
Sian sang photographer langsung duduk bersama dengan Bibi Meeza dan keluarganya itu.
"Sian kamu seorang Photographer'kan?" tanya Bibi Meeza dengan wajah yang sedikit menakutkan, karena tatapannya yang terlihat seperti seorang nenek sihir.
"I-iya, saya seorang Photographer. Memangnya kenapa, Apa kalian akan membutuhkan jasaku untuk acara pernikahan atau acara bahagia lainnya?" Jawab Sian yang sedikit gugup.
"Oh bukan untuk memotret hari bahagia. Ini untuk memotret hal menyedihkan dan sedikit tragis," Ucap Bibi Meeza dengan sedikit senyuman di bibirnya.
"Jika kamu berani memotretnya, saya akan memberikan bayaran yang mungkin cukup untuk kehidupanmu beberapa tahun kedepan."
Saat mendengar ucapan Bibi Meeza, Sian mulai gugup dan merasa aneh dengannya.
"Apa dia seorang psikopat?" tanya batin Sian.
"Pertama aku mendengar dia tentang sebuah pisau kepada suaminya, sekarang dia berkata memotret hal menyedihkan dan sedikit tragis." Ucap batin Sian lagi.
"Bagaimana Sian? Apa kamu mau menerimanya?" Tanya Bibi Meeza pada Sian, Sehingga Sian terkejut karena sedari tadi Sian terus terdiam sembari memikirkan ucapan Bibi Meeza.
"O-Ohh... S-saya..." Sian tiba-tiha gugup setelah mendengar ucapan Bibi Meeza lagi.
"Tapi bisakah anda memberitahu saya apa yang harus saya potret?"
"Pokoknya saya akan memberitahu kamu nanti kapan dan dimana kamu harus memotret. Hingga saatnya tiba, Saat semuanya terjadi kamu harus memotret apa yang terjadi nanti."
Saat itu Sian berfikir mungkin dia harus menerima tawaran Bibi Meeza. Karena Bibi Meeza berkata akan membayarnya dengan uang yang cukup untuk kehidupan Sian beberapa tahun kedepan.
"Baiklah Saya akan menerimanya."
Sian menerima tawaran Bibi Meeza untuk memotret hal yang belum Sian ketahui. Karena saat itu Sian sedang kesulitan mencari uang. Jadi Sian mau menerima tawaran Bibi Meeza.
Flashback dari rekaman video berakhir.
"Jadi kamu bekerja sama dengan Bibi Meeza?" Ucap Catty terkejut setelah mendengar apa yang di ceritakan oleh Sian.
"Tapi saat itu aku tidak tahu jika mereka akan menyuruhku memotret hal yang begitu tragis."
__ADS_1
Catty tak bisa berkata-kata lagi. Catty mulai menangis, ia tak bisa menahan air matanya lagi.
"Kamu memotret hal yang salah! Kamu memotretku saat aku memeluk kedua orang tuaku yang sudah dibunuh oleh Bibi Meeza ya kan! Seharusnya kamu memotret Bibi Meeza bukan aku!"
Catty berteriak dan marah pada Sian dengan tangisannya.
"Ya aku bersalah. Tapi tunggu dulu, ada sesuatu yang ingin aku tunjukan padamu."
Sian tiba-tiba membawa beberapa lembar foto dan ditunjukannya foto-foto itu pada Catty.
"Ini..." Ucap Sian sembari menunjukan foto saat Bibi Meeza, Suaminya dan juga Yuri anak perempuannya tengah melakukan pembunuhan kepada kedua orang tua Catty.
"Saat itu Bibi Meeza menyuruhku datang lebih lambat, tapi diam-diam aku datang lebih awal ke rumahnya karena aku begitu penasaran."
"Saat aku tiba disana aku mengintip mereka dari jendela kamar Yuri yang jendelanya terbuka dan mengarah langsung ke area ruang makan. Saat itu aku memotret kejadian itu. Kejadian Saat Bibi Meeza dan suaminya membunuh kedua orang tuamu Catty."
"Setelah beberapa menit mereka membersihkan diri mereka dari darah kedua orang tuamu. Mereka langsung membakar baju mereka untuk menghilangkan jejak. Lalu membawa pergi mobil kedua orang tuamu menuju hutan. Kemudian mereka meneleponku, dan aku bertemu mereka dihutan. Mereka memberiku uang yang sangat banyak."
"Akhirnya aku melakukan pekerjaan yang sangat haram. Aku kembali ke rumah bibi Meeza setelah kamu dan adikmu tiba disana. Lalu aku memotret kamu agar kamu yang di fitnah telah membunuh orang tuamu sendiri Catty."
"Sekarang aku menyerahkan diriku kepadamu Catty, aku mengenalmu sebagai seorang model yang sangat berbakat. Kamu harus bersinar kembali setelah fitnah besar ini. Aku harap semua bukti ini cukup."
Sian bercerita banyak tentang semua kejadian yang di lakukan oleh Bibi Meeza kepada kedua orang tua Catty.
Catty pun mengambil foto dan memori berisi rekaman sebagai bukti jika Bibi Meeza dan keluarganyalah yang telah membunuh orang tuanya.
"Aku akan kembali kesini dan membawamu Sian. Karena kamu telah bersekongkol dengan Bibi Meeza, aku harap kamu tidak menghilang dan benar-benar menyerahkan dirimu kepadaku dan polisi. Jika kamu menghilang aku yakin hidupmu tak akan tenang lagi." Ucap Catty pada Sian.
Catty akhirnya pergi dengan Marco dengan membawa bukti yang kuat dari hasil foto dan rekaman video yang diberikan oleh Sian.
Sekarang sudah terungkap siapa yang telah membunuh kedua orang tua Catty.
Catty dan Marco berjalan ke arah mobil mereka untuk kembali ke kota. Marco terus memeluk Catty dari samping sambil berjalan ke arah mobil mereka yang di parkir sedikit lebih jauh dari area rumah Sian dan Bibi Meeza.
Saat mereka tiba di mobil, Catty yang duduk disebelah Marco Tiba-tiba tak bisa menahan tangisnya. Tangisan Catty pecah saat tiba di dalam mobil.
__ADS_1
"Marco... Sekarang sudah terungkap siapa yang melakukannya. Aku senang bukti telah ditemukan. Tapi aku juga sedih merindukan mereka. Aku sendirian Marco." Ucap Catty sembari menangis.
Marco pun mendekatinya lalu menghapus air mata Catty.
"Sudah jangan berifikir lagi kalo kamu sendirian. Ada aku disini. Aku berjanji tak akan meninggalkanmu sendirian." Ucap Marco dengan lembutnya.
"Lalu sekarang apa yang ingin kamu lakukan setelah mendapatkan bukti itu?"
"Besok aku ingin membawa ini ke kantor polisi yang sebelumnya pernah menyelidiki kasus ini."
"Baiklah besok pagi kita akan kesana, sekarang istirahatlah, dan tidur karena perjalanan mungkin akan memakan waktu yang cukup lama Catty."
Marco dan Catty kembali ke rumah dengan hasil yang cukup memuaskan. Catty tertidur di dalam mobil karena hari sudah malam.
Setelah beberapa jam perjalanan, akhirnya Marco dan Catty tiba dirumah.
"Catty ayo masuk kita sudah tiba." Ucap Marco sembari membuka sabuk pengaman Catty.
"Ya baiklah Marco. Aku akan langsung pergi tidur aku sangat lelah Marco."
"Baiklah, pergilah tidur kita akan melakukan banyak hal lagi besok."
Saat Marco dan Catty akan masuk ke dalam rumah, Catty melupakan barang buktinya. Catty meninggalkan barang bukti itu di kursi belakang mobil.
Ketika Marco dan Catty akan masuk ke dalam rumah, mereka terkejut karena pintunya tak terkunci.
"Loh kenapa pintunya tak terkunci?" tanya Marco bingung.
"Padahal aku membawa kunci rumah ini."
Marco dan Catty seketika berhati-hati karena curiga Bibi Meeza ataupun orang asing ada di dalam rumah Marco.
"Catty tetap dibelakangku." Kata Marco sembari masuk ke dalam rumahnya.
......✨ Maaf ya kalo ada typo, belum aku revisi. ✨......
__ADS_1