Catatan Cinta

Catatan Cinta
_catatan satu_bagian kesepuluh


__ADS_3

Hari ini James harus direpotkan berjauh-jauh membuang sampah kebelakang. Dikarenakan Iton yang seharusnya piket tiba-tiba meminta tolong untuk menggantikannya, sebab ada acara mendesak yang harus ia hadiri.


Tempat pembuangan sampah itu ada dibagian ujung belakang dari kawasan mall ini. Dan untuk menyingkat waktu saat hendak balik menuju café, James memotong kompas melewati area parkir.


Dan saat hendak berbelok menuju café, James mendengar suara yang dirasa kenal olehnya. Dan segera ia mencari tau sumber suara itu. Terlihat didepan sebuah Harrier hitam yang berhenti ditengah jalan dalam area parkir itu, Helen dengan seorang pemuda yang tampak se’level’ dengannya sedang terlibat sebuah debat dan sepertinya menjurus kepertengkaran.


“Gue bilang gue ga mau kesana!” Helen berkata pedas.


“Lo ga bisa gitu dong, Hel. Gue mau ngomong apa ma temen gue?” Pemuda itu berucap sambil memegang tangan Helen, mencoba mencegah Helen pergi.


“Terserah Lo” jawab Helen ringan “Udah lepasin tangan gue. Atau gue teriak nih” tambah Helen sambil mengibaskan tangannya.


“Masa lo mau buat gue malu sih? Lo kan pacar gue” ucap pemuda itu sambil berusaha tetap memegang tangan Helen.


“Apa?! Siapa yang bilang lo pacar gue? Kapan kita jadian? Lo nya aja yang kege-eran” jawab Helen dengan nada angkuh.


“Pokoknya gue ga mau tau, lo harus ikut!” Pemuda itu menarik paksa Helen.


“Ga! Lepasin gue! Cepet lepasin!” Teriak Helen seraya mencoba berontak dari pegangan tangan pemuda itu.


Dengan cepat tanpa berpikir dua kali James segera berlari menuju kearah mereka. Dan dengan cepat pula ia memegang tangan pemuda itu “Maaf mas, tapi kelihatanya gadis ini ga mau” ucap Jauns kemudian.


Helen tampak terkejut dan menatap James dengan bingung, terlebih-lebih pemuda itu yang melihat James dengan tatapan aneh. Siapa dan kenapa lagi bocah ini? Pikir pemuda itu.


“Lo siapa bocah? Apa urusan lo?” pemuda itu mulai terlihat jengkel.


James tersenyum melihat pemuda itu “maukah mas melepaskan gadis itu?” pintanya tanpa beban.

__ADS_1


“Hey bocah jangan ikut campur masalah orang lain” pemuda itu mendorong James hingga tersungkur. Segera Helen menarik tangannya dan menjauh saat pemuda itu lengah.


“Helen, kemarilah” pemuda itu mencoba menyusul Helen.


“Maaf mas, tapi gadis itu tidak mau” James memegang lengan pemuda itu agar tidak mendekati Helen “Jangan memak_” tiba-tiba tanpa persiapan sebuah pukulan melayang kearah wajah James bahkan sebelum ia menyelesaikan kalimatnya.


“Hey! Gue bilang lo jangan ikut campur! Lo mau jadi jagoan ya? Lo mau sok-sok jadi pahlawan? Lo tau dia tuh cewek gue!” Terdengar pemuda itu sudah tidak mampu menahan emosi.


“Aduh!” James memegang pipi kirinya “Sakit” terlihat James menegakan tubuhnya lagi.


“Helen” pemuda itu mencoba mendekati Helen lagi.


“Mas_” James kembali memegang lengan pemuda itu.


Pemuda itu terlihat semakin berang “yang barusan ga cukup ya?! Masi mau lagi!” kembali pemuda itu melayangkan kepalan tangannya kearah wajah James.


Kali ini James jatuh tersungkur, kemudian menutup mata kanannya dengan tangan karena rasa nyeri yang baru saja ia terima.


Helen hanya terdiam dalam jarak yang aman menatap James kemudian menatap pemuda itu.


“Kau memang butuh pelajaran” pemuda itu langsung melayangkan dengan membabi buta, tendangan dan pukulannya kearah James yang hanya meringkuk berusaha melindungi kepalanya dengan kedua tangannya.


Melihat hal tersebut membuat Helen tak tahan juga “Roland cukup hentikan!” Teriak Helen yang terlihat ga digubris oleh pemuda itu.


Melihat hal itu segera Helen memanggil satpam untuk memisahkan Harlan dari James.


Pemuda bernama Rolan itu tampak tersenggal oleh nafasnya sendiri menatap James yang masih meringkuk, kemudian menatap Helen–saat satpam menariknya mundur. Ia membenahi kaos Volcom-nya sesat sebelum masuk kedalam mobil. Rolan masih sempat menatap Helen dari sela jendela mobilnya dengan tatapan sinis, sebelum akhirnya Harrier itu melaju dengan suara gas yang kencang.

__ADS_1


“Kau tak apa kan Jan?” Tanya satpam yang tampaknya sudah mengenal James itu.


“Ga apa pak” jawab James seraya berdiri dengan nyeri diseluruh tubuhnya.


“Kenapa bisa sampai begini?” Tanya satpam itu.


“Ceritanya panjang” ucap James singkat sambil menatap Helen.


Sedang Helen hanya menatap James balik dengan pandangan yang seolah berkata ‘jangan melakukan hal yang tidak perlu’ dan kemudian pergi begitu saja dari tempat itu tanpa sepatah katapun.


Tampak ditempat parkir karyawan Rika sudah menunggu diatas motornya. Sebenarnya James enggan bertemu dengan Rika dengan kondisinya yang seperti ini. Ia enggan menjelaskan pada Rika masalah barusan.


“Sori telat. Soalnya aku nggantiin piketnya Iton” sambut James setibanya ia dekat dengan Rika.


“Wajah kamu kenapa, Jan?” Tanya Rika penasaran melihat wajah sahabatnya babak belur ga karuan.


“Aku jatuh” jawab James sekenanya.


“Jatuh?” Terlihat Rika tak percaya dengan jawaban James barusan “Kaya habis dipukul” Rika memincingkan matanya kememar James yang mulai membiru.


“Aduh” James sedikit menghindar saat jari Rika menyentuh pipinya yang mulai bengkak.


“Kau habis berantem ya?” Tanya Rika saat mereka berada ditengah jalan. James hanya terdiam kemudian menggeleng “Tapi habis dipukulkan?” Tanyanya lagi. Kali ini James mengangguk.


Suasana menjadi sunyi baik James maupun Rika sama-sama berdiam diri.


“Kau mau menceritakan?” Tanya Rika membuka kesunyian yang cukup lama terbentuk.

__ADS_1


“Kurasa besok saja ya” Jawab James kemudian.


~*~


__ADS_2