
Keesokan harinya...
Marco sudah bersiap berangkat kerja, Dan Catty masih tidur. Marco sengaja tak membangunkannya Marco ingin menyiapkan sarapan untuknya. Karena biasanya Catty yang selalu bangun dan menyiapkan sarapan lebih dulu.
Marco membuatkan roti panggang dan susu untuk Catty, bahkan Marco membawa itu menuju kamarnya dan langsung diberikan pada Catty.
"Catty... Catt.. Bangun, aku menyiapkan sarapan untukmu." Bisik Marco di telinga Catty yang sedang tertidur pulas.
"Catty..."
Setelah Marco mencoba membangunkannya, akhirnya Catty terbangun dan langsung memberikan senyuman indah di pagi hari untuk Marco.
"Marco..."
"Bangun dan makan ini, aku menyiapkannya untukmu."
"Wah terima kasih Marco..."
Catty langsung lahap memakan roti dan meminum susu buatan Marco. Namun saat Catty tengah memakannya tiba-tiba Catty terdiam menatap tajam Marco.
"Marco... Tapi bisakah hari ini jangan pergi bekerja dulu? Perasaanku tidak enak Marco." ucap Catty mencoba memberitahu Marco untuk tidak pergi bekerja.
"Tapi aku tidak bisa bolos begitu saja Catty, aku harus bekerja, aku yakin semua akan baik-baik saja, ingat siapapun yang mencoba bertamu, jangan dibuka. Yang boleh melakukan itu hanya aku. Paham!"
"Paham..."
Marco akhirnya pergi bekerja dan meninggalkan Catty seorang diri dirumahnya. Setelah beberapa jam Marco tiba di studionya, tiba-tiba suasana hati Marco menjadi gundah. Marco merasa tak enak hati.
"Kenapa aku merasa tak enak hati seperti ini? Kenapa aku tiba-tiba mencemaskan Catty?" tanya Marco sembari menatap komputer.
Karena hati Marco benar-benar terasa tak nyaman akhirnya Marco memutuskan untuk pulang lebih awal, tepat pukul 2 siang hari Marco pulang kerumah dengan suasana hati yang gelisah.
Dan benar saja, hati Marco yang membuatnya merasa gelisah terjawabkan. Tiba-tiba gerbang rumahnya terbuka lebar padahal sebelumnya Marco sudah menutup dan menguncinya.
Tanpa memasukan mobilnya ke dalam garasi, Marco langsung keluar dari mobil dan berlari masuk ke rumahnya.
Ketika Marco Masuk, Marco dikejutkan dengan Hana yang sudah bersimbah darah dilantai rumahnya.
Hana!!!
Marco menghampiri Hana yang sudah bersimbah darah di bagian perutnya.
"Mm-Marco... Tolong aku... "
__ADS_1
Marco dengan cepat mengangkat Hana dan membawanya ke dalam mobil.
"Hana bertahanlah, aku akan membawamu ke rumah sakit."
Marco akhirnya membawa Hana ke rumah sakit dengan mobilnya, Bahkan Marco membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"Hana bertahanlah... Siapa yang melakukan itu padamu hah?" tanya Marco sembari menyetir mobil. Namun Hana tak menjawabnya karena tengah kesakitan.
Setelah beberapa menit di perjalanan, akhirnya Marco berhasil membawa Hana ke rumah sakit. Hana langsung dilarikan ke ruang IGD.
Marco begitu khawatir dengan Hana, Marco langsung menelpon orang tua Hana dan juga Alby. Marco memberitahu mereka semua jika Hana ada di rumah sakit.
"Astaga siapa yang melakukan itu pada Hana? Apa Catty...?" gumam Marco.
Setelah Marco menunggu lima belas menit lamanya diruang tunggu rumah sakit. Orang tua Hana dan Alby datang bersamaan.
"Marco... Dimana Hana?" tanya ibu Hana sembari menangis dihadapan Marco.
"Tante tenang aja, Hana tadi sadar. Sekarang dia masih di ruang IGD."
"Apa yang terjadi dengan Hana?"
"Entahlah tante hanya Hana yang bisa menjawab senuanya. Saat aku pulang ke rumah tiba-tiba Hana sudah tergeletak di lantai dengan luka di perutnya akibat tusukan pisau."
Ibu Hana terus menangis mendengar ucapan Marco. Namun berbeda dengan Alby, Alby terus menatap tajam Marco.
"Marco bisa kita bicara sebentar?" tanya Alby.
"Ya Al, ada apa?" jawab Marco bingung.
Marco berbicara berdua dengan Alby di sebuah taman rumah sakit.
"Hana terluka di rumah lo, apa lo ga curiga kalo itu semua yang lakuin Catty? Wanita aneh itu?"
"Gue belum bisa mastiin siapa pelakukanya Al."
"Mendingan lo balik sana ke rumah lo dan tanya Catty siapa yang lakuin hal berbahaya kaya gini ke Hana!"
Tiba-tiba Alby begitu marah pada Marco, Alby curiga jika Catty yang melakukannya. Karena Catty tinggal di rumah Marco.
Marco menuruti perkataan Alby, Marco kembali ke rumah untuk melihat kembali apa yang sudah terjadi.
Setibanya Marco dirumah, Marco langsung melihat kembali simbahan darah Hana di dalam teras rumahnya.
__ADS_1
Catty! Catty!
Marco terus memanggil nama Catty dan berjalan ke arah lantai dua kamarnya yang sekarang di tempati oleh Catty.
Ketika Marco tiba disana, betapa terkejutnya Marco karena gagang pintu kamarnya di ikat oleh sebuah syal dari luar.
Astaga! Catty!
Marco langsung membuka syal yang mengikat gagang pintu kamarnya. Setelah Marco membukanya Marco lebih terkejut karena melihat Catty sedang duduk di sudut kamar ketakutan, dengan sebuah pisau di depannya yang terkena darah.
Catty....
Marco berjalan mendekati Catty yang seperti orang ketakutan itu.
"Catty... Apa yang terjadi?" tanya Marco dengan mata yang berkaca-kaca.
Catty terlihat berantakan rambutnya acak-acakan, dan terus memeluk dirinya sendiri. Catty bahkan terus meneteskan air mata tak hanya itu, tangan Catty penuh dengan darah.
Saat Marco melihat pisau di depan Catty dan tangan Catty bersimbah darah. Seketika emosi Marco tak tertahankan Marco merasa jika Cattylah yang melakukan itu semua pada Hana sahabatnya.
"Apa kamu yang melakukannya Catty... Kenapa kamu jahat sekali Catty? Dia sahabatku Catty tak seharusnya kamu menusuk dia dengan pisau..." Ucap Marco dengan penuh kekecewaan pada Catty.
"Bb-bukan aku Marco yang melakukannya... Marco bukan aku... Aku bahkan tidak tahu apa yang terjadi." Jawab Catty sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Jangan bohong kamu Catty! Aku tau kamu yang melakukannya. Kamu memang punya sifat jahat. Aku menyesal mengenalmu dan menolongmu Catty... " Ucap Marco dengan penuh penyesalan.
Catty tiba-tiba berdiri dan mendekati Marco.
"Marco... Sungguh aku tidak melakukan apapun, aku tidak tahu apa-apa aku tidak melakukannya aku sedang tidur, aku bahkan tidak tahu kejadian apa yang sedang terjadi, saat aku bangun tanganku sudah penuh darah dan pisau itu ada disampingku."
Walau Catty sudah memberitahu pada Marco jika dia tak melakukannya, Marco tetap saja tak percaya. Marco tetap yakin jika Catty yang melukai Hana.
"Sekarang pergi dari sini..." ucap Marco perlahan di hadapan Catty.
"Marco... Marco aku mohon percaya padaku, aku tak melakukannya aku bahkan tidak tahu apa-apa."
Marco tiba-tiba mengambil sebuah koper kecil dan memasukan pakaian Catty ke tas itu.
"Aku tak ingin kamu di tangkap polisi, lebih baik kamu pergi dari sini dan terus mencari bukti tentang orang tuamu yang dibunuh oleh Bibi Meezamu itu!" ucap Marco sembari memasukan pakaian Catty ke dalam sebuah koper kecil
"Marco... Jangan usir aku, kemana aku akan pergi Marco jika kamu mengusirku? Kenapa kamu tak bertanya dulu pada Hana apa yang terjadi..."
"Cukup!!! Aku akan memberimu uang dan pergilah mencari tempat untuk kamu tempati."
__ADS_1