Butterfly Hug

Butterfly Hug
CHAPTER 33


__ADS_3

Setelah Marco tahu banyak tentang keluarga Matteo, kini Marco sadar jika mereka benar-benar keluarganya, dan Marco punya niatan untuk menemui mereka.


Setelah Marco membaca surat itu, Marco ke dapur untuk makan, namun saat Marco mengeceknya tak ada makanan sama sekali disana.


Astaga aku lupa tak membeli makanan, pasti Catty juga belum makan...


Marco akhirnya pergi ke luar untuk membeli makanan, walau hampir tengah malam. Kemudian Marco pergi tanpa memberi tahu Catty.


Setelah beberapa menit Marco keluar untuk membeli makanan, Marco kembali ke rumah dan langsung menyiapkan makanan diatas meja makan.


Setelah menyiapkan makanan Marco berlari menuju lantai atas untuk memanggil Catty.


Saat Marco masuk Catty sudah tertidur pulas.


"Apa dia ga lapar... Terpaksa aku harus membangunkannya untuk makan pasti dari siang dia belum makan apa-apa."


Marco berjalan mendekati Catty yang tertidur pulas, lalu membangunkannya.


"Catty... Bangun makan dulu." Panggil Marco pelan sembari memegang tangan Catty.


Catty pun terbangun, namun Catty malah memalingkan wajahnya dari Marco.


"Hei... Kenapa kamu tidak mau mendengarku? Cepat bangun."


Marco belum sadar jika Catty merajuk padanya, bahkan setelah Catty memalingkan wajah darinya.


"... Aku tidak lapar."


"Ada apa denganmu? Apa kamu marah padaku karena masalah tadi?"


Saat Marco mengatakan itu, Catty langsung bangun dari tidurnya dan menatap tajam mata Marco.


"Ya! Aku sedih Marco kamu tak pernah percaya padaku! Apa harus aku di jambak di dorong dan di Hina di depan matamu sendiri dulu oleh ibu pantimu itu agar kamu percaya?!" Ucap Catty dengan penuh amarah di depan wajah Marco.


"CATTY CUKUP!!! Sudah kubilang aku tak percaya itu, ibu panti bukan orang seperti itu. Dia orang baik, bahkan dia rela terus mencari keluarga aslilku demi aku."


Marco malah semakin marah pada Catty karena ucapan Catty tentang ibu pantinya.


"Jika kamu tak mau makan, ya sudah aku tak memaksa."

__ADS_1


Marco pun keluar dari kamar Catty dengan kemarahan.


Namun Catty malah berlari mengejar Marco yang marah.


"Tunggu Marco! Apa keluarga Matteo itu keluarga yang kaya raya?"


Marco terkejut karena tiba-tiba Catty bertanya soal keluarga Matteo. Marco akhirnya menghentikan langkahnya dan mendekati Catty kembali.


"Kamu tau darimana soal keluarga Matteo?" tanya Marco pada Catty dengan tatapan tajamnya.


"Apa kamu membaca semua pesan itu? Apa kamu membaca surat dari ibu pantiku?"


"Ya... Aku membukanya dan membacanya."


"Catty kamu tau, itu sangat tidak sopan! Surat itu untukku bukan untukmu tak seharusnya kamu membuka dan membacanya. Sekarang aku tahu sifat aslimu yang tidak sopan itu."


Saat Marco menasehati Catty dengan tatapan tajam dan kata-kata yang sedikit menyakiti hati Catty, tiba-tiba air mata Catty menetes.


"Jangan menangis aku tak akan mengasihanimu!"


"Marco... Mereka mencari keluargamu karena keluarga Matteo itu kaya raya dan ibu pantimu itu ingin anaknya menikahimu, lalu hartamu itu akan menjadi milik ibu pantimu dan juga anak perempuannya. Ibu pantimu pasti akan berusaha keras mengembalikanmu pada keluargamu. Ibu panti yang selalu seperti malaikat untukmu suatu hari nanti akan menjadi iblis juga untukmu."


Mata Marco tiba-tiba berkaca-kaca setelah Catty mengatakan itu. Kini Marco berjalan mendekati Catty.


Tiba-tiba Catty mengeluarkan secarik surat yang ditulis oleh tangan dan diberikannya surat itu pada Marco.


"Ini ambilah... Sebenarnya mereka memberimu dua surat, dan surat ini dari anak perempuan ibu pantimu. Aku sengaja menyembunyikannya dan aku juga telah membacanya maafkan aku."


Marco mengambil surat itu dari tangan Catty dan membacanya. Surat itu berisi tentang ajakan makan malam Lily anak perempuan ibu panti.


Setelah Marco membacanya, Marco langsung mendekati Catty dengan tatapan serius.


"Catty... Kamu tahu apa yang kamu lakukan itu tidak sopan, sekali lagi jangan pernah membaca, membuka setiap surat ataupun sesuatu yang bukan milikmu." Ucap Marco memperingati Catty.


"Maafkan aku Marco..."


Setelah Catty meminta maaf, Marco langsung berjalan menuju meja makan. Namun lagi, Catty memanggilnya.


"Tapi Marco... Aku takut, aku takut kehilanganmu, aku menyukaimu Marco."

__ADS_1


Saat Catty mengatakan itu seketika Marco membeku, matanya membulat hingga wajahnya memerah. Marco benar-benar terkejut saat Catty mengatakan jika dirinya menyukai Marco.


Marco membalikan badannya dan menatap Catty yang berdiri diatas anak tangga.


"Aku menyukaimu Marco, aku cemburu. Mangkanya aku mengatakan hal yang tidak pantas tentang ibu pantimu dan anak perempuannya. Tapi soal pukulan, jambakan yang dilakukan ibu pantimu padaku. Itu semua fakta yang mungkin kamu masih belum mempercayainya."


Tiba-tiba Marco berjalan dengan cepat kearah Catty yang berdiri diatas anak tangga.


Marco tiba-tiba memegang sisi kanan dan kiri pipi Catty lalu meberikan sebuah ciuman pada bibir Catty yang merah muda itu.


Mata Catry terbelalak saat Marco memberinya ciuman, sedangkan Marco memejamkan matanya ketika itu terjadi.


Marco tiba-tiba memeluk Catty dengan begitu erat.


"Marco aku menyukaimu, tolong jangan tinggalkan aku, aku tak mau kau pergi." Gumam Catty dalam pelukan Marco.


"Maafkan aku juga Catty, aku terlalu dalam emosi sehingga marah dan kasar padamu."


Marco sama sekali tak memberikan timbal balik pada Catty, bahkan Catty tak menyadari itu.


"Sekarang ayo kita makan, kamu pasti belum makan sejak pagikan?"


"Ya aku sangat lapar Marco, tak ada makanan sedikitpun disini."


Marco dan Catty akhirnya makan bersama, mereka makan malam dengan lahapnya.


Setelah mereka kenyang, mereka duduk di ruang televisi dan menonton tv bersama sebelum mereka tidur.


Ketika mereka berdua tengah fokus menonton tv, Catty tiba-tiba merasa ada seseorang dibalik jendela tengah memperhatikannya.


"Marco... Aku rasa seseorang sedang memperhatikanku dibalik jendela sana." Bisik Catty pada Marco yang duduk di sebelahnya.


Marco diam-diam memperhatikan kembali jendela rumahnya. Dan Marco tersadar ada bayangan seseorang di balik jendela itu.


Karena Marco merasa khawtir akhirnya Marco mengajak Catty menuju lantai dua kamarnya. Dan mematikan lampu di ruang televisi.


"Marco... Malam ini tidurlah bersamaku aku takut." gumam Catty pada Marco yang merangkulnya naik keatas kamar Marco.


Marco hanya menganggukan kepalanya tanpa berbicara pada Catty. Namun pada akhirnya mereka tidur bersama, Catty tidur di dekat tembok dan Marco tidur di samping tempat tidur.

__ADS_1


Marco menyelimuti tubuh mereka berdua dengan selimut yang tebal, Bahkan Marco memeluk Catty dengan mata tertutup.


"Tidurlah... Jangan pikiran hal-hal yang membuatmu takut Catty, aku ada disini." bisik Marco di telinga Catty dengan mata tertutup.


__ADS_2