
“Aku benar-benar tak habis pikir dengan mu, Jan” Ucap Rika kemudian “Entah apa yang sebenarnya kau kejar?” Tanyanya kemudian.
Mereka ada dikantin kampus disela-sela jam bebas mereka. James berkewajiban menjelaskan kejadian saat diarea parkir kemarin pada Rika, penjelasan tentang memar dimata kirinya.
“Aku hanya ingin menolongnya saja”
“Dan apa dia meminta bantuanmu? Kau jangan melakukan hal-hal bodoh hanya untuk mencari simpatinya”
“Tapi aku hanya ingin membantunya itu saja” sela James bertahan.
Rika menggeleng pelan “Makin lama kau jadi makin tak ku kenal Jan, dan semua permainanmu ini?” Ucapannya dibiarkannya menggantung.
James hanya terdiam menatap Rika dengan keraguan hati, antara membiarkannya saja atau menyanggah ucapan gadis itu.
Rika balas menatap James “Kau tidak sedang teropsesi dengan gadis itu kan?”
“Jelas tidak lah” jelas James tak terima mendengar ucapan Rika yang seolah menuduhnya.
“Atau kau sedang ingin menunjukan sesuatu pada sesuatu?”
“Maksudmu?”
“Dengar Jan, aku memang tak setuju kau dengan gadis itu, tapi dari semua hal tersebut aku lebih tak setuju dengan segala tindakanmu pada gadis itu”
“Rika, aku menyukainya, dan itu sunguh-sunguh. Aku tulus”
“Tapi kau membuatku bingung Jan, kau seperti seseorang yang teropsesi akan sebuah pembuktian dengan caramu sendiri”
__ADS_1
“Aku hanya ingin dia menyukaiku dan melihatku bukan dari semua milik ayahku”
“Jadi maksudmu karena aku tau kau orang kaya aku baru mau berteman denganmu, begitu maksudmu? Dan tak akan ada yang menyukaimu bila kau orang miskin? Menyedihkan sekali kau ini”
“Rik..” ujar James mendesah pasrah “bukan begitu. Kau taukan aku tak berpikir begitu terhadapmu” James terdengar menjedah “Tapi untuk yang satu ini aku perlu pembuktian. Untuk menyakinkan cinta yang akan ku kejar”
“Kau tau, kau sedang memasang ranjau dijalan yang kau lewati sendiri” Rika berdiri mencangklong tasnya “Tak ada satu orang pun yang mau dibohongi, apalagi oleh seseorang yang disayanginya” Rika menutup ucapanya seraya beranjak pergi, karena ia sudah tak ingin memperdebatkan masalah yang tak akan bisa dibawa kemanapun ini.
“Rika tunggu dulu” ucap James yang buru-buru mengejarnya.
“Sudahlah Jan, percumah. Kau hanya ingin mendengar apa yang ingin kau dengar, jadi percumah” saut Rika lagi.
-
Sorenya ditempat James kerja, hampir semua orang yang berpapasan selalu menanyakan tentang lebam matanya yang sangat menarik perhatian, bahkan atasannya dan beberapa tamu yang mengenalnya.
Dia harus berbohong untuk hal itu, dengan mengatakan ia tak sengaja terpukul saat ada perkelahian dikampusnya. Tapi ada satu orang yang tau tentang kejadian yang sebenarnya. Iton langsung tau dari satpam yang menolong James kemarin, tapi ia meminta satpam itu untuk tak cerita pada siapapun.
“Oh ini, kena pukul”
“Siapa yang memukulmu?”
“Ada yang tak sengaja memukul saat aku mencoba melerai seseorang yang sedang berkelahi di kampus”
Zabrina hanya mengangguk walau masih belum puas dengan jawaban James barusan.
“Oya, bagaimana kalau kali ini aku antar kamu pulang. Kau tak bawa kendaraankan? Sekalian aku ingin tau dimana rumahmu, boleh kan?” James mencoba membelokan topik pembicaraan.
__ADS_1
Zabrina tak menjawab namun hanya menatap lekat-lekat kearah James “Kau tak bisa kerumahku, tapi bila kau ingin mengantarku kau bisa mengantarku ke suatu tempat. Aku ingin kesana setelah ini” ucapnya kemudian setelah terdiam beberapa detik.
James mengerutkan dahinya namun kemudian tersenyum “Baiklah” jawabnya kemudian dengan cepat. Kini ia mulai terbiasa dengan ucapan Zabrina yang tanpa basa-basi ini “memang mau kemana?”
“Kau akan tau setibanya disana”
“kenapa mesti pake rahasia-rahasiaan segala sih?”
Bukannya menjawab Zabrina hanya tersenyum kemudian melangkah keluar.
James memboncengkan Zabrina dengan motornya, melaju menurut petunjuk Zabrina. Akhirnya mereka tiba disebuah jalanan dimana sepanjang bilangannya dipenuhi oleh para pedagang kaki lima. Segala jenis makanan dan jajanan berjajar menggoda selera.
“Kenapa kita kemari, Zab?” Tanya James begitu mereka berhenti dan turun dari kendaraan.
“Aku sedang ingin jagung bakar” saut Zabrina cepat seraya menuju salah satu kios jagung bakar terdekat.
James hanya diam sambil mengikuti Zabrina dari belakang.
“Kau mau yang rasa apa?” Tanya Zabrina saat ia sudah siap memesan.
“Jangan yang pedes aja” jawab James mendekati Zabrina.
Tempat ini ternyata memiliki pengunjung yang beragam saat James mulai memperhatikan sekitarnya seraya menunggu. Dilihat dari banyaknya mobil yang terparkir, sepadan dengan banyaknya motor di sisi-sisi jalan yang menyempitkan ruas jalan.
James kemudian menatap sosok Zabrina yang sedang menunggu jagung pesanannya dari belakang. Dan entah kenapa ia merasa bahwa gadis itu sedang bahagia meski tak terlihat dari wajah dan perangainya.
Namun saat James sedang memandang Zabrina, gadis itu tiba-tiba menoleh ke arah James dengan wajah datarnya. Kemudian tanpa melakukan apapun gadis itu kembali menatap panggangan Jagung di hadapannya.
__ADS_1
Gadis yang aneh, pikir James.
-