
“Mulai besok aku shift malam” ucap Zabrina saat ia dan James diruang loker, hendak bersiap pulang.
“Perlu ku gantikan?” Tanya James sambil mengambil tas dari lemari lokernya.
“Ga perlu” jawab Zabrina yang berdiri menyandar diloker sebelah loker James.
“Pulangmu?” Tanya James lagi.
“Ga apa” jawab Zabrina tanpa perubahan nada.
James terlihat diam berfikir “gini aja, aku temani deh. Besok aku juga ganti shift malam juga” ucapnya kemudian “ntar aku ngomong ma pak Toni, dia pasti mau ngaturin” tambahnya.
“Ga perlu segitunya” ucap Zabrina sambil berjalan keluar.
“Sudahlah” Saut James santai.
“Ntar cewe mu gimana?” tiba-tiba pertanyaan Zabrina membuat James berhenti.
“Siapa?” Tanya James singkat.
“Itu yang sering jemput kamu” jelas Zabrina kemudian.
“Rika?”Saut James.
Zabrina hanya mengangkat bahu.
“Dia itu sahabatku. Rumahnya searah dengan rumahku, dan kebetulan ia bekerja di counter HP diperempatan depan sana. Jam kerjanya selesai lebih awal, makanya ia datang dan menungguku untuk balik bareng” jelas James panjang lebar.
__ADS_1
Zabrina menatap James tanpa ekspresi.
“Kalo soal dia tenang saja ia bawa kendaraan sendiri kok” tambah James menyikapi tatapan tanpa ekspresi Zabrina.
Mereka berjalan keluar melalui pintu belakang. Begitu tiba diarea parkir karyawan, terlihat gadis dengan potongan sangat pendek melambai kearah James dari atas sepeda motor model cowok nya. Bila tak melihat postur tubuhnya yang jenjang gemulai, gadis itu akan dikira seorang laki-laki.
“Mau ku kenalkan?” James bertanya.
“Lain kali saja” jawab Zabrina “sudah ya sampai jumpa besok” tambahnya kemudian sambil pergi berlalu.
“Ya sudah sampai besok” saut James yang kemudian berjalan menuju kearah gadis yang duduk diatas sepeda motor tadi.
“Siapa?” Tanya gadis berambut cepak itu setelah James lebih dekat dengannya.
“Itu?” James menunjuk Zabrina yang mulai jauh “dia teman sekerjaku, namanya Zabrina, orangnya baik sih. Entar kapan-kapan kukenalkan”
“Menyenangkan” jawab singkat James dengan senyum yang sedikit lebar.
“Kau bertemu dengan iblis betina itu ya!?” Tebak gadis itu dengan wajah sinis yang menyudutkan.
“Rika! Jangan ngomong gitu dong” segera James menghardik, walau tampak ragu melihat reaksi gadis denga nama Rika itu.
“Kenapa sih kamu itu? Jelas-jelas dia itu gadis sombong. Tipe-tipe yang ga mau ngeliat kebawah. Ga ada baik-baiknya dari gadis itu. Kaya ga ada cewe lain aja?! Cantik juga nggak” Rika mulai sewot. Hal yang selalu dilakukannya bila menyangkut Helen.
Rika bersahabat dengan James semenjak SMA, kemudian mereka berkuliah di universitas yang sama walau beda fakultas. Rika seorang gadis pemberani, dengan sifat sedikit pembrontak yang memang terbentuk dari kondisi keluarganya yang broken home, bergaya sedikit tomboy, namun sangat peduli dengan hal-hal yang berbau sosial, hampir mirip dengan James. Ia adalah gadis mandiri, tak pernah mau dikasiani. Tidak juga oleh James.
“Oya Rik, mulai besok aku shift malem, jadi kamu balik sendiri ga apa kan?” Ucap James ketika motor mereka mulai melaju dijalanan.
__ADS_1
“Shift malam? Pulang jam berapa? Perlu dijemput?” Tanya Rika dari tempat duduk belakang.
“Ga perlu lah, aku bawa kendaraan sendiri” jawab James.
“Gitu” Rika berucap dengan nada paham.
Kemudian keadaannya menjadi sepi, mereka berdua terdiam sampai akhirnya tiba dirumah James. Inilah satu rahasia besar James yang hanya Rika lah yang mengetahuinya. Yaitu keadaan ekonomi keluarga James yang mengejutkan.
Dilihat dari sikap dan cara berpakaian James yang biasa-biasa saja–James memiliki rumah mewah dikawasan perumahan elit. Dia memiliki beberapa perusahaan yang diantaranya sudah atas namanya pribadi. Dan kekayaan yang melebihi kekayaan keluarga Helen bila ditotalkan. Namun memang James membungkam Rika untuk tidak menyebarluaskan berita ini pada khalayak.
“Mampir dulu?” Ajak James begitu mereka tiba didepan gerbang rumahnya.
“Ga dulu deh, udah malam. Lagian ada yang nungguin dirumah” jawab Rika yang sudah siap diatas motornya.
“Siapa?” Tanya James.
“Biasa” jawab Rika singkat “kerjaan” tambahnya sambil nyengir.
“Rik, kalau kau perlu sesuatu ngomong ke aku” respon James yang membuat Rika tersinggung. Rika memang selalu sensitive mengenai hal ini. Ia sangat benci saat James mulai berusaha membicarakan tentang materi. Walaupun ia sangat memerlukannya, tapi harga diri gadis ini benar-benar sangat tinggi.
“Sudahlah!! Sampai besok” saut Rika dengan nada jutek yang kemudian menyalakan mesin motornya dan melaju menghilang dalam gelap malam.
“Mari, pak” sapa James kepada satpam yang bekerja dirumahnya saat ia berpapasan dipintu gerbang.
James tinggal dirumah besar dan mewah ini hanya dengan ayah dan adik perempuannya. Ibunya meninggal karena kanker saat ia berusia 12 tahun. Tapi walau ayahnya jarang berada dirumah, ia tak pernah merasa kesepian atau bosan berada dalam rumah. Karena ia memiliki dua pembantu, tukang kebun, dua supir, dan dua satpam yang dianggapnya sebagai keluarga.
Dulunya waktu ia masih 17 tahun, bibinya tinggal dalam rumah itu sampai akhirnya si adik perempuan ibunya itu menikah. Dan setelah itu James hanya akan ditemani oleh adiknya saja setiap kali pulang kerumah. Tapi didikan ibunya yang mengajarinya untuk selalu bersyukur akan segala yang di berikan pada nya lah, yang membuat dia selalu merasa bahagia dengan hidupnya sekarang.
__ADS_1
~*~