Catatan Cinta

Catatan Cinta
_catatan dua_bagian ketiga


__ADS_3

Mereka berdua masuk kedalam dengan topeng yang sudah terpasang. Masing-masing dari mereka mengenakan topeng yang hanya menutupi bagian mata hingga hidung saja dan masih memperlihatkan bentuk dagu dan mulut penggunanya.


James masih belum habis pikir bagai mana ia bisa sangat depresi memikirkan cara mengakali kedatangannya tanpa terdeteksi, padahal dari semula pesta ini adalah pesta topeng.


Mereka tiba diruang tengah dimana acara diadakan. Ruangan tengah itu mirip seperti bangunan romawi jaman kuno, dengan bentuk lingkaran, berpilar-pilar besar, serta berlangit-langit tinggi, dan megah.


Banyak tamu telah memenuhi ruangan tersebut. Semuanya mengenakan topeng hingga tak dapat diketahui siapa-siapa saja mereka. Namun biarpun begitu James masih saja terlihat salah tingkah sambil memandangi berkeliling siapa tau saja ada yang masih mengenali dirinya.


“Bila kau bertingkah seperti itu, kau akan dengan cepat menjadi pusat perhatian” ucap Rika dengan santai seraya mengambil segelas minuman dari nampan pelayan yang melewati mereka.


“Rika”


“Sudahlah, kau santai saja. Kenapa mesti seperti itu sih? Seperti kau ini dari keluarga mafia saja”


James menatap Rika seraya berpikir, kemudian mengangkat bahu “benar juga katamu” saut James dengan cepat.


“Ya seperti itu, menikmati” saut Rika dengan senyum renyahnya.


Tak lama terdengar suara Waltz mengalun dan terlihat tampaknya mempelai dari acara ini mulai turun berdansa begitu area tengah ruangan itu terbuka dari kerumunan orang. James menatap ruangan tengah yang kini mulai berubah menjadi lantai dansa dengan beberapa pasangan yang mulai berdansa mengikuti dan terus bertambah. Kemudian James menatap Rika.


“Kau tau Rik, kita memang harus menikmati pesta ini” Ucap James dengan langsung menarik lengan Rika untuk menuju ke lantai dansa.


“Hey, hey! Tunggu dulu Jem, kau mau apa? Kau mau membawaku kemana?” Teriak Rika panik saat James terus menariknya menuju ke tengah ruangan.


James menarik tangan kanan Rika dengan tangan kirinya, meletakkan tangan kiri Rika dipundaknya kemudian menarik pinggul Rika dengan tangan kanannya mendekat.

__ADS_1


“Jem! kau jangan macam-macam, aku mana bisa yang seperti ini!” Rika mengerang marah walau masih dengan suara berbisik agar tak didengar oleh sekitarnya.


“Sudahlah, kau pasti bisa. Mudah kok” saut James enteng dengan masih melangkahkan kakinya menggerakan tubuh mengikuti irama dan gerakan-gerakan pasangan yang lain.


“Sudahlah, aku berhenti” saut Rika seketika berhenti dari gerakannya mengikuti James dan mencoba melepaskan diri dari James dan berjalan kepinggir.


“Eit, mau kemana?” James berusaha tak melepas peganganya dari Rika “kita baru mulai” James menahan dan kembali Rika dibuat James terpaksa mengikuti gerakannya.


“James!” Hardik Rika lagi masih dalam bisik.


“Kau sendiri yang memintaku menikmati pesta ini, dan jangan membuat kau kehilangan tiga permintaanmu” saut James dengan santai.


“James, kini kau dalam masalah besar” terdengar nada suara Rika yang penuh dengan amarah “kau sedang menggali kuburmu sendiri” tambahnya lebih tajam meski tubuhnya masih mencoba mengikuti gerakan James walau terlihat patah-patah. Ia tak akan membuat ulah hanya agar ia bisa mendapat tiga permintaan yang ditawarkannya sebagai syarat pada James.


“He-he, aku terlanjur basah kenapa tak mandi sekalian?” Jawab James dengan senyum ringannya. Ia senang dapat mengerjai Rika.


“Tapi malam ini kau terlihat sangat cantik” ujar James ditengah dansanya.


Rika terdiam mendapati James berkata demikian “itu tak akan merubah niat ku untuk membalas dendam padamu” tambahnya kemudian.


James tertawa kecil “Tapi aku berkata sungguh, baru kali ini aku melihatmu tampak secantik ini” ucapnya lagi.


“Kau harus hentikan itu, aku tak akan mengurangi pembalasanku” jawab Rika lagi dengan wajah masamnya.


“Kau harusnya cari cowok, agar kau bisa terus feminim seperti ini” ucap James lagi tak mengacuhkan perkataan Rika sebelumnya.

__ADS_1


Kali ini Rika menghentikan gerakannya. Menatap James dengan pandangan yang tak dapat ditebak artinya.


“Kenapa? Apa aku salah ngomong?” Terlihat James bingung dengan sikap Rika.


“Aku mau ke toilet dulu” saut Rika seraya pergi meninggalkan James yang terlihat makin bingung.


“Apa aku menyinggungnya? Aku tak bicara tentang kerjaan atau sesuatu yang terdengar mengasihaninya?” James bertanya pada diri sendiri “Mungkin lagi dapet jadi sensi” duganya kemudian seraya menuju meja mengambil minuman.


Tak lama kemudian tampak Rika datang dari jauh. James mengambil satu minuman lagi dari meja dekatnya berdiri dan kemudian menghambur menjemput Rika.


“Bagaimana, sudah cukup belum kita disini?” Tanya Rika begitu James menyerahkan gelas minuman padanya.


“Yah kurasa cukup, meski sayang karena aku masih ingin melihatmu dengan dandanan ini” jawab James dengan nada bercanda.


“Kurasa aku mulai berpikirkan akan memintamu memakai tuxedo meski itu di kampus” saut Rika ketus.


“Wah, mana bisa kaya gitu?” James segera sewot menerima rancangan permintaan pertama Rika.


“Makanya ayo buruan kita pulang, karena semakin lama aku disini, aku akan semakin lupa dengan diriku sendiri. Ini bukan duniaku, tidak dengan gaun dan high heels ini” ujar Rika.


“Padahal itu cocok denganmu, aku berani sumpah” saut James yang tak setuju dengan jawaban rika.


“Duniaku saat aku dapat berlari dengan bebas dalam lintasan, bukan dengan aturan-tata karma dan topeng-topeng yang menyembunyikan kita seperti sekarang ini” balas Rika tak kalah pedasnya.


“Coba lihatlah, padahal mereka tak beda seperti kita saat bertopeng seperti ini” ucapnya pada Rika “walau sebenarnya mereka masih memakai topeng di balik topeng itu. Topeng yang sebentar lagi juga akan ku pakai” kali ini James berucap lebih pada dirinya sendiri.

__ADS_1


-


__ADS_2