Butterfly Hug

Butterfly Hug
CHAPTER 37


__ADS_3

Marco berlari meninggalkan rumah sakit, dan membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi.


"Catty... Kenapa aku tak percaya padamu, kenapa aku tak percaya dengan ucapanmu itu!" Ucap Marco menyesal sembari membawa mobilnya ke suatu tempat.


"Sekarang aku akan mencarimu, dan membawamu pulang! Aku tak ingin kehilanganmu lagi."


Marco pergi ke tempat pertama saat ia meninggalkan Catty, yaitu disebuah jalan menuju kontrakan ditepi jalan.


Karena hari sudah gelap, Marco kesulitan melihat orang-orang ditepi jalan dengan jelas.


Tak lama Marco pun sampai ditempat pertama ia meninggalkan Catty.


Marco mendatangi rumah pemilik kontrakan itu dan bertanya padanya.


"Permisi, apa ada wanita yang bernama Catty menempati kontrakan ini, tepatnya satu hari yang lalu?" tanya Marco pada seorang wanita yang mengenakan pakaian daster.


"Oh iya benar, tapi saya menolaknya karena sudah tak ada tempat yang kosong, saya menyuruhnya mencari tempat lain."


Marco seketika terkejut setelah tahu jika Catty tak ada disana.


"Baiklah terima kasih, tapi apa ibu tahu kemana wanita itu pergi?"


"Ke arah sana, dia membawa koperkan? Jika benar di menuju arah kanan."


Marco dengan cepat mencari Catty ke arah yang ditunjukan oleh ibu pemilik kontrakan itu.


Di dalam mobil Marco terus merasa cemas, Marco benar-benar mencemaskan Catty.


Setelah satu jam lamanya, Marco melihat tiga orang pria disebuah rumah-rumahan dipinggir jalan.


Marco merasa curiga karena Marco melihat ada sebuah koper dibawah sana.


"Astaga itu koper yang sama dengan koper yang aku berikan pada Catty."


Karena Marco merasa curiga, Marco langsung menepikan mobilnya sedikit lebih jauh. Lalu Marco berlari ke arah rumah-rumahan itu. Dan benar saja ternyata ketiga pria yang berpakaian seperti preman tengah menggoda Catty.


"Hey! Apa yang kalian lakukan hah!"  teriak Marco pada ketiga pria yang mencoba menggoda dan menyentuh Catty.

__ADS_1


Ketiga pria itupun terkejut dan menghadap ke arah Marco.


Terlihat Catty masih duduk santai di depan orang-orang brengsek itu.


"Siapa lo hah?" tanya salah satu dari ketiga pria itu.


"Kalian mau apain dia hah?!" tanya Marco dengan wajah garangnya.


"Eh, lagian dia orang gila, dia ga berakal jadi kita mau buat apapun sama dia, dia ga bakalan lawan kita." jawab preman itu dengan senyuman nyeleneh.


Marco pun kesal dan memukul premab yang mengata-ngatai Catty.


"Sialan! Anj*ng! Brengsek!" teriak Marco sembari memukul wajah salah satu preman itu. Bahkan Marco menginjak-injak dada preman itu tanpa hentinya."


Marco benar-benar marah melihat pria-pria brengsek itu menyentuh dan menggoda Catty.


Nafas Marco tak karuan karena terus-terusan memukili salah satu dari preman itu. Namun kedua preman lainnya tak tinggal diam saat Marco memukul habis-habisan temannya.


Mereka berdua mencoba memukul Marco, Namun Marco dengan cepat memukul kembali mereka berdua.


Blam! Blam! Blam!


Tak lama ketiga preman itu menolong teman mereka yang sudah tak berdaya ditanah akibat pukulan Marco yang tak ada hentinya. Mereka bertiga melarikan diri menjauh dari Marco.


Sesaat setelah Marco memukul preman-preman itu. Marco tak langsung menghampiri Catty. Marco berdiri sejenak menatap Catty yang tengah duduk disebuah pos ronda kecil dan memalingkan wajahnya dari Marco.


Marco mentap Catty dengan tatapan yang hangat dan penuh rasa penyesalan dalam dirinya.


Marco terus mendekatinya perlahan dan duduk disebelah Catty.


"Disini sangat gelap, menakutkan dan banyak manusia-manusia yang tak bisa menjaga tangannya. Ayo kembali kerumah." Ucap Marco dengan dinginnya kepada Catty yang terus memalingkan wajahnya dari Marco.


Saat Marco mengatakan itu, tiba-tiba air mata Catty berlingan begitu saja, Catty menahan tangisannya namun pada akhirnya tangisan itu tak tertahankan. Lalu air matanya menetes begitu saja.


Catty menangis tanpa suara di samping Marco. Walau begitu suara nafasnya yang tengah menahan tangisan itu terdengar oleh Marco yang duduk di sampingya.


Marco tak bisa membiarkan Catty menangis dan menahan tangisannya, Marco tahu sikap Catty yang terkadang seperti anak kecil dan harus sedikit dimanjakan.

__ADS_1


Marco bergeser dan duduk sedikit lebih dekat dengan Catty.


"Catty... Apa kamu mau memaafkanku?" tanya Marco sembari menatap mata Catty yang berkaca-kaca.


"Bagaimana bisa aku hidup dan tinggal bersamamu lagi Marco, disaat kamu bahkan tak pernah mempercayaiku. Aku tak akan kembali ke rumahmu. Aku seorang penjahat aku tak pantas ada disana." Jawab Catty dengan tangisannya yang lembut.


"Marco aku membencimu... Aku pikir saat aku tumbuh dari sakit, aku akan menemukan seseorang yang menyembuhkannya, ternyata saat aku menemukannya itu semakin menyakitiku."


Saat mendengar ucapan Catty yang begitu tulua dari hatinya. Marco tersadar jika Catty memang benar-benar menyukai dirinya dan berharap Marco adalah penyembuh dari segala luka yang tumbuh dari hidupnya.


"Catty... Silahkan membenciku sebanyak yang kau mau, aku tak peduli. Aku memang salah tak mengerti dan tak percaya padamu. Aku salah." Renung Marco sembari menatap mata Catty begitu dalam.


Tiba-tiba air mata Catty yang sudah Catty tahan agar tak menetes akhirnya menetes perlahan dan mulai berlinang.


Marco yang merubah posisi duduknya dengan membelakangi Catty, tiba-tiba mendapatkan sebuah pelukan dari belakang.


Catty tiba-tiba memeluk Marco dan menangis sejadi-jadinya dipunggung Marco. Tangan Catty yang memeluk erat tubuh Marco, tiba-tiba mendapatkan sebuah sentuhan hangat dari tangan Marco.


Catty terus menangis, entah apa yang membuat Catty menangis begitu keras hingga air mata Catty menembus baju bagian belakang Marco.


"Kenapa kamu tak percaya padaku Marco! Mana mungkin aku melakukan itu pada Hana! Kenapa kamu sangat tak percaya padaku..." Kata Catty dengan suara yang parau dibarengi dengan tangisannya.


Marco langsung membalikan badannya, dan memeluk Catty dengan cepat. Marco memeluk Catty begitu eratnya.


"Catty aku benar-benar minta maaf padamu, aku tak akan mengusirmu lagi, aku janji aku akan selalu percaya padamu. Sekarang aku tahu kamu adalah orang yang jujur dan berani." Ucap Marco sembari mengelus pelan kepala Catty.


"Sekarang ayo pulang, kamu pasti laparkan."


Marco pun menuntun Catty masuk mobil dan memasukan koper Catty yang berisi pakaian ke dalam bagasi mobilhya.


Catty terus terdiam menatap keluar jendela, Catty bahkan tak berbicara sama sekali kepada Marco.


"Catty apa kamu masih marah padaku?" tanya Marco sembari menyetir mobilnya. Namun Catty tak menjawab pertanyaan Marco. Catty terus melamun menatap ke depan.


Marco mulai cemas melihat Catty terus terdiam, Marco takut rasa cemas Catty semakin besar.


Setibanya dirumah, Marco langsung membawa Catty ke ruang makan. Marco menyiapkan beberapa makanan yang ia beli dari luar diatas meja.

__ADS_1


"Catty makanlah, setelah makan kamu pergi mandi lalu tidur. Kamu pasti lelah." Suruh Marco pada Catty.


Namun Catty hanya menganggukan kepalanya dan tak mengucapkan sepatah katapun pada Marco.


__ADS_2