
Begitu mempesona meski dari sisi manapun terlihat. Selalu saja tampak pas dan cocok dengan segala hal yang dikenakan. Dan selalu saja terlihat ada pada situasi dan saat yang tepat.
Bukan karena matanya yang bening bagai tetesan embun dipagi hari. Bukan karena senyumnya yang seolah membiarkan kedamaian bertengger diatasnya. Bukan karena parasnya yang menunjukan begitu Tuhan maha dalam rasa seni. Bukan pula karena tingkah lakunya yang selalu terlihat senada dengan essensi keindahan gerak.
Namun karena keseluruhan dalam dirinya lah yang membuat gadis itu begitu mempesona. Itulah yang ada dalam pikiran James saat dimana ia hanya berdiri diam dibalik meja pesan–menatap Helen yang sedang bersendau gurau dengan kedua temannya dimeja diujung ruangan dalam café itu.
Sebuah franchise café dalam sebuah mall berkelas. Helen adalah teman sekampus James, dan memang James menaruh hati pada awal ia melihat gadis itu disebuah acara kampus. Namun Helen yang selalu bergaul dengan lingkungan tingkatannya, atau yang ia anggap setingkat dengannya membuat James sulit untuk mendekatinya.
Memang salah satu motivasi James kerja di café ini ialah karena Helen selalu datang secara berkala ke café ini, mengingat café ini adalah milik ayahnya. Jadi James berfikir ia mungkin akan mendapat kesempatan untuk lebih bisa dekat dengan Helen atau setidaknya mengenal pribadi gadis itu lebih. Syukur-syukur bisa memperkenalkan diri pada Helen.
“Yang tengah itu namanya Helen” tiba-tiba terdengar suara disebelah James yang membuatnya terjaga dari lamunan.
“Oh kamu Zab” ternyata Zabrina, teman sepekerjaan James.
“Kamu tau siapa Helen itu?” Tanya Zabrina lagi.
James mengangguk “dia anak pemilik café inikan?” jawab James masih belum memindah pandangannya dari Helen.
“Bukan hanya café ini, tapi semua property yang ada dalam mall ini” saut Zabrina.
James menatap Zabrina sambil tersenyum kecil. Kemudian ia mengangguk pelan. James tau tentang hal tersebut, bahkan sampai hal-hal seperti berapa jumlah mobilnya, berapa hotel berbintang yang dibawahi atas nama perusahaan ayahnya, berapa total seluruh kekayaan keluarganya, berapa property hingga profit yang diperoleh perusahaan ayahnya dalam sehari.
“Kau menyukainya?” Zabrina bertanya lagi, saat James kembali menatap kearah Helen.
__ADS_1
“Those who only dreaming is a loser” Iton teman sekerjanya yang lain berkomentar sembari lewat untuk mengantar pesanan seseorang.
“Sialan!” timpal James dan kemudian kembali menatap kearah Zabrina dengan senyuman tanpa jawaban.
Zabrina menatap James dengan tatapan yang biasa, seolah Mannaquin tanpa emosi. James mengenal Zabrina kurang lebih 2 minggu yang lalu, saat pertama ia baru bekerja di café ini. Gadis itu memiliki sifat pendiam yang nyaris tanpa emosi, ditambah perkataannya yang sekali ia ucapkan bisa sangat menusuk perasaan itulah yang membuatnya sulit untuk bergaul dengan rekan kerjanya yang lain.
Namun mungkin karena sifat James yang mudah bergaul dan tak pernah ambil pusing itulah yang membuatnya bisa lebih cepat akrab dengan gadis itu dari pada yang lainnya. Namun tetap saja Zabrina adalah seorang gadis yang penuh misteri bagi James.
Tiba-tiba terdengar suara dari arah meja Helen, salah satu temannya melambaikan tangan kearah James.
Dengan segera dan bergegas James berjalan menuju kemeja Helen.
“Tuh lihat fan-boy lo, Len” celetuk teman-teman Helen di sela tawanya.
“Kalau ga salah lo anak Tehknik kan?” Tanya teman Helen yang memakai lima anting ditelinga kirinya.
“Ya benar” James menjawab dengan senyum ramahnya.
“Lo part-time ya disini?” Gadis dengan lima anting itu bertanya lagi.
“Ya” Jawab James masih dengan senyuman.
“Buat tambah pengalaman, apa buat tambah uang kuliah” Celetuk teman Helen yang satunya, yang disusul dengan tawa oleh yang lain.
__ADS_1
James hanya terdiam dalam senyum.
“Sudah-sudah. Ini, bisa tolong tukarkan kursi ini dengan yang itu” Helen meminta James menukar kursinya dengan kursi dimeja sebelahnya ”kursi yang ini ga enak buat duduk”
“Baiklah” ucap James seraya mengangkat dan menukar kursi yang dimaksud.
Helen meletakan sejumlah uang dimeja “dan ini tips buat lo, supaya lo ga putus kuliah” Tambah Helen yang disusul dengan ledakan tawa yang lebih seru dari sebelumnya.
“Terima kasih, tapi ga usah” James menjawab dengan tersenyum.
“Ye, terima aja, jangan sok ga butuh” celetuk yang ber anting lima tadi.
“Iya, jangan malu, lagian ini halal kok. Ga perlu gengsi” saut teman Helen yang satunya, yang disusul dengan tawa renyah yang lain.
”Terima kasih” ucap James seraya mengambil lembaran uang yang ada dimeja dan kemudian beranjak pergi.
“Masih belum mau disebut Loser?” Tanya Iton yang sengaja mendekati James untuk sekedar mengejeknya.
James hanya nyengir menatap Iton “Akan aku buktikan” sautnya kemudian.
“Jangan siapkan tempat terlalu tinggi untuk jatuh” saut Iton sambil lalu.
Terlihat Zabrina menatap James dari balik meja pesan dengan ekspresi yang tidak dapat ditebak.
__ADS_1