Catatan Cinta

Catatan Cinta
_catatan tiga_bagian kelima


__ADS_3

Akhirnya mobil merekapun sampai di cafe tepat setengah delapan malam.


“Baiklah aku pamit” ucap James setelah ia turun dari mobil mungil Helen itu.


“Lo buruan ganti baju gue tunggu disini” saut Helen lalu.


“Eh, emang kita mau kemana lagi?” Tanya James bingung.


“Udah cepet ganti baju. Jangan lama-lama” jawab Helen sesuka hatinya.


James masuk ke café masih dalam kebingungan. Menuju ke lokernya dan setelah ganti baju ia kembali ke area parkir. Ternyata benar Helen masih menantinya. Mobil Helen masih ada disitu. Tapi mau kemana lagi? Tanyanya dalam hati.


Lampu dim Peugeot itu menyala, memberi tanda James untuk cepat. Dan setelah James kembali ada dalam mobil itu, segera Helen mengarahkanya kembali kejalanan.


“Kita mau kemana?” Tanya James penasaran.


“Makan” saut Helen dan tak lama mobilnya kembali masuk ke area parkir. Kali ini kesebuah restoran mewah. James tersentak kemana ia dibawa oleh Helen.


“Oh, sial” umpat James pelan. Restoran ini milik ayahnya.


“Kenapa? Lo belum pernah kemari, kan?” ucap Helen dengan senyum angkuhnya.


Ayo James berfikir. Bagaimana agar para karyawan tidak memberi salam padanya. Bagaimana ia menghindari manager untuk tidak menyapanya. James semakin kalut.


“Kenapa? Lo takut ga bisa bayar kalo makan direstoran mewah?” Tanya Helen yang terlihat sedikit menyindir “tenang gue yang bayar”

__ADS_1


James tersenyum kecut. Ia tak mampu berkata-kata. Ia semakin panik.


Ditempat parkir, setengah jalan dari mobil menuju restoran itu, tiba-tiba seseorang menyapa “Hey, mas James”


Tersentak sedemikian rupa James mendengar seseorang menyapanya. Dan setelah dilihat itu adalah tukang parkir yang sudah sangat akrab dengannya “Eh, Mang?! Apa kabar?” Balas James spontan.


“Lama ga kemari mas James” ucap tukang parkir itu.


Segera James merangkul tukang parkir itu dan menariknya menjauh dari Helen “Iya nih kuliah banyak tugas. Sori ya lagi buru-buru” ucapnya kemudian.


Tukang parkir itu tersenyum melihat kearah Helen “Pacarnya ya?” Tanyanya menggoda James.


“Ada deh, kapan-kapan diceritain, okey?” Saut James sambil berjalan kembali kearah Helen yang sudah mulai bertampang manyun.


“Iya-iya mas, ditunggu kapan-kapan” saut tukang parkir itu seraya pergi meninggalkan James.


“Kenalan” jawab James dengan sedikit senyum ragu.


“Lain kali kalo lo lagi jalan ama gue jangan ngobrol ama orang-orang kaya gitu. Malu-maluin” saut Helen ketus.


James hanya mengangguk pelan tanda ia telah paham. Walau dalam hati ia masih belum bisa berfikir bagaiman mengatasi yang setelah ini.


Bila tukang parkir mengenalnya mungkin Helen masih ga bakal curiga. Bila satu waitress mengenalnyapun masih tergolong wajar saja. Tapi bila semua waitress menyapanya begitu melihat dia, dan lagi manager menyalami dan menyambut kedatangannya? Nah itu baru bahaya.


“Lo sinian deket gue, jangan malu-maluin gitu” ucap Helen melihat James sedari tadi celingak-celinguk sendirian “lo jangan ngeliatin sana-sini!”

__ADS_1


James makin bingung. Bagaimana ia harus bersikap setelah ini? Beberapa waitress sudah terlihat senyum padanya ketika mereka melewatinya.


“Len, aku ke belakang dulu ya” ucap James begitu mereka menemukan tempat duduk.


“Huh, ngajak orang kampung ke restoran kaya gini bikin males. Ya udah jangan lama-lama” jawab Helen dengan wajah juteknya “Eh, jangan bikin malu waktu dikamar kecilnya” tambahnya begitu James mulai berjalan pergi.


James hanya mengangguk kemudian segera berjalan pergi. Ia bukan menuju kamar kecil melainkan menuju kantor manager.


“James?” Seorang pria menghampiri James begitu ia masuk kedalam.


“Iya pak Azis” balas James.


“Ada perlu apa kemari? Tumben?” Tanya pria bernama Azis itu kemudian seraya menyalami James.


“Begini pak, saya sedang makan disini sama temen” jelas James kemudian “tapi saya minta tolong ya pak, bapak dan semua karyawan disini jangan sampai terlihat mengenal saya” pinta James.


“Eh, maksudnya?” Pak Azis binggung.


“Begini, emang ini kedengarannya sedikit aneh. Tapi saya minta bapak dan para karyawan disini, untuk hari ini saja anggap saya pelanggan biasa restouran ini, okey?!” Jelas James lagi.


Wajah pak Azis terlihat masih menyiratkan kebinggungan. Namun ia hanya diam saja.


“Jadi sekarang bapak kasih tahu ke karyawan untuk tidak menyapa saya hari ini” perintah James lalu.


“Ba, baiklah. Meski saya masih ga mengerti apa maksudnya, tapi akan segera saya umumkan pada karyawan yang lain” jawab pak Azis dengan senyum anehnya.

__ADS_1


“Terima kasih pak” saut James segera kembali berlari menuju ke meja Helen.


-


__ADS_2