Butterfly Hug

Butterfly Hug
CHAPTER 42


__ADS_3

Saat Marco dan Catty sudah masuk ke dalam rumah, mereka langsung di kejutkan oleh keheningan rumah.


"Marco aku rasa tak ada siapapun disini." Bisik Catty pada Marco.


"Tapi aku masih curiga dengan pintu yang tak terkunci itu. Aku rasa seseorang telah masuk kesini." Jawab Marco yang masih curiga.


Karena rasa curiga Marco yang begitu besar. Marco akhirnya dan Catty berjalan kesetiap sudut ruangan rumahnya takut seseorang ada disana dan melukai mereka berdua. Namun ternyata tak ada siapapun di setiap sudut ruangan rumahnya.


"Tak ada siapapun disini. Tapi aku yakin seseorang datang kemari. Dan aku rasa itu Bibi Meeza Catty. Aku takut dia akan melukaimu."


Marco Tiba-tiba memeluk Catty dengan eratnya.


"Aku sangat menyayangi'mu Catty, aku tak akan membiarkan orang lain menyakitimu."


"Oh Marco, aku meninggalkan barang bukti itu di dalam mobil. Aku harus mengambilnya."


"Naiklah keatas dan tidurlah, biar aku yang mengambilnya."


"Baiklah, selamat malam Marco."


Marco keluar menuju mobilnya untuk mengambil barang bukti yang tertinggal di dalam mobil.


Marco hanya pergi mengambil barang bukti itu beberapa menit. Tapi tiba-tiba Marco mendengar suara jeritan Catty.


"Argh!!! Marco!!!"


Marco terkejut lalu berlari masuk ke dalam rumah sembari membawa barang bukti itu.


Marco berlari naik keatas lantai dua menuju Catty yang tiba-tiba berteriak.


"Catty! Catty! Ada apa Catty!"


Saat Marco tiba diatas sana. Catty sudah tergeletak diatas lantai dengan leher yang sedang di cekik oleh Bibi Meeza.


Catty!!!


Marco mendekati Catty yang sedang di cekik oleh bibi Meeza. Marco mengambil gitar yang ada di samping meja komputernya lalu memukulkan gitar itu ke arah tubuh Bibi Meeza.


Argh!!!


Bibi Meeza berteriak kesakitan karena Marco memukul dirinya dengan sebuah gitar yang cukup besar. Dan akhirnya kedua tangan Bibi Meeza yang mencekik Catty terlepas begitu saja.

__ADS_1


Telinga Bibi Meeza berdarah akibat pukulan gitar itu. Hingga Bibi Meeza tergeletak di lantai.


Marco dengan cepat membangunkan Catty yang kesakitan dilantai.


Saat Marco mencoba membangunkan Catty, Bibi Meeza tiba-tiba menarik kaki Catty dan menggitnya seperti seorang monster yang kelaparan akan daging manusia.


Argh!! Brengsek!!


Catty berteriak kesakitan karena Bibi Meeza menggigit kakinya. Marco berusaha membantunya dan memukul pipi Bibi Meeza, Namun Bibi Meeza terus menggigit kaki Catty hingga Catty menangis kesakitan.


Catty pun tak terima, dan dengan berani Catty menendang wajah Bibi Meeza dengan telapak kakinya menggunakan kaki yang sedang digigit oleh Bibi Meeza.


Seketika hidung Bibi Meeza berdarah akibat tendangan Catty. Kaki Catty berhasil lepas dari gigitan Bibi Meeza yang seperti seorang monster kanibal itu.


Walau sudah lepas dari gigitan Bibi Meeza. Gigitan besar membekas di kaki Catty.


"Kemari Kau! Akan kubunuh kau Catty sama seperti aku membunuh orang tuamu! Bisa-bisamya kalian mendatangi rumahku didesa untuk mencari bukti!" Ucap Bibi Meeza dengan mata yang terbelalak.


Marco dan Catty seketika terkejut dengan ucapan Bibi Meeza.


"Bagaimana kamu bisa tahu hah?" tanya Catty dengan tatapan tajam pada Bibi Meeza.


"Kamu pikir saya tidak tahu hah! Saya meletakan pelacak di mobil Marco, kemanapun dia pergi bersamamu aku tahu segalanya!" Jawab Bibi Meeza dengan senyuman yang seperti setan.


"Tapi sayang kalian tak mendapatkan bukti kan dirumah itu, ingat saya akan menang kamu akan tetap kalah catty!"


"Aku akan menang dan memasukanmu ke dalam penjara seumur hidup Meeza, aku akan menang tunggu saja. Karena aku telah mendapatkan bukti!"


Saat Catty mengatakan jika dirinya telah mendapatkan bukti. Bibi Meeza seketika berdiri dan memberikan tatapan yang sangat tajam pada Catty.


"Tidak, itu tidak mungkin. Kamu tak akan pernah mendapatkan bukti. Karena semuanya tak ada. Bukti dari kejadian itu sama sekali tidak ada!"


"Oh apa anda sudah mulai takut, saya akan melaporkan anda ke polisi, Marco lihat wanita gendut psikopat dan kanibal satu ini mulai cemas, karena aku mendapatkan bukti."


Emosi Bibi Meeza muncul lagi, tiba-tiba Bibi Meeza memegang leher Catty kembali, Namun Marco menggagalkan'nya. Marco menarik tubuh Catty menjauh dari Bibi Meeza.


Tiba-tiba Bibi Meeza berlari terhuyung-huyung meningggalkan rumah Marco dengan penuh ketakutan sesaat setelah Catty berkata jika dirinya telah mendapatkan bukti.


"Pergi saja dan bersembunyi kamu Meeza! Kemanapun kamu bersembunyi dan menghidari polisi. Kamu akan tetap tertangkap, karena kamu tak punya sulap menghilangkan diri!" teriak Catty pada Bibi Meeza yang berlari ketakutan.


Setelah Bibi Meeza pergi dari rumah Marco dan kembali menuju rumahnya.

__ADS_1


Marco dan Catty dengan cepat mengunci pintu rumah dan setiap jendela rumah yang terbuka.


Catty yang tengah duduk di atas ranjang dihampiri oleh Marco yang membawa kotak p3k.


"Catty ayo obati luka gigitan Bibi Meeza itu."


"Sebelum mengobatinya, aku ingin pergi mandi dulu dengan air hangat malam ini Marco. Setelah Bibi Meeza menyentuhku rasanya aku sangat kotor sekali. Dia benar-benar seorang penjahat."


"Baiklah, aku juga akan pergi mandi. Aku akan kebawah dan kembali kesini setelah selesai mandi."


Marco dan Catty pergi mandi di kamar mandi yang berbeda. Untuk membersihkan tubuh mereka.


Setelah mereka selesai. Marco kembali naik ke lantai atas untuk menemui Catty dan mengobati luka di kaki Catty akibat gigitan Bibi Meeza.


"Makasih Marco, sudah mau menolongku dan merawatku dengan baik. Aku janji aku akan membalas semuanya."


Marco tak bisa berkata-berkata, Marco hanya menatap Catty dan memengelus wajahnya.


Saat Marco menatap Catty dan mengelus perlahan wajahnya. Marco melihat leher Catty sangat merah akibat cekikan Bibi Meeza.


"Astaga lehermu sangat merah." ucap Marco terkejut pada Catty.


"Ya aku tahu itu Marco, tak apa ini sudah tak terlalu sakit."


"Aku hampir kehilanganmu, aku tak ingin ini terjadi lagi Catty."


Marco tiba-tiba mendekati Catty lalu memeluk Catty dengan sangat erat. Marco memberikan ciuman di leher Catty yang merah akibat Bibi Meeza yang mencekiknya.


"Kenapa kamu mencium leherku yang memerah ini Marco. Ini sangat jelek."


"Aku harus mengobatinya dengan ciuman, agar rasa sakitnya sedikit hilang."


"Tapi itu malah membuatku geli Marco."


Marco tiba-tiba menggelitiki Catty, hingga membuat Catty tertawa tak tertahankan akibat gelitikan Marco.


Argh!! Marco!! Geli!!


Seketika kejadian yang menakutkan tadj, hilang begitu saja dalam pikiran Marco dan Catty.


Hingga mereka tertidur bersama dalam satu ranjang yang sama.

__ADS_1


"Tidurlah yang nyenyak, usahakan jangan pikirkan apapun saat akan tidur Catty. Aku ingin kamu sehat." Bisik Marco pada Catty yang tertidur diatas tangan Marco.


__ADS_2