Butterfly Hug

Butterfly Hug
CHAPTER 35


__ADS_3

Setelah Marco mengepak semua barang Catty ke dalam koper kecil, Marco tiba-tiba membawa Catty ke dalam kamar mandi.


"Marco... Marco..."


Catty terus menangis sembari memanggil-manggil nama Marco, tapi Marco tak menjawabnya sama sekali. Marco malah menarik tangan Catty dan mendudukan Catty di samping bathub kamar mandinya.


Dengan penuh kemarahan Marco menyalakan air kran dan membersihkan tangan Catty dari banyaknya darah.


"Marco kenapa kamu melakukan ini?" tanya Catty dengan air mata yang terus mengalir.


"Aku tak ingin kamu dibawa oleh polisi atas kelakuan burukmu itu! Setelah ini pergi dan sembunyi dimanapun kamu mau. Dan jangan pernah kembali kesini!"


Catty tiba-tiba memeluk Marco setelah tanganya bersih dari darah.


"Marco... Aku tak ingin pergi dari sini, kamu tahu aku hanya memilikimu, aku tak punya siapa-siapa lagi Marco. Kamu harus percaya padaku aku tak melakukan apapun, aku tidak tahu apa-apa..."


"Aku selalu berharap kamu bukan orang yang aku cintai. Tapi ternyata saat pertama kali aku melihatmu aku sudah punya rasa padamu Catty. Tapi ternyata kamu berbeda bukan seperti wanita normal pada umunya."


"Sekarang aku akan membawamu keluar dari sini dan pergi jauh dari sini. Carilah kehidupan baru Catty, buat hidupmu bahagia."


Setelah mendengar semua ucapan Marco, Catty tiba-tiba melepaskan pelukannya dari Marco.


Marco membawa koper kecil yang berisi banyak pakaian Catty ke dalam mobil, Catty dengan tatapan kosongnya duduk dibelakang sembari menatap keluar jendela mobil dengan mata yang berkaca-kaca. Marco yang tahu akan hal itu sesekali menatapnya dikaca mobil.


Tak ada yang berbicara diantara Marco dan Catty, mereka sama-sama diam.


Marco akhirnya tiba disebuah penginapan dan menyuruh Catty turun disana.


"Pergilah disana ada penginapan, kamu bisa tinggal disana." Ucap Marco dengan ketusnya.


Catty langsung keluar dari mobil Marco dengan membawa koper kecilnya. Tanpa mengucapkan apapun lagi.


Setelah Marco menurunkan Catty di tepi jalan, Marco tiba-tiba meteskan air matanya. Dan pergi meninggalkan Catty. Marco benar-benar melakukan hal itu pada Catty tanpa pikir panjang lagi.

__ADS_1


Setelah Marco meninggalkan Catty di tepi jalan, Marco langsung pergi kembali menuju rumah sakit untuk menemui Hana.


Saat Marco tiba dirumah sakit, terlihat kedua orang tua Hana dan Alby masih menunggu diruang tunggu.


"Alby, bagaimana dengan Hana?" Tanya Marco yang langsung duduk di sebelah Alby.


"Dari tadi dokter belum selesai memeriksanya, mereka bilang Hana harus di operasi terlebih dulu. Jadi mereka membawa Hana ke ruang operasi." jawab Alby sembari menyandarkan tubuhnya ke kursi.


"Oh iya Mar, bagaimana apa semua itu ulah Catty? Wanita aneh itu?"


"... Entahlah Al, kita harus menunggu Hana sadar dan langsung bertanya padanya siapa yang telah melakukan itu pada Hana."


"Tapi lo tadi abis balik kan kerumah, apa yang lo liat dirumah lo Mar?!"


Tiba-tiba Alby meninggikan nada bicaranya pada Marco.


"Al gue tau lo suka sama Hana, lo khawatir sama Hana. Tapi tolong tunggu Hana sadar, Catty udah ga ada dirumah gue, gue udah usir dia."


"Apa! Kenapa lo usir dia, oh apa lo ga mau Catty dibawa polisi akibat kelakuannya itu hah?"


Tiba-tiba dokter yang sedari tadi memeriksa Hana, akhirnya keluar dari uang operasi dan menghampiri kedua orang tua Hana.


"Apa benar ini keluarga dari Hana?" tanya dokter pria yang bertubuh jangkung itu.


"Ya saya orang tua Hana, ada apa dengan Hana dokter?" tanya ibu Hana dengan penuh ke khawatiran.


"Luka tusuknya tak terlalu dalam, Hana pasti akan sembuh, Dia akan segera siuman hanya saja obat bius itu masih ada efeknya. Kalian tunggu saja."


Setelah mendengar penjelasan dokter, kedua orang tua Hana, Alby dan juga Marco masuk ke dalam ruang rawat Hana untuk melihatnya.


Ibu Hana menangis melihat anaknya terbaring diatas ranjang rumah sakit dengan luka tusuk diperutnya.


Tiba-tiba ibu Hana menghampiri Marco yang berdiri disamping Alby.

__ADS_1


"Marco... Ikut dengan saya sebentar," Ajak ibu Hana pada Marco keluar dari ruangan itu.


"Marco, apa yang terjadi pada Hana katakan." tanyanya dengan tatapan mata yang begitu tajam.


Marco berusaha tenang walau hati dan pikirannya kini dipenuhi oleh masalah.


"Aku tidak tahu siapa yang melakukannya, saat aku kembali ke rumah dari studio, aku melihat Hana sudah tergeletak dilantai rumahku dengan luka tusuk diperutnya. Dan saat itu Hana masih sadar lalu aku membawanya kemari." Jelas Marco pada ibu Hana.


Ibu Hana terdiam tak memberi jawaban, dan Marco tak memberitahu Ibu Hana soal Catty yang tinggal dirumahnya.


"Tante pikir kamu yang melakukannya Marco, karena tante tahu kalian sudah beberapa hari ini tak dekat. Kalian bertengkar."


"Aku minta maaf tante soal pertengkaran itu, aku akan minta maaf pada Catty. Dan kita harus menunggu Hana siuman, karena hanya Hana yang tahu siapa orang yang telah melakukan hal seburuk itu padanya."


Ibu Hana menganggukan kepalanya dan percaya dengan ucapan Marco. Lalu mereka kembali untuk melihat Hana yang sedang terbaring di ranjang rumah sakit.


Marco menatap Hana dengan begitu dalamnya, Marco merasa menyesal karena bertengkar dalam waktu yang cukup panjang dengan Hana. Karena biasanya mereka bertengkar hanya dalam hitungan jari.


Setelah beberapa jam Marco menunggu Hana siuman dirumah sakit dengan Alby dan kedua oranh tua Hana. Hana masih belum sadarkan diri. Hingga malam tiba mereka masih disana menunggu Hana.


Karena dari siang Marco menunggu Hana dirumah sakit dan belum makan apapun, akhirnya Marco pergi keluar dengan Alby untuk makan malam.


Marco dan Alby pergi menuju sebuah warung makan disamping gedung rumah sakit.


"Mar lo yakin ga punya perasaan sama Hana?" tanya Alby yang duduk didepan Marco.


"Al gue yakin dan serius ga punya perasaan sama Hana, sekarang gue bener-bener khawatir sama Hana. Siapa yang udah lakuin itu sama Hana." jawab Marco dengan tatapan serius pada Alby.


"Lo yakin ga curiga sama Catty? Seharusnya lo jangan usir dia dulu Mar. Kalo misalkan dia yang lakuin itu, kita susah cari dia."


Marco tiba-tiba terdiam dan merenung memikirkan semuanya.


"Tapi aku rasa Catty tak melakukan hal itu pada Hana, Jika Catty orang seperti itu. Dia mungkin akan dengan cepat membalas dendam dengan cara membunuh Bibi Meeza tapi bertahun-tahun dia tak melakukan itu. Apalagi pada Hana yang baru ia kenal." ucap batin Marco.

__ADS_1


Marco merasa gundah, hati dan pikirannya terus memikirkan dua orang wanita yang hadir dalam hidupnya.


__ADS_2