
Terasa malam ini udara begitu panas, tidak heran James mengenakan kaos tanpa lengan dan celana pendek saat keluar hendak mencari makan. Memang musim panas dipulau tropis ini akan sangat kering, mengingat lebih dari 70% bagiannya adalah pantai.
James mencari minuman dan makanan di café luar sekalian ia hendak berjalan-jalan menikmati malam pulau ini, untuk menghilangkan kebosanan selalu ada didalam hotel.
Diluar tampak banyak orang berlalu-lalang dengan berjalan kaki maupun berkendara. James mulai berjalan menikmati malam dengan banyak sekali kesibukan disana sini. Setelah cukup lama ia berjalan, James berhenti disebuah café dengan pemandangan laut gelap membentang di antara beberapa api ungun yang sengaja dinyalakan di bibir pantainya.
Musik-musik pantai terdengar sayup diantara dengungan orang-orang disetiap meja. Benar-benar tidak menyesal ia ikut ayahnya yang akan menghadiri acara perusahaan dipulau ini.
Tiba-tiba pandangannya menangkap sesosok yang sangat akrap dalam matanya, mungkin memang sosok inilah yang ia tunggu-tunggu. Berjalan diantar lebih dari lima orang, Helen dengan anggun membuat James salah tingkah. Jantungnya berdetak tak karuan, benar-benar pulau yang kecil pikirnya.
Walau kelihatan Helen tak menyadari keberadaannya, hal itu masih membuat James kalang kabut dan mencoba untuk segera bersembunyi. James tak mau terlihat oleh Helen berada di café yang memang tergolong menengah keatas ini. Entah kenapa ia masih saja ingin menyembunyikan identitasnya pada Helen.
Namun tiba-tiba saat ia mencoba pergi dari café itu dengan tanpa terdeteksi oleh Helen, ia menabrak salah satu meja yang ada disitu dan menjatuhkan semua makanan dan minuman yang ada diatasnya dengan suara gaduh yang sudah pasti akan menjadi perhatian.
“Eh? Itu kan fan-boy mu, Len” ucap teman Helen yang berambut orange-pink, yang sedang mencari tau suara gaduh barusan, dan tampaknya mengenali James.
“Benar. Fan-boy mu Len, kenapa ia bisa ada disini?” Temannya yang bertopi lebar membenarkan, setelah ia mengamati dengan seksama.
Helen mengangkat wajahnya kearah suara gaduh tadi mencari tau hal yang baru saja dibicarakan oleh temannya. Didapatinya sesosok James yang tampak kebingungan–salah tingkah meminta maaf pada pelayan yang mencegahnya membereskan barang-barang yang dibuatnya berserakan barusan.
“Siapa Hel?” Kini salah satu teman cowoknya yang bertanya.
“Pecundang” Saut Helen santai seraya berjalan meninggalkan tempat itu “Ayo kita pergi. Ntar kita ketinggalan konsernya lagi” ajak Helen kemudian.
Dan rombongan Helen pun pergi meninggalkan James yang masih mencoba meminta maaf, yang kali ini pada manager café itu.
-
__ADS_1
“Apa yang barusan ku lakukan?” James menghelai nafas panjang, menyesali kebodohnya yang baru saja ia lakuan dihadapan Helen. James terenyak disebuah kursi didepan sebuah swalayan 24 jam, dengan sekaleng soda mencoba mendinginkan mukanya yang hampir terbakar karena rasa malu.
Selang beberapa waktu kemudian James memutuskan untuk kembali ke hotel–disamping perasaannya yang mulai terasa tidak nyaman, ia juga merasa lebih baik menyudahi malam hari ini. Mungkin dengan meninggalkannya tidur masalah ini dapat ia lupakan.
James berjalan pulang menyusuri jalanan yang sangat riuh mulai dari café, distro, resto, segala hal yang berbintang, sampai penjajak keliling hasil kerajinan, dan beberapa artis tatto yang menggelar stan-stan mereka dipinggir jalan. Tapi James sudah tidak dapat menikmatinya lagi, masalah tadi membuatnya tak bersemangat.
Namun tiba-tiba dengan sempoyongan seorang pria menabrak James hingga membuat pria itu sendiri terjatuh. Tampak pria itu sedang mabuk.
“Anda baik-baik saja, pak?” Tanya James sambil mambantu pria itu berdiri. Pria itu bergumam tidak jelas sambil mencoba mencari keseimbangan tubuhnya “Bagaimana pak? Anda masih bisa berjalan?” Tambah James saat tiba-tiba pria itu muntah pada pakaiannya.
Dengan spontan James mendorong pria itu menjauh “Sialan!” Umpat James sambil menatap bajunya yang kini kotor karena muntahan “Sial banget aku hari ini” James menatap pria mabuk itu dengan mengeleng.
Segera setelah itu James mencari kamar mandi untuk membersihkan diri dan meninggalkan pria itu ditengah jalan.
James masuk kesebuah gang kecil diantara café dengan tanda petunjuk ‘TOILET’ diatasnya. Ia merasa sangat sial malam hari ini, ia merasa harus segera pulang sebelum kesialannya bertambah. Dan setelah ia selesai membersihkan bajunya–walau masih meninggalkan bercak noda yang besar–buru-buru ia keluar untuk segera kembali ke hotel.
Namun sebelum Helen menyadari kehadirannya, segera James kembali masuk, menutup pintu dan terdiam didalam toilet itu sambil setengah sadar mencoba mengerti dan memahami apa yang baru saja ia lihat.
James tidak mau menduga apa yang sebenarnya terjadi diluar sana. Suasana menjadi sunyi, bahkan James dapat mendengar detak jantungnya sendiri.
Selang lima menit kemudian pintu toilet James diketok dari luar “Hey, cepat gue mau pake toilet ini” terdengar suara Helen dari luar.
James terdiam berusaha tanpa suara dan gerakan yang menunjukan bahwa ada kehidupan dalam toilet itu.
“Hey, cepat keluar gue tau lo didalam. Ayo cepet keluar” ucap Helen yang mulai tidak sabar.
Seolah terhenti jantung James mendengar ucapan Helen barusan.
__ADS_1
“Hey, bocah café! Gue mau pake toiletnya cepet keluar!” Tambah Helen dengan nada keras.
James lebih terkejut mendapati Helen tau bahwa ia yang berada didalam toilet ini.
“Lo mau gue dobrak ni pintu?! Cepet keluar! Lo lagi ngapain sih didalem?” Terdengar suara Helen mulai berbalut emosi.
Dengan segera James membuka pintu toiletnya, dan mendapati Helen dengan wajah kesal menatap kearahnya. Tampak Helen seorang diri dan terlihat dia sedang mabuk.
“Lo ngapain sih lama banget?!” Helen segera nyelonong masuk kedalam toilet, setelah mendorong James keluar.
James masih tak mengerti dengan situasi yang baru saja ia hadapi ini. Ia masih terdiam didepan toilet itu saat kemudian terdengar suara muntahan dari dalam.
“Lo? Bagaimana lo bisa sampai sini?” Tiba-tiba terdengar diantara suara kran air suara Helen bertanya dari dalam, saat James hendak pergi dari tempat itu.
Belum mengerti apa yang dimaksud Helen, James hanya terdiam tak jadi beranjak dari tempat itu.
Tak berapa lama Helen keluar dari toilet “Kenapa lo ga jawab?” Tanyanya kemudian dengan wajah yang lebih kucel dari sebelumnya.
“Apa?” Tanya James spontan karena terkejut.
Helen hanya menggeleng pelan “pake telinga!” Ucap Helen sambil menunjuk ketelinganya “Apa lo ngikutin gue kesini ya?”
James menatap Helen dalam beberapa detik sebelum berbalik dan meninggalkannya sendiri didepan toilet itu.
Helen terkejut mendapati tingkah laku James “Hey! Lo mau kemana?” Ucap Helen terlihat tidak terima diacuhkan seperti itu oleh James.
Anggap tidak pernah melihatnya. Jangan dibayangkan. Yang baru saja tadi bukan lah apa-apa. Ayo James! Ucap James untuk dirinya sendiri dalam perjalanannya kembali ke hotel. Ia tau hal ini bukanlah hal yang ‘bukan apa-apa’ dan tak akan dapat dilupakan semudah itu.
__ADS_1
~*~