Catatan Cinta

Catatan Cinta
_catatan dua_bagian kedua


__ADS_3

Sudah dari dua jam yang lalu mereka—James, Rika, dan Cludia–adik James berada disebuah butik untuk memilihkan pakaian buat Rika kenakan keacara nanti malam.


Sedangkan orang yang sedang dipilihkan selalu tampak dalam mood yang buruk, mulai dari tempat parkir butik sampai sekarang tak nampak sedikitpun senyum diwajah Rika.


Itu karena ia harus mengenakan gaun dalam acara nanti malam, pakaian yang tak akan pernah muncul dalam list disepanjang hidupnya. Bila tau harus mengenakan pakaian tertentu mungkin ia akan berpikir ulang untuk menyetujui ajakan James.


“Kalau cuma sebentar kenapa harus pake dress code nya sih?” Ucap Rika yang sedari tadi selalu diulang-ulangnya.


“Memang kau mau datang dan menjadi pusat perhatian? Ingat tujuan kita untuk tak terdeteksi” Saut James segera.


“Lagian kau pikir acara ini acara kondangan yang bisa kau hadiri hanya dengan kemeja dan celana jeans? Lagi pula kan cuma sebentar” kali ini Claudia yang berucap.


“Iya itu salahku terlalu rapuh akan rengekan seseorang. Tapi kenapa bukan kau saja yang menemaninya sih, Claud?” Kali ini Rika bertanya pada Claudia.


“Maaf, nanti malam aku ada urusan penting yang tak terbantahkan” saut Claudia cepat dengan senyuman mengembang.


“Kenapa aku selalu saja sial saat bersamamu” keluh Rika pada James yang hanya dibalas dengan senyuman kecil.


Kurang dari setengah jam kemudian akhirnya mereka menemukan gaun yang cocok untuk Rika.


“Nah kalau beginikan bagus” Ucap pemilik butik yang ikut membantu memilihkan gaun buat Rika “warna dan modelnya cocok buat bentuk tubuh dan potongan rambutmu” tambahnya mengagumi hasil pilihannya sendiri.


“Ya, cocok. Kelihatan feminim” ucap Claudia ikut mengiyakan.


“Benarkah?” Tanya Rika yang menatap kearah cermin mengamati tubuhnya sendiri “tapi bagian ini gatal sekali” tambahnya sambil menggaruk bagian punggungnya “dan yang sini bukannya terlalu terbuka” kali ini ia mengomentari bagian pundaknya.

__ADS_1


Sedang James hanya terdiam menatap sosok sahabatnya itu berubah secara drastis. Kesan tomboy yang selalu terlihat pada Rika kini benar-benar lenyap. Gaun berwarna gading dengan sedikit ornament dibagian dada dan lingkar pinggang itu terlihat sangat cocok dengan bentuk tubuh dan warna kulit Rika yang sedikit pucat, bentuk dibagian pundak yang sedikt terbuka dan sebuah kalung mutiara pada lehernya benar-benar membuat kesan feminim meski potongan rambut Rika tergolong sangat pendek untuk ukuran gadis. Leher dan kakinya yang jenjang kini nampak membuatnya terlihat nyaris bagai seorang model.


“Ada komentar?” Sela Claudia saat mendapati kakaknya terpaku diam menatap Rika.


“Eh, kau terlihat lain” Saut James kemudian.


“Aneh ya? Aku juga merasa seperti itu” Rika mengerutkan keningnya seraya mengamati ulang tubuhnya dari cermin “bagaimana kalo kita ganti saja?”


“Bukan, maksudku kau jadi terlihat feminim” Saut James buru-buru.


“Iya kan, bukankah aneh melihatku feminim? Aku saja merasa aneh” ujar Rika yang masih mengamati tubuhnya sendiri “bagaimana, kita cari yang lainnya?”


“Namanya gadis ya memang harus feminim, apanya yang aneh?” Pemilik butik berucap seraya membetulan bagian pundak gaun Rika yang sedari tadi coba untuk ia tutupi.


“Bener, kamu ga aneh kok, cuma aku belum terbiasa aja melihatmu seperti ini, tapi bukan sesuatu yang buruk” kali ini James menjelaska maksud dari ucapanya yang sebelumnya.


“Tidak, tidak akan jadi perhatian kok, kamu bener-bener terlihat cantik dengan gaun ini” Saut Claudia buru-buru meyakinkan Rika.


“Bakal jadi perhatian karena kecantikanmu” Saut pemilik butik yang kini menatap Rika seolah ia sedang mengapresiasi sebuah lukisan maha karya.


“Oke, baiklah sekarang waktunya balik” Ucap James kemudian menutup topik tentang ‘seberapa pantas’ ini sebelum Rika berubah pikiran “kita masih harus bersiap-siap, nih” tambahnya lagi saraya menatap jam tangannya.


-


“Sepatu ini benar-benar menyiksa” Ucap Rika setelah ia sudah berada di mobil dalam perjalanan menuju ketempat acara seraya membetulkan posisi High heels yang terpaksa lagi harus ia kenakan untuk mengimbangi gaunnya “hanya sepatu lari saja yang cocok untukku” tambahnya.

__ADS_1


Kurang dari setengah tujuh mereka berangkat. Mereka diantar supir karena James tak bisa menyetir mobil. James mengenakan jas hitam dengan kemeja gading menyesuaikan warna gaun Rika. Padahal hampir setengah jam Claudia membujuknya untuk memakai Tuxido agar terlihat serasi dengan gaun Rika, tapi James memang anti dengan baju pinguin itu.


“Beruntungnya aku terlahir sebagai laki-laki” Saut James dengan senyum lebar.


“Ya ini semua karenamu” balas Rika dengan ketus “tapi mungkin sebanding juga sih dengan permintaanku-permintaanku nanti” ucapnya lagi setelah terlihat terdiam sebentar.


“Kau tak berniat membalas dendam dengan permintaan itu, kan?”


“Hm, kurasa aku tak sepicik itu” jawab Rika cepat dengan senyum yang mulai melebar “setidaknya aku tak akan menggunakan ketiga-tiganya untuk balas dendam”


“Tapi kau ga boleh membuat masalah apaun nanti, atau semua persyaratan batal” James terlihat pasrah dengan apa yang hendak dilakukan Rika nanti untuk membalasnya.


“Bukan masalah, akan ku pastikan kau bisa menerima permintaanku dengan hati tanpa beban” Saut Rika dengan ringannya.


Tak berapa lama mobil yang membawa James dan Rika sudah memasuki sebuah pekarangan. Banyak mobil telah terparkir disebuah pekarangan yang sangat besar itu. Taman dengan air mancur berhias patung-patung yunani berada di tengah-tengah pekarangan itu.


James mengamati setiap orang disekitarnya, beberapa yang baru turun dari mobil, dan beberapa yang tengah berjalan menuju kegedung acaranya. Sedikitnya dua dari lima orang mengenakan topeng pada wajahnya walau tak serupa.


Dan kemudian James membuka undangan miliknya, mengamati dan membaca ulang dengan teliti, ia percaya sesuatu terlewat dari perhatiannya. Dan tepat saat ia membaca bagian Drees code, ia melewati bagian topeng. Dan ternyata ini adalah pesta topeng.


Seketika seluruh masalah pelik James musnah dan berganti dengan kelegaan saat tampak didepan pintu masuk para penerima tamu sibuk membagi-bagikan topeng pada tamu yang tak membawa topengnya sendiri. Jauns menatap Rika dengan senyum lebarnya.


“Kenapa? Ngerasa lega ya, karena ga harus tampil dengan wajah terbuka” Saut Rika seketika membaca pikiran James.


“Rika, jangan mulai” Sergah James seraya menutup topik pembicaraan.

__ADS_1


-


__ADS_2