun tiba-tiba membuka lebar pintu rumahnya, dan membiarkan Catty dan juga Marco masuk ke dalam rumahnya.


Sang photographer mempersilahkan Catty dan Marco duduk.


"Aku tahu ini akan terjadi, setelah bertahun-tahun kejadian itu berlalu. Aku selalu meyakinkan diriku, pasti akan ada seseorang yang datang menemuiku dan membahas kejadian hari itu." Ucap sang photographer dihadapan Catty dan Marco.


"Apa maksudmu? Apa kamu akan mengatakan segalanya tentang semua kejadian itu? Jika ia aku akan senang, karena aku ingin tahu segalanya setelah bertahun-tahun aku membutuhkan bukti, siapa yang membunuh kedua orang tuaku!"

__ADS_1


Tiba-tiba sang photographer masuk ke dalam kamarnya mengambil sebuah amplop berkas berwarna coklat.


"Aku akan menjelaskan segalanya. Karena sudah sangat lama aku ingin terbebas dari mimpi buruk yang menggangguku ini. Aku ingin kedua orang tuamu tenang disana setelah masalah ini terselesaikan."


"Lalu apa yang ingin kamu tunjukan padaku?"


Sang photographer itu membuka amplop berwarna coklat berisi photo dan rekaman suara yang dirinya ambil sendiri saat kejadian itu.


Lalu sang photographer membuka laptopnya dan memainkan sebuah video rekaman diam-diam, yang berisi video saat Bibi Meeza mendatangi rumah sang photographer itu.


"Ini lihatlah, satu hari sebelumnya sebelum kejadian itu. Bibi Meeza dan keluarganya mendatangiku secara tiba-tiba."


(Adegan dalam video rekaman diam-diam)


"Selamat malam Sian." Sapa Bibi Meeza pada sang photographer yang bernama Sian.


"Selamat malam, apa yang membuat kalian datang kemari?" tanya Sian sang photographer.


"Kami ingin... "


Saat Bibi Meeza ingin menjelaskan apa yang membawa dirinya datang ke rumah Sian. Sian tiba-tiba mengehntikannya dan malah pergi ke dapur untuk membuatkan kopi sebagai jamuan.


"Tunggu sebentar sebelum kalian berbincang denganku, aku ingin membuatkan kalian kopi dan jamuan lainnya juga. Jadi tunggu sebentar."


Sian pun berlari ke arah dapur, jarak antara dapur dan ruang tamu tak jauh, jaraknya cukup dekat.


Ketika Sian tengah membuatkan kopi untuk mereka di dapur tak sengaja Sian mendengar perbincangan mereka yang mencurigakan.


"Apa kamu yakin suamiku, apa kau sudah bebar membeli pisau yang tajam?"Ucap Bibi Meeza perlahan pada suaminya yang duduk tepat di sampingnya.


"Sutt!!! ibu bicaranya pelan-pelan, bagaimana jika nanti Sian mendengar dan dia tak mau membantu kita." Sambung Yuri anak perempuan Bibi Meeza.


Setealah mendengar pembicaraan itu Sian sang photographer mulai curiga.

__ADS_1


Sian menjamukan kopi hangat dan beberapa makanan untuk mereka diatas meja.


"Oh tunggu sebentar, dan silahkan diminum dulu kopi hangatnya." Ucap Sian lalu dirinya masuk ke dalam kamarnya dan menyalakan handphonenya lalu merekam semua kejadian saat itu secara diam-diam oleh kamera handphoenya yang ia letakan disebuah lemari di samping kamarnya yang langsung menghadap ke ruang tamu.


__ADS_2