Catatan Cinta

Catatan Cinta
_catatan dua_bagian keempat


__ADS_3

Setelah mereka memberi selamat langsung kepada mempelai dan sedikit berbasa-basi, segera mereka keluar dari tempat itu. Rasanya benar-benar melegakan berjalan keluar dari ruangan itu menuju tempat parkir.


Rika segera mententeng sepatu hak tingginya begitu mendekati mobil. James melepas topengnya dengan lega, tak terjadi hal buruk seperti yang ia kuatirkan sebelumnya.


“Yah, benar-benar melegakan” ucap Rika saat telah duduk dikursi belakang BMW James.


“Akhirnya ketakutanku lewat sudah, betapa menyenangkannya membiarkan adrenalin melambat” ucap James seraya merenggangkan ikatan dasi dari lehernya.


“Eit, jangan lega dulu. Kau masih punya tiga permintaan untuk dikabulkan” Terlihat Rika tersenyum lebar.


“Ah, kau merusak hariku, baiklah coba sebutkan, apa?” Tanya James dengan muka yang kembali ditekuk.


“Bukan saat ini, kau harus bersabar hingga besok” jawab Rika lebih riang “aku mau memikirkan hal yang paling mengerikan yang mungkin bisa kupikirkan, jadi live with fear tonight” tutupnya dengan seringai lebar.


James menatap Rika dengan masam, kemudian merebahkan tubuhnya pada sandaran kursi “tapi sayang juga kalau kita langsung pulang, bagaimana kalau kita jalan-jalan dulu?” James menawarkan pada Rika.


“Mau kemana?” Tanya Rika yang sudah dengan wajah masamnya lagi.


“Jangan pasang muka seprti itu dong! Bagaimana kalau kita makan”


“Ini bukan sarana untuk menyuapku kan? Karena itu jelas tak akan berhasil” ucap Rika dengan matap.


“Gak lah, ini bonus” jawab James dengan mengangkat jempolnya.


Rika menatap James penuh selidik dan dengan ragu mulai berkata-kata “Baklah, lalu mau makan kemana?”


“Hm” terlihat James berpikir “ Bagaimana kalau ketempat yang belum pernah kau datangi”


“Kemana?”


“Pokoknya ada deh, ketempat yang cocok dengan dress code mu ini” Saut James “pak, kita ke The View” perintahnya kemudian ke supir.


“Kemana sih? Masih harus pake gaun ini? Nggak ah, kaki ku sudah ngilu oleh hak tinggi ini” Saut Rika keberatan.


“Sudahlah, kita hanya makan saja. Kalau kau mau ganti sepatu silahkan saja”


Tak lama kemudian mobil James telah siap menikung masuk kearah sebuah gedung yang terlihat mahal dan mewah. Mereka memasuki basement parkirnya.


“Walau sama-sama menu steak tapi kau pasti belum pernan makan disini” ucap James saat mobil benar-benar sudah berhenti.


“Kau gila apa ngajak aku kemari?” Rika tak yakin dengan keputusan James.

__ADS_1


“Kenapa? Sekali-kali bolehkan” ujar James “ayo!” Segera James keluar dari mobilnya.


“Beneran nih?’ Rika terlihat masih ragu “tapi aku tetap ganti sepatu” ucapnya lagi seraya membuka pintu dengan sneaker dalam tentengannya.


“Go a head” jawab James santai.


“Tapi tumben kau ga takut pergi ketempat seperti ini?” Tanya Rika seraya memasang sepatu.


“Takut tempat seperti apa?”


“Ya, seperti ini. Bagaimana bila kau bertemu si iblis betina didalam sana?” Tanya Rika lagi seraya menghampiri James setelah ia selesai dengan sepatunya.


“Kau ini” ucap James seraya mempersiapkan lengannya untuk digandeng Rika.


Rika tersenyum dan kemudian mencangklongkan tangannya pada lengan James.


“Tempat seperti ini ga bakal didatangi oleh Helen” ucap James menjelaskan.


“Pe-de banget sih?”


“Nanti kau juga akan tau, kalau tempat ini kurang begitu anak muda” Jelas James saat mereka memasuki lift. James menekan lantai paling atas.


“Kamu sendiri merasa bukan anak muda ya?”


“Main? Sering? Yang bener?” kali ini jelas Rika terkejut, karena ia tau benar watak sahabatnya ini tak akan pernah suka untuk main ketempat-tempat high class seperti ini.


“Saxophone”


“Oh, manggung maksudmu” Rika mulai paham. Salah satu hobi James adalah bermusik dan sejak kecil ia sudah berlatih piano, biola, gitar, dan beberapa alat musik tiup yang salah satunya adalah Saxophone “bukanya kau kerja di restaurant yang biasa?” Tanya Rika lagi yang tau kalau seharusnya sahabatnya itu bekerja sebagai band pengiring disebuah Live Music Restaurt dipingiran kota.


“yang ini cuma waktu iseng aja, jadi bukan pekerjaan” Jawab James yang bertepatan dengan dentingan pintu lift yang terbuka. Tampak sebuah pintu kaca berwarna gelap, kemudian seorang penjaga ber tuxedo dengan senyum ramah menyambut mereka.


“Sudah pesan tempat?” Tanya penjaga itu dengan ramah.


“Belum” jawab James.


“Berdua?” Tanya penjaga itu dengan sedikit mengernyitkan dahi saat menatap Rika dengan sneaker di kakinya.


“Benar” jawab James seraya menunjukan semacam kartu sebesar kartu ATM pada penjaga.


“Oh silahkan” jawab penjaga itu dengan mimik muka yang langsung berubah cerah dengan drastis.

__ADS_1


Segera setelah itu mereka masuk. Seorang pelayan wanita mengarahkan mereka menuju ke area yang lebih tinggi dari area sekitarnya. Kurang dari 10 meja bundar terjajar rapi berpola di area itu. Tak ada bedanya dengan meja yang berada di area yang lebih rendah, hanya saja meja-meja di area yang lebih tinggi ini memiliki background jendela kaca yang membentang tanpa bingkai sepanjang dan setinggi ruangan. Tampak dibalik tembok kaca itu, gambaran kota dengan kesibukan malamnya.


Mereka jelas menjadi pusat perhatian para tamu yang lain karena sepatu yang dikenakan Rika unik. Tapi se-cuek James, Rika pun tak ambil pusing dengan tatapan dan bisik-bisik orang terhadapnya.


Mereka terus berjalan mengikuti pelayan wanita itu.


Dan akhirnya pelayan itu menuntun mereka ke salah satu meja yang tepat menghadap ke luar melalui jendela kaca. Disamping kiri mereka terdapat sebuah panggung mini dengan sebuah band yang sedang memainkan sebuah lagu jazz tanpa vokalis.


“Tak terlalu buruk” ucap Rika mengamati sekitarnya. Terdengar dengungan-dengungan pengunjung dari meja disekitar mereka, Rika tau mereka sedang membicarakannya.


“Oke, sekarang kau mau pesen apa?” Tanya James seraya membuka daftar menunya.


Rika ikut menatap daftar menu “Kau tau Jem, lebih baik kau pilihkan aku yang biasa ku makan. Aku tak pernah tau kalau mereka punya nama, kukira semua itu namanya steak. Dan apa ini T-bone? Flat iron? Salisbury? Merepotkan saja”


Segera setelah James menunjuk pesanannya, pelayan itu pergi.


“Tadi kau menunjukan apa ke penjaga diluar?” Tanya Rika kemudian.


“KTP”


“Yang bener aja kasi KTP langsung dapet tempat bagus kaya gini?”


“Ha-ha, bukan-bukan. Itu tadi member card”


“Memang beda kalau restaurant mahal, makan aja pake jadi anggota. Kaya MLM aja” Rika menjawab dengan candaan.


“Makin banyak ngajak orang makan makin banyak dapet voucer gratis, ya ga?” James menyambut lelucon Rika saat kemudian datang pesanan mereka.


Rika terdiam menatap meja saat akhirnya para pelayan itu selesai menghidangkan hidangan. Meja yang ga terlalu kecil itu kini penuh terisi, disamping vas bunga dan sekeranjang kecil roti kering yang sudah sedari tadi ada diatas meja.


Terlihat mulai dari piring steaknya, cawan sedang dengan cairan putih didalamnya–yang jelas Rika belum pernah melihatnya ada dimeja makan untuk seumur hidup, kemudian seperti kendi-kendi kecil dari perak–entah untuk apa? Dan apa isinya? Lalu gelas minuman, dan yang terbanyak dari semua itu adalah perlengkapan makannya. Rika belum habis pikir dengan banyaknya pisau, garpu dan sendok diatas meja makan.


“Kenapa, Rik?” Tanya James kemudian “Sama dengan yang biasa kau makan, kan?”


“Sumpah aku baru pertama kali ini makan dengan peralatan satu lemari dipakai semua”


“Ha-ha, ini hanya sebagian kecil, coba kalau kita pesan lebih banyak hidangan lagi”


“Terus garpu dan pisau segini banyak, kau kira aku Squidward apa? Punya banyak tentakel”


“Ya jangan dipake semuanya dong?” jawab James dengan santai “Kau pakai ini dan ini untuk steaknya” James menunjuk salah satu pisau dan garpu untuk memberitahu Rika penggunaannya “Kemudian yang ini buat Mayones, yang ini buat Butter” tutupnya kemudian dengan senyuman.

__ADS_1


Rika menghelai nafas panjang “buat apa lagi Butter, Mayonnes? Benar-benar restaurant mahal memang beda, bahkan peralatan makan pun harus sesuai dengan jenis makanannya. Jangan-jangan buat nyodok roti itu harus pake garpu khusus ya?”


“Sudah lupakan saja, lebih baik kita langsung makan” ucap James menyudahi topik yang kurang penting ini.


__ADS_2