
Walau begitu Catty makan dengan lahap, hingga Marco merasa senang melihatnya. Setelah mereka berdua makan bersama, Marco langsung mengantar Catty ke kamarnya dan membiarkan Catty mandi untuk membersihkan tubuhnya.
"Catty pergilah mandi, aku akan buatkan susu hangat untukmu." Suruh Marco lagi pada Catty, walau Catty hanya terdiam dan menganggukan kepalanya saja.
Catty pergi mandi dan Marco kembali ke dapur untuk membuatkan susu hangat untuk Catty.
"Aku rasa, Catty masih marah padaku. Biasanya dia selalu bersemangat, tapi setelah kejadian itu Catty jadi banyak diam." Gumam Marco sembari membuatkan susu hangat untuk Catty.
Marco masih merasa tak enak dengan perbuatannya kepada Catty, yang mengusir Catty tanpa tahu fakta yang sebenarnya.
Setelah beberapa menit Catty mandi, Marco kembali menghampirinya dan membawakan susu hangat yang ia buat.
Catty tampak tengah duduk diatas ranjang dengan rambut yang masih sedikit basah.
"Catty... Ini minumlah." Ucap Marco sembari memberikan segelas susu hangat pada Catty.
Catty mengambil segelas susu itu dengan kedua tangannya. Namun Catty hanya memegangnya tanpa meminum sedikitpun susu buatan Marco. Catty bahkan terus memberikan tatapan kosong pada Marco.
Karena Marco merasa aneh dengan Catty dan yakin ini semua karena dirinya. Marco akhirnya duduk lebih dekat dengan Catty diatas ranjang.
"Catty... Apa kamu masih marah kepadaku?" Tanya Marco dengan lembut pada Catty.
"Aku benar-benar minta maaf Catty telah menuduhmu, Sungguh aku menyesal catty. Aku mohon tersenyumlah jangan terus murung seperti itu. Aku... Aku sedih melihatmu seperti itu."
Setelah Marco mengatakan itu pada Catty, tiba-tiba Catty menyimpan segelas susu yang ia pegang diatas meja di dekat komputer milik Marco.
Catty mendekati Marco dan mendudukan dirinya di pangkuan Marco. Seketika Marco pun terkejut hingga membulatkan matanya.
Catty bahkan menyandarkan kepalanya di dada Marco dengan kedua tangan yang dikalungkan di leher Marco.
"Marco... Kamu tahu saat kamu mengusirku dan meninggalkanku di tepi jalan. Itu sangat menakutkan, aku kebingungan kemana aku harus pergi. Aku ketakutan diluar sana Marco, saat malam tiba aku tidak bisa tidur, orang-orang asing diluar sana terus menggangguku dan menggodaku. Marco jangan lakukan itu lagi padaku tolong percayalah padaku..."
__ADS_1
Catty menangis sejadi-sejadinya dalam pangkuan dan pelukan Marco.
"Aku minta maaf... Aku tak akan melakukannya lagi, sekarang aku akan selalu percaya padamu." Bisik Marco di telinga Catty.
Marco menyentuh wajah Catty dengan kedua tanganya, lalu membuat Catty menatap matanya yang berbinar. Marco memberikan kecupan dikening Catty, hidung Catty, kedua pipi Catty, Kedua mata Catty yang indah hingga bibir Catty yang merah muda.
Kemudian Catty tersenyum setelah Marco memanjakannya dengan beberapa kecupan diwajahnya.
"Aku rasa, aku benar-benar mencintaimu Catty... Aku akan percaya padamu. Dan mulai besok ayo kita cari bukti jika Bibi Meeza adalah orang yang membunuh kedua orang tuamu." ucap Marco pada Catty dengan serius.
"Ya ayo kita cari... Lalu, apa sekarang kita adalah sepasang kekasih? Karena sekarang kamu membalas perasaanku padamu. Karena sebelumnya aku sudah mengatakannya padamu jika aku menyukaimu Marco."
Marco menganggukan kepala sembari tersenyum indah di hadapan Catty.
"Oh iya Marco... Jadi siapa yang sudah melukai Hana? Dan menyimpan pisau dan darah itu dilenganku, bahkan dia mengunci pintu kamar ini dari luar dengan sebuah kain."
"Hana bilang dia seorang wanita bertubuh besar, dan itu adalah Bibi Meeza. Sebelumnya Hana memergoki Bibi Meeza yang masuk diam-diam kerumah ini Catty."
"Kerumah ini... Ya, aku tahu pasti dia akan melakukan ini padaku. Dia sudah tahu aku ada disini dan mencoba membunuhku, lihat Marco dia sangat pintar memanipulasi. Bahkan setelah menusuk Hana dia sempat-sempatnya mengoleskan darah Hana ditanganku yang sedang tertidur. Sekarang aku yakin, bibi Meeza'lah yang menghabisi nyawa kedua orang tuaku dan membuat sebuah rencana."
Keesokan harinya tepat pukul enam sore, Marco membawa Catty kerumah sakit untuk menjenguk Hana.
Setibanya disana hanya ada Alby seorang diri yang tengah menemani Hana.
"Marco, Catty..." Ucap Alby yang terkejut melihat Marco dan Catty datang bersamaan untuk menjenguk Hana.
"Tunggu! Marco kenapa kamu membawa dia kemari? Aku cemburu melihatmu dengan Catty Marco!" Ucap Hana dengan juteknya.
Seketika Marco dan Alby tekejut mendengar ucapan Hana yang tiba-tiba jutek. Padahal Alby adalah kekasihnya sekarang.
Hahahahah!!!!
__ADS_1
Tiba-tiba Hana tertawa terbahak-bahak.
"Hei!!! Jangan dibawa serius, aku hanya bercanda teman-teman. Catty... Kemarilah aku ingin memelukmu!"
Catty langsung tersenyum lebar dan berlari menghampiri Hana yang sedang duduk bersandar di ranjang rumah sakit.
Catty langsung memeluk Hana, dan meminta maaf satu sama lain. Karena sebelumnya mereka selalu saja bertengkar.
Marco dan Alby yang melihatnya tersenyum bangga.
"Hana apa kamu masih merasa sakit?" tanya Catty dengan wajah yang penuh kekhawatiran.
"Tidak Catty, sekarang aku merasa lebih baik. Tapi aku masih takut dengan Bibi Meeza'mu itu Catty, apa dia begitu juga padamu Catty?"
Saat Hana mengatakan hal itu, Catty terdiam bahkan Marco pun terdiam karena mereka berdua tahu bagaimana dan seperti apa sikapnya Bibi Meeza itu.
"C--Catty, kamu tak perlu menjawab jika kamu merasa takut, tak apa. Maafkan aku." Ucap Hana yang merasa tak enak dengan pertanyaan'nya itu.
"Suatu hari kamu akan tahu segalanya Hana tentang dia, aku akan membantumu tentang masalah ini. Aku akan memasukan dia ke dalam penjara seumur hidupnya!" Kata Catty dengan tatapan penuh keseriusan dan ucapan yang begitu tegas.
Setelah mengjeuk Hana, Marco pergi membawa Catty berjalan-jalan ke suatu tempat. Karena Marco rasa Catty harus melupakan kejadian tempo hari yang membuatnya takut.
"Marco kamu akan membawaku kemana?" tanya Catty yang duduk dikursi samping kemudi Marco. Dengan rambut panjang hitam nan lebat yang di ikat satu dengan poni di bagian kanan kiri yang sedikit panjang. Dan gaun sepanjang lutut berwarna hitam.
"Kesuatu tempat, aku rasa kamu akan menyukainya."
Catty tersenyum lebar sembari melihat pemandangan kota dari dalam mobil.
Setelah beberapa menit perjalanan, Marco dan Catty tiba di sebuah tempat. Ya tempat yang Marco maksud agar Catty happy adalah sebuah taman bermain.
Marco membawa Catty ke Amusement Park. Disana banyak sekali anak muda, anak-anak hingga dewasa yang datang. Banyak permainan menyenangkan bahkan permen kapas warna-warni berjajar disana.
__ADS_1
"Wahh Amusement Park. Marco sudah lama aku tak pernah kemari. Terakhir kali aku membawa adiku kesini. Marco ayo kita masuk!"
Catty begitu antusias saat tiba di Amusement Park, Catty menggenggam tangan Marco lalu masuk kesana dengan penuh keceriaan.