Catatan Cinta

Catatan Cinta
_catatan satu_bagian keempat


__ADS_3

Malam ini James mulai menemani Zabrina kerja malam. Ia mulai kerja pukul sebelas malam dan selesai pukul lima pagi. Walaupun malam tapi mall yang memiliki hotel dilantai lima keatasnya ini kadang didatangi beberapa penginap hotel. Jadi café ini mau tak mau harus terus beroprasi.


Tapi memang beberapa pengunjung selalu ada walau malam hari. Mungkin mereka-mereka yang hanya sekedar membunuh waktu, atau yang terbiasa atau mendadak terkena insomnia karena Jetlag, atau mungkin mereka-mereka yang baru saja tiba dihotel dan butuh sedikit tenaga extra. Terkadang juga café ini sering digunakan sebagai tempat gathering untuk beberapa perkumpulan tertentu saat malam. 


Shift malam memang hanya dua orang karyawan, James, dan Zabrina. Tapi biasanya tak perna ada karyawan wanita untuk shift malam. Karena ada dua orang yang cuti bersama, jadi untuk sementara sedikit ada perombakan.


Malam ini cukup sepi, yang nampak hanya dua pelanggan saja. Yang satu seorang pria setengah baya yang duduk diujung meja dengan handphone yang tak pernah lepas dari telingannya. Sedang yang satunya seorang pemuda dengan laptop terbuka yang terlihat tak dapat diganggu.


Setelah menembus pukul setengah dua, yang pria baya pun pergi, disusul si pemuda berlaptop pukul dua lebih. Dan beginilah untungnya kerja malam. Santai. Selepas pelanggan terahir tadi pergi, mereka sudah tak ada kerjaan.


”Enak ya kalo yang begini pas waktu siang” James berucap saat membersihkan meja tamu.

__ADS_1


”Hm” Zabrina tersenyum. Gadis itu sibuk mencuci sisa gelas kotor.


”Eh, Zab? Kenapa kau mau ambil shift ini? Memang paginya kamu ga da kegiatan ya? Eh, maksud ku kamu kuliah ga?” Tanya James ber tele-tele.


”Nggak” jawab Zabrina singkat jelas dan padat.


”O... aku kira kemarin-kemarin kau ini masih kuliah” ucap James yang mulai dengan meja baru disebelahnya.


”Aku bahkan ga pernah daftar kuliah. Memang aku kelihatan kaya anak kuliahan ya?” Saut Zabrina seraya menggantungkan gelas-gelas yang telah bersih di rak nya.


Terlihat Zabrina mengeringkan tangannya dengan handuk ”Gimana emang dandanan mahasiswa itu?” Tanyanya kemudian.

__ADS_1


”Ya gimana ya? Keliatan gaul gitu?” jelas James yang masih belum beranjak dari tempatnya semula.


”Emang ga boleh keliatan gaul ya kalo ga kuliah?” Tanya Zabrina yang kini ikut mengambil kain basah dan seember kecil air, menyusul James.


”Ya bukannya begitu, tapi biasanya sih yang langsung bekerja setelah lulus sekolah itu gaya-gayanya beda gitu. Eh, kayanya aku salah ngomong deh” James tampak mulai menyadari kalau kata-katanya mulai menimbulkan kesalah pahaman.


”Kalau kamu masih kuliah?” Tanya Zabrina lagi saat ia sudah bersiap mengelap meja disebelah meja James.


”Yup, semester tiga. Ambil tehknik” saut James dengan sedikit bangga.


”Kenapa dandananmu terlihat ga gaul kaya mahasiswa?” Ucap Zabrina kemudian tanpa perubahan nada. Mungkin bagi yang tak mengenal Zabrina akan langsung tersinggung, karena saat mengatakannya, gadis itu tidak terdengar seperti sedang bercanda sama sekali. Semuanya terdengar serius.

__ADS_1


Tapi bagi James yang tau bagaimana cara Zabrina berbicara, yang tanpa expresi, nada terdengar datar, dan tatapan mata yang ga bisa ditebak maksudnya itu hanya tertawa kecil menanggapinya ”Ngeledek ya? Iya-iya, aku salah ngomong tadi. Aku tidak bisa mengutarakan maksud ku. Pokoknya terlihat beda gitu” sautnya kemudian berusaha menjelaskan.


Zabrina hanya tersenyum kecil sambil terus mengelap meja dihadapannya.


__ADS_2