
Hari ini karena perasaan suntuknya imbas semalam, James menghabiskan waktu dengan berkeliling hampir keseluruh pulau ini.
Pukul lima pagi ia sudah terjaga, karena memang ia tak nyenyak tidur. Segera ia beranjak keluar menuju pantai disisi timur menanti matahari terbit. Duduk sendiri dengan hati yang galau, yang sengaja dibuatnya tenang.
Tak lebih dari pukul tujuh ia sudah melancong lagi. James menyusuri pasar tradisional disebuah jalan kecil, yang bahkan turis sangat jarang menjadikannya tujuan belanja.
Kurang lebih sejam dilanjut James kesebuah kawasan seni, dimana disepanjang jalan tergelar bak galeri dengan eksotisme ornament, karya-karya dari seniman yang tak tersebut namanya. Setelah puas mengapresiasi James kembali dengan rencana tour nya yang tak jelas.
Setengah sepuluh ia sudah berada diantara para pengemudi perahu cupung sewaan disebuah warung kecil dipantai sisi selatan. Makan. Karena semenjak ia bangun perutnya hanya terisi segelas susu.
Selepas pukul sebelas James sudah mendapati dirinya berdiri disebuah Arcade di area bermain disebuah mall besar dipulau itu. Namun belum mendapat kembali kekonsentrasiannya membuat James tak dapat berlama-lama ada ditempat itu.
Tengah hari tepat James memulai jejak petualangnya menjelajah seisi mall itu hingga tuntas. Mulai dari lantai dasar hingga tiga tingkat diatasnya. Dan setelah satu jam setengah berkeliling yang cukup menguras tenaganya, ia mengenyakan tubuhnya disebuah bangku ditengah area dilantai dua ditemani segelas Coke. Mengamati pengunjung mall yang lalu lalang.
Kemudian tak lama handphone nya berdering.
”Halo?”
”Kamu dimana, Jem?” Terdengar suara berat diujung sana.
”Lagi di mall” jawab James.
__ADS_1
”Jangan lupa nanti malam ya?” Tambah suara pria dari speaker HP James.
”Ya, ya, jangan kuatir yah, aku pasti hadir” jawab James dengan lemas.
”Bagus kalo gitu, jangan sampai telat ya. Ayah tunggu” kemudian telepon terputus.
James memasukan handphone nya dan kembali meneruskan kegiatannya semula, yaitu mengamati para pelalu lalang.
Tampak tiga gadis dengan Tank Top, dan celana yang teramat pendek menurut James untuk dikenakan berjalan-jalan ke mall. Tapi memang mall dipulau resort selalu dipenuhi orang-orang dengan penampilan yang eksentrik.
Karena mereka yang hanya setengah-setengah tak akan pernah terlihat dalam persaingan tak kasat mata tentang penunjukan jati diri ini.
Terlihat baru saja memborong, ketiga gadis itu tampak ceria menenteng tas-tas kecil berlogo merk-merk ternama. Merk yang dianggap oleh beberapa orang sebagai penempatan standart diri, dengan memakainya disetiap kesempatan tanpa tau dimana seharusnya mereka mengenakannya.
Melihat hal tersebut membuat James tersenyum, ia teringat akan Helen. Pasti gadis pujaannya itu akan melakukan hal yang sama seperti para gadis itu saat berada disini dengan teman-temannya. Tiba-tiba teringat kembali kejadian semalam saat James mulai mengingat tentang Helen.
”Sial banget!” Ucapnya kemudian seraya berdiri. Menurutnya lebih baik ia mencari kegiatan agar tak mulai melamun dan mengingat hal menyebalkan itu.
Mungkin lebih baik ia balik ke hotel karena nanti malam ia jua harus menghadiri acara ayahnya.
-
__ADS_1
Penuh dengan hal-hal mewah, berpakaian serba glamor dan formal, selalu dengan senyuman-senyuman palsu saat menyapa atau saat sedang saling bicara. Sebuah acara yang menjengkelkan.
James berdiri ditepi jendela kaca dengan bingkai ukir rumit yang terlihat mahal, didalam ballroom itu. Andai saja bukan acara penting ayahnya, dan andai saja ia tidak ingin datang kepulau ini, mungkin ia tak akan pernah mau menghadiri acara semacam ini, lengkap dengan tuxido yang menurutnya membuat dirinya terlihat tampak konyol.
Kini James benar-benar merasa menyesal menawarkan diri pada ayahnya untuk mau mengikuti acara ini. Dua malam penuh kesialan. Kalau saja bukan karena Helen.
James menatap kearah luar jendela. Pantai malam yang indah, ditambah taburan lampu-lampu disepanjang jalan tepiannya, membuat tempat itu seolah menariknya.
Suara debur ombaknya, hembusan angin lembabnya, dan pasir-pasir yang lembut. James menghanyal seolah ia dapat merasakannya, walau nyatanya ia ada dalam ruangan yang dikelilingi kaum elit, jauh dilantai 8 disalah satu hotel milik ayahnya yang termasuk hotel termewah dipulau ini.
Karena terlalu bosan James mencoba berjalan berkeliling ruangan itu. Melihat dan mengamati setiap orang dalam rutinitas mereka yang saling menyapa, tersenyum, dan kemudian pergi sambil melambaikan tangan.
Lalu saat James menyeberang ruangan hendak mengisi gelasnya yang telah kosong, tiba-tiba seseorang menabrak tubuhnya, membuat gelasnya terjatuh dengan suara pecahan yang nyaring. Hal ini menarik perhatian beberapa tamu yang ada didekat situ.
“Maaf-maaf” segera terdengar suara perempuan meminta maaf pada James.
“Sudahlah. Tidak apa-apa kok” saut James segera, sambil mundur beberapa langkah dari sisa serakan gelasnya.
“James?!” Terdengar suara gadis tadi terkejut.
“Zab?!” Tak kalah terkejutnya, James hampir-hampir berteriak melihat gadis dihadapanya itu ialah Zabrina.
__ADS_1
“Kenapa kau bisa ada disini?!” Keduanya bertanya secara bersamaan.
-