Catatan Cinta

Catatan Cinta
_catatan satu_bagian kesembilan


__ADS_3

Sudah putaran ketiga James bersepeda mengelilingi lapangan di GOR disekitar kawasan kampusnya. Ia menemani Rika berlatih pagi ini.


Rika yang juga seorang atlit lari–sering melakukan latihan ditempat itu. Bahkan setiap hari saat menjelang perlombaan. James selalu menemani Rika berlatih, mengikuti dari belakang dengan sepedanya. Maka tak heran bagi sebagian orang yang melihat mereka pagi-pagi buta sudah berlatih ditempat itu.


“Kurasa ini saatnya aku bergerak” tiba-tiba James berkata dari atas sepedanya.


“Hm?” Rika menengok kebelakang sambil tetap berlari.


James mempercepat laju sepedanya dan menjajarkan dengan Rika “kurasa ini saatnya aku mencoba untuk lebih mengenalkan diriku” ucapnya kemudian.


“Maksudmu si iblis betina itu” saut ketus dari Rika.


“Rika, sudah kubilang jangan ngomong seperti itu” sergah James kemudian.


“Ya-ya terus kamu mau ngapain?”


“Ya dengan ngobrol atau apa kek”


“Iya, tapi gimana? Ndeket aja sulit apalagi mau ngobrol”


“Sebenarnya kemarin aku pegang tangannya”


Rika berhenti mendadak. Tampak sedikit rasa terkejut tersirat diwajahnya, “bagaimana caranya?”


James segera mengerem sepedanya dan berhenti sedikit lebih depan dari Rika.


-

__ADS_1


“Kemarin tanpa sengaja aku menyelamatkannya dari kecelakaan kecil” jelas James saat mereka tiba disalah satu tempat duduk disekeliling lapangan. Sekalian melepas lelah.


“Kecelakaan apa?” Tanya Rika setelah selesai dengan tegukan dari botol minumnya.


“Kemarin saat Iton membersihkan meja disebelah meja Helen, tanpa sengaja Iton terpeleset dan satu gelas melayang kearahnya. Untung aku didekat situ” jelas James.


“Yah jadi dia selamat? Ga jadi terluka?” Tanya Rika dengan nada kecewa.


“Rika!” sergah James lagi.


“Ya-ya terus habis gitu gimana?” Tanya Rika berlanjut.


“Ya, lalu kutarik tangannya agar terhindar dari gelas itu, yah mungkin tangannya sakit tertarik” James bercerita dengan wajah kecewa. Sementara Rika mengangkat tangannya keatas, seolah baru saja memenangkan hadiah utama “Jadi akhirnya aku kena tampar. Untung kami tidak dikeluarkan dari pekerjaan”


“Ya udah bisa kuduga. Gadis itu memang sifatnya jelek”


“Sudahlah Jan ga usah membelanya terus. Dan apa hanya dengan alasan itu lalu kamu merasa sudah memahaminya?” Rika mengambil handuk dari tas nya “Cetek banget. Terus apa kau yakin ga bakalan dicuekin?”


“Ya entahlah. Tapi aku rasa ini merupakan sebuah tanda bahwa inilah waktuku melakukan sesuatu”


“Ini hari apa. Kamu masih percaya tanda-tanda kaya gitu. Ya, tapi bila memang udah keputusanmu, met berjuang aja” jawab Rika sekenanya sambil mengemas tasnya dan beranjak pergi.


“Hey Ka. Tunggu. Masi ada yang harus ku omongin nih” susul James dengan sepedanya.


-


“Tapi bagaimana caranya supaya aku bisa dekat ya? Paling ga bisa ngobrol lebih dari empat patah kata” Tanya James melanjutkan pembicaraannya saat mereka sudah berada di kafetaria dekat GOR tersebut.

__ADS_1


“Bagaimana-bagaimana!” Jawab Rika sedikit jengkel “jelas-jelas kalau kau mau, kau bisa bergaul dengannya. Dengan statusmu yang se’level’ dengannya”


“Eh?” James sedikit terkejut “Bener juga sih, tapi aku tak ingin dia tau”


“James, kebohongan itu lama kelamaan akan tercium juga kebusukannya” ucap Rika “lagian kenapa sih sok-sok nyembunyiin keadaanmu sebenarnya” Rika terlihat mulai jengkel “padahal kekayaanmu jauh diatas kekayaannya” Rika mengakirinya dengan wajah sebal.


James terdiam menatap kedua tangannya diatas meja.


“Ga ada baiknya sebuah hubungan diawali dengan kebohongan” tambah Rika lagi.


“Aku tidak berbohong padanya. Hanya tidak memberitaukannya saja” sela James yang tak ingin dipanggil pembohong.


“Sama saja. Kau memulai sebuah hubungan dengan menutup-nutupi suatu hal” serang Rika lagi.


“Aku juga tidak menutup-nutupi suatu hal, hanya tidak memberi taukannya, itu hal yang beda Ka.


"Bila suatu saat ia bertanya, aku akan menjawab dengan jujur dan tanpa menutup-nutupinya” jelas panjang lebar James agar Rika mengerti maksudnya.


“Ya, ya aku selalu saja kalah bila berdebat denganmu, tapi ingat baik-baik ya” Rika berucap pasrah “aku sudah memperingatkanmu” Rika meneguk minuman kalengnya “akan ada masalah yang datang bila dia mengetahuinya dari orang lain”


“Ka. Jangan ngomong gitu dong” James tampak enggan.


“Sudahlah ayo kita pulang” ajak Rika yang langsung berdiri dari kursinya “sekalian bayarin punyaku” ucapnya sedikit ketus sambil berjalan keluar.


“Ye..Udah marah-marah suru bayarin makan lagi” James ngomel sendiri sambil jalan ke kasir.


~*~

__ADS_1


__ADS_2