Butterfly Hug

Butterfly Hug
CHAPTER 36


__ADS_3

Satu hari berlalu begitu saja, Hana masih belum sadar ia masih terbaring di ranjang rumah sakit dengan selang infusannya.


Marco, Alby dan kedua orang tua Hana masih ada disana menemani Hana.


Dalam pikiran Marco terus melintas nama Hana dan Catty dua wanita yang hadir dalam hidupnya lalu Marco menmpatkan mereka berdua dihatinya secara spesial. Marco menempatakan Hana dihatinya sebagai Sahabat sedangkan Catty diberi oleh Marco tempat yang spesial namun masih tanda tanya.


Marco terus melamun menatap Hana yang masih terbaring diatas ranjang rumah sakit. Walau tatapannya pada Hana namun hati dan pikiran Marco sebagian besar terus-terusan memikirkan Catty.


"Apa Catty pergi ketempat yang aku sarankan dan tinggal disana? Atau dia malah pergi dan menghilang?" tanya batin Marco.


Saat Marco melamun tiba-tiba Marco melihat mata Hana terbuka.


"Hana..." gumam Marco.


Seketika Alby yang ada disampingnya dan kedua orang tua Hana terkejut lalu mereka semua melihat ke arah Hana.


"Hana..." panggil sang ibu dengan mata yang berkaca-kaca.


Mereka berempat berdiri disamping ranjang yang di tiduri oleh Hana.


"Hana akhirnya kamu bangun sayang..." Ucap sang ibu dengan lembutnya sembari mengelus kening Hana yang sedikit berkeringat.


"Bb-bu... Aku takut, aku takut dengan wanita itu. Dia-- Dia benar-benar seperti seorang psikopat. Aku tak ingin bertemu denganya lagi." Ucap Catty dengan penuh kecemasaan.


"Catty semuanya akan baik-baik saja, lihat disini ada ibu, ayah Marco dan juga Alby. Kami akan melindungimu."


Saat ibunya mengatakan itu, Hana tiba-tiba menatap ke arah Marco.


Marco tersenyum pada Hana dan membuat Hana terdiam bahkan membuang muka padanya.


Dan Ibu Hana tersadar jika Hana membuang muka pada Marco.


"Hana... Jangan seperti itu, Marco yang membawamu kemari."


"Tante, Om, Alby boleh aku berbicara dengan Hana berdua saja? Ada sesuatu yang ingin aku katakan pada Hana."


Mereka bertiga keluar dari ruangan itu meninggalkan Marco dan Hana berduaan.

__ADS_1


Marco duduk disebuah kursi disamping ranjang Hana. Dan Hana masih saja memberikan tatapan marah pada Marco.


"Hana... Aku minta maaf, maaf aku malah mengabaikanmu. Aku benar-benar minta maaf. Kamu tahu aku merindukanmu Hana, aku merindukan masakanmu, merindukan suaramu yang selalu memanggil namaku. Hana kamu sahabat terbaik yang pernah ada. Aku mohon maafkan aku."


"Aku tahu itu Marco, tapi bagaimana dengan perasaanku. Aku menanggapmu lebih dari sahabat. Aku punya perasaan padamu Marco."


Marco tiba-tiba memegang tangan Hana perlahan. Dan Hana akhirnya menatap mata Marco.


"Hana... Aku tahu kamu menyukaiku. Aku benar-benar berterima kasih akan hal itu. Tapi kamu tahu Hana, ada seseorang yang lebih menyukaimu dibanding aku."


Seketika Hana terkejut saat Marco mengatakan jika ada seseorang yang lebih mencintai Hana dibandingkan dirinya.


"Hana, Alby sangat menyukaimu, setelah sekian lama dia memendam perasaannya padamu. Alby sahabatku Hana, mana mungkin aku mengambil wanita yang sangat dia cintai. Pasti hatinya akan hancur."


Hana tiba-tiba meneteskan air matanya setelah tahu bahwa Alby menyukainya.


"Marco... Apa yang kamu katakan itu benar?"


"Hana, mana mungkin aku berbohong. Cintai Alby Hana, dia sangat membutuhkanmu dalam hidupnya. Dan aku akan tetap menjadi sahabatmu dan Alby."


"Marco boleh aku memelukmu?"


"Marco... Maafkan aku. Dan tetaplah jadi sahabatku, rasanya hampa tanpa kamu Marco." gumam Hana dalam pelukan Marco.


"Marco aku ingin berbicara dengan Alby, bisakah kamu membawanya kemari?"


"Ya Hana, aku akan memanggil Alby." Marco tersenyum saat Hana mulai berubah dan mau menerima kenyataan.


Marco berlari keluar untuk memanggil Alby.


Tak lama Marco kembali dengan Alby menghampiri Hana.


Hana terus memberikan senyuman pada Alby. Hingga membuat Alby sedikit malu dan salah tingkah.


"Alby... Kemari aku ingin berbicara denganmu." panggil Hana pada Alby.


"Y-ya... Hana ada apa?" Tanya Alby gugup.

__ADS_1


Marco tiba-tiba keluar meninggalkan Hana dan Alby di dalam berduaan dengan senyumannya.


Marco merasa lega setelah masalahnya bersama dengan sahabatnya sendiri mulai membaik.


Setelah Marco menunggu beberapa menit diluar, tiba-tiba Alby keluar dari ruangan itu dan menyuruh kedua orang tua Hana masuk.


Alby tiba-tiba berlari mendekati Marco dengan senyuman yang lebar.


"Mar!!! Thanks ya lo udah ngertiin sahabat lo ini. Lo tau hari ini Hana punya gue!"


"Selamat ya Al, lo pantes dapetin Hana. Jaga dia, awas aja lo sampe bikin Hana nangis. Gue patahin leher lo!"


Marco dan Alby sama-sama tersenyum setelah mendengar kabar yang membagiakan.


Saat malam tiba, ketika Marco, Alby dan kedua orang tua Hana masih ada di rumah sakit. Hana mulai menceritakan apa yang terjadi dengan dirinya.


"Saat itu aku melihat tetangga baru kita Marco, dia tiba-tiba membuka gerbang rumah kamu yang terkunci."


"Hana, siapa yang melakukannya? Apa dia wanita yang bertubuh besar itu, yang bernama Meeza itu?" potong Marco saat Hana sedang mencoba menceritakan apa yang sudah terjadi.


"Ya. Benar Marco, wanita bertubuh besar itu masuk diam-diam ke dalam rumahmu. Karena aku curiga aku menghampirinya perlahan dari belakang. Saat wanita bernama Meeza itu berhasil membuka paksa pintu rumahmu. Dia masuk ke dalam rumahmu. Namun saat aku memergokinya. Dia tiba-tiba mengeluarkan sebuah pisau dari kantung pakainnya. Dan menusukannya di perutku."


"Lalu dia memberikan tatapan yang sangat menyeramkan padaku. Aku kesakitan saat itu hingga darahku keluar begitu banyak. Tapi tiba-tiba wanita itu menyentuh semua darah yang keluar dari perutku dan mengambil pisau yang menusuk perutku."


"Lalu dia pergi kemana?" pangkas Marco lagi.


"Dia berlari ke lantai dua yang menuju kamarmu, setelah itu aku tak tahu apa yang terjadi disana, karena sama sekali tak ada suara dari atas sana. Saat aku sudah tak berdaya dilantai, wanita itu tiba-tiba turun dari lantai dua kamarmu dan pergi begitu saja."


Setelah Hana menjelaskan kejadiannya, tiba-tiba Mata Marco terbelalak dan menundukan pandanganya.


"Astaga, aku sudah memfitnah Catty dan mengusir Catty dari rumahku. Sebenarnya ada Catty disana tengah tertidur. Saat aku kesana pintu kamar sudah terikat oleh sebuah kain dari luar. Namun pisau dan darahmu Hana tiba-tiba ada ditangan Catty."


"Marco mungkin itulah kenapa, wanita bertubuh besar itu terus menyentuh darahku, karena dia sedang memanipulasimu Marco. Pasti wanita bertubuh besar itu menyentuh tangan Catty dengan darahku dan menyimpan Pisau itu ditangannya. Dan saat kamu melihatnya lalu kamu berfikir Catty yang melakukannya."


"Mar apa jangan-jangan sebelumnya wanita itu ingin mencoba melukai Catty, karena dia membawa pisau." Sambung Alby


Marco pun mulai cemas, tiba-tiba Marco berlari keluar dari rumah sakit.

__ADS_1


...Maaf aku sibuk di real life, jadi baru bisa update sekarang:(...


__ADS_2