Catatan Cinta

Catatan Cinta
_catatan tiga_bagian keenam


__ADS_3

“Lama banget sih, lo ga bikin ulah, kan?” Tanya Helen begitu James sudah kembali kemeja mereka.


James hanya tersenyum kecil “binggung cari toiletnya” jawabnya singkat seraya menatap satu waitress yang sedari tadi berdiri didekat Helen menanti pesanan.


“Ya udah, lo mo pesen apa sekarang?” ucap Helen seraya menyerahkan buku menu ke James. Namun belum James sempat membaca, buku menu itu ditarik kembali oleh Helen “gue lupa” ujarnya kemudian “ini restouran Prancis, jadi percuma saja lo gue suru pesen. Mending gue pesenin aja”


James hanya tersenyum diam.


Tak berapa lama pesanan mereka datang.


“ini namanya pasta, lo belum pernah makan yang seperti ini kan?” Tanya Helen dengan nada mengejek.


Sedang James masih hanya tersenyum kecil tak menjawab. Ia bukannya tidak pernah makan, tapi jenis makanan ini memang bukan seleranya. Lidahnya sudah terbiasa dengan masakan lokal.


“Lo juga harus tahu cara makannya” jelas Helen lagi “lo pasti binggungkan kenapa banyak sendok garpu diatas meja? Jadi lo ikutin gue aja, kalo gue makan pake sendok yang mana, paham?!” jelasnya panjang lebar pada james dengan gaya Bossy nya.


James hanya mengangguk pelan. Ia merasa geli sendiri, padahal beberapa waktu lalu ia mengajarkan hal ini pada Rika, dan sekarang Helen malah mengajarkan manner ini padanya.


Mereka makan tak lebih dari 45 menit, lalu kemudian beranjak pulang.


“Emang aura lo kampungan banget, lihat sampai-sampai semua karyawan restoran ini memperhatikan kita terus. Bikin malu aja” Helen terlihat sewot sendiri karena sedari dia berdiri dari meja hingga sampai dekat mobilnya, semua karyawan menatapnya tanpa henti. Beberapa malah ada yang berbisik-bisik “gue emang salah bawa lo ketempat ginian, nyesel gue” tambahnya seraya masuk kedalam mobil.


Lagi-lagi James hanya bisa terdiam. Ia tahu bahwa karyawan itu melihat mereka bukan karena ia yang kampungan, tapi karena ia yang aneh melarang mereka menyapanya.


“Alamat rumah lo mana biar gue anter” ucap Helen kemudian setelah mobilnya kembali berjalan.


James terkejut Helen menanyakan alamat rumahnya “ga usah” jawabnya tergagap “anterin balik ke café aja” tambahnya lagi.


Helen menatap James dengan sedikit heran. Kemudian mengangguk “Baiklah” ucapnya kemudian.


Untuk kesekian kalinya mobil oranye mungil itu kembali ke tempat kerja James, namun kali ini tak sampai ke area parkir. James minta untuk diturunkan didepan gerbang saja.


“Baiklah kalau begitu” ujar James bersiap untuk turun.


“Eh, tunggu dulu” ucap Helen tiba-tiba.


“Kenapa? Ada yang kurang?” Tanya James kemudian mengurungkan rencananya membuka pintu mobil.

__ADS_1


“Ga jadi” jawab Helen kemudian.


“Baiklah kalau begitu” James membuka pintu dan keluar. Dan setelah James melambai kecil, mobil itupun melesat cepat.


~*~


“Bagaimana kemarin?” Tanya Iton begitu James masuk pagi ini.


“Apanya?” Tanya James balik.


“Kemarin lusa tu anak udah cariin kamu, tapi waktu itu kamu pas libur” ujar Iton tak menghiraukan pertanyaan James tentang apa yang sedang mereka bicara.


“Helen maksud mu?” Saut James yang baru sadar Helen lah topik pembicaraan mereka.


“Ya jelaslah. Kemarin kau tahu, setelah kau keluar semua jadi heboh” saut Iton “aku sendiri aja ga percaya. Emang kau pake guna-guna apa?”


“Sialan. Berjuang nih sampai titik darah penghabisan” saut James.


“Terus?” Tanya Iton penasaran.


“Apanya yang terus?”


James memandang Iton dengan mengeryitkan dahi “kamu ini tanya kaya infotainment aja”


“Yaelah, beneran nih penasaran aku, eh mungkin bukan cuma aku aja yang penasaran. Jadi sebelum timbul gosib buruan klarifikasi”


“Klarifikasi? Kaya selebritis aja”


“Ayo cepetan cerita” desak Iton.


Tapi belum juga James membuka mulutnya tiba-tiba dari arah pintu muncul Helen. Spontan James dan Iton terdiam seolah membeku ditempat.


“Nih. Kemaren lupa ngasiin, ini buat lo” ucap Helen seraya menyerahkan bungkusan pada James. Dan belum juga James berucap untuk menanyakan untuk apa, Helen sudah melenggang pergi meninggalkannya.


“Panjang umur banget tuh bocah” ujar Iton begitu Helen kembali lenyap dibalik pintu masuk.


James memperhatikan apa yang diberikan oleh Helen padanya. Kotak kardus tanggung dengan Brand mahal tertulis diluarnya. Kemudian James ingat, barang ini yang Helen beli kemaren.

__ADS_1


“Apa isinya?” Tanya Iton dengan semangat, karena penasaran.


James membuka kotak itu terdapat kaos dua potong dan kemeja satu potong, tertata rapi didalamnya. Baru James sadar kenapa kemaren Helen menyempatkan masuk kesalah satu Distro pakaian cowok, dan dengan keukeuh minta dia mencoba beberapa baju dan T-shirt. James merasa senang, karena Helen sudah mulai perhatian padanya.


“Apa yang kau pikirin, hayo?!” ucap Iton saat melihat James mulai tersenyum sendiri.


“Apaan? Udah ah, lanjut kerja” ucap james seraya membawa kotak hadiahnya itu menuju loker untuk disimpan.


“Hidup itu baik ya” ucap James saat mereka tengah beristirahat dibalkon penonton di GOR setelah Rika selesai berlatih seperti biasanya.


“He-he..” Rika tertawa kecil “itu bila dilihat dari sudut pandangmu” tambah Rika sambil mengusap keringat dilehernya dengan handuk “coba kau turunkan derajatnya sedikit sampai ke derajad sudut pandangku. Maka kau ga akan bisa ngomong kaya gitu” tambahnya.


James hanya menatap Rika dengan penuh perhatian.


Sementara Rika meneguk sisa terakhir air dalam botol minumnya “Kau ga pernah mengalami bagaimana tekanan yang diberikan kehidupan untuk mengejarnya” Rika berkata lagi. Matanya menerawang menembus segala hal yang dapat dilihat dihadapannya “dan bila ga mampu mengejarnya, maka kau akan jatuh dan tertinggal. Karena hidup tak pernah mau menunggu” ia menutup ucapanya dengan senyuman getir tertoreh diwajahnya.


“Jangan berfikiran skeptis dan pesimis seperti itu” James berusaha berargumen.


“Ya beruntungnya aku, karena dengan semua itu aku bisa bertahan sampai sekarang” jawab Rika cepat.


“Maksudku dibalik semua itu, bukankah hidup itu baik” ucap James saat mereka berdua sudah bersiap pulang.


Rika terlihat sedang berfikir memaknai ucapan James barusan.


“Benerkan. Pasti ada hal yang membuktikan kalo hidup itu baik” tambah James.


“Sebenernya kamu mau ngomong apa sih? Udah ga usah berbelit-belit. Kalo mau cerita ya cerita aja” jawab Rika sebel. Ia tau tabiat sahabatnya ini. Bila ingin menceritakan sesuatu yang sedang dialaminya, selalu saja melakukan pembukaan yang ga penting dan ga perlu.


Sedang James hanya tersenyum malu mendengar ucapan Rika barusan “sebenernya…” James senyum-senyum.


“Ayo apa? Buruan?” Rika tampak jengkel dengan sikap James.


James masih tersenyum belum menjawab.


“Jangan-jangan mau cerita tentang si iblis betina itu ya?” Rika menduga. Dan perubahan wajah James memberitaunya, bahwa dugaannya tepat “ogah ah, aku ga mau denger cerita tentang iblis itu” tambah Rika buru-buru seraya berjalan pergi.


“Hey Ka! Jangan gitu dong” James mengejar Rika.

__ADS_1


~*~


__ADS_2