Catatan Cinta

Catatan Cinta
_catatan dua_bagian keduabelas


__ADS_3

Malamnya James merasa gelisah. Ucapan Zabrina tadi telah menyerang pikirannya serupa insomnia. James terduduk di sofa yang sengaja ia hadapkan kedinding kaca, yang menunjukan gambaran malam pekat dengan beberapa titik cahaya terlihat diantaranya. Lalu pikirannya pun mulai penuh dengan berbagai hal tentang Helen.


Benar kata Zabrina. Apa ia memang semudah itu? Tapi dengan kejadian kemarin membuat James bertambah yakin bahwa Helen suka gonta-ganti cowok, hal ini menggoyahkan keyakinannya. Bagaimana bila setelah berhasil di kejar, ia hanya bertahan 2 atau 3 bulan saja? Pikiran itu terus berulang menggaung dalam benaknya sekarang.


Karena merasa sangat suntuk, James mulai bangkit. Mengambil jaketnya dan bergegas pergi. Jam dinding menunjukan pukul sebelas lebih. Diwaktu yang menuju ke tengah malam ini, jalanan seolah baru mempersiapkan diri untuk sebuah pesta besar. Namun kalutnya perasaan James membuatnya tak dapat merasakan apapun. Ia mencoba mengalihkan perhatiaannya dengan mengamati tiap orang yang lalu lalang disekitarnya.


Tapi gagal. Ia tetap merasa bete. Ia mencoba masuk kesebuah club yang sedang mengadakan acara musik live. Masih tetap gagal. Perasaannya tak berubah, malah makin bete.


James kembali meneruskan perjalanannya hingga langkah kaki nya membawanya ketempat dimana ia melihat Helen kemarin lusa. Ia berdiri didepan gang kecil bertulis ’toilet’ dan arah panah. Kemudian memandang berkeliling, dan ternyata tepat disebelahnya ialah cafe dengan nama yang dikenal James. Milik ayah Helen. Pantas saja. Benar-benar telah dipermainkan takdir pikirnya.


’Groove me! Beach season’ tertulis besar di banner yang terpampang didepan pintunya. Sebuah pesta musik dipinggir pantai tepat dibelakang cafe itu. Dan James pun segera melangkah masuk tanpa pikir lagi. Entah kenapa ia sendiri pun tak mengetahuinya. Dan kini ia pun telah berada diantara riuhnya euphoria dengan lampu laser yang melesat kesana kemari, musik dengan groove yang berhentak secara harmonisnya, seolah berdendang diantara langit gelap dan pasir. Bau laut bercampur dengan aroma keringat, alkohol, dan bau gosong terasa biasa bagi mereka. Terasa panas padahal angin berhembus dengan kencang.


James hanya berdiri sedikit lebih jauh dari tempat pesta. Tempat dimana mereka bergoyang dan menari didepan sebuah panggung kecil yang seolah altar dengan seorang Dj dihadapan turntable, yang seolah nabi dengan kitab syiar nya. Mereka yang ada disitu memiliki berbagai macam tujuan dan alasan yang berbeda. Tapi perbedaan itu telah terbaur menjadi satu oleh sebuah perasaan yang sama satu dengan yang lain. Mungkin kecintaan mereka terhadap musik dan pesta lah yang membuat mereka seolah tanpa beda.


Namun sayang nya semua ini masih tetap gagal. Perasaan James belum bergeming. Dan kemudian ia meneruskannya ke arah pantai. Pantai malam yang dingin.

__ADS_1


Dinginnya air garam yang menyentuh kaki itu mulai bisa menenangkannya. James menjongkokan tubuhnya dan merasakan air dengan kedua telapak tangannya. Ia tau ia harus segera menentukan sikap. Mengakhiri hal yang tak berguna ini. Air laut itu benar-benar membantu.


”Lepaskan!” Tiba-tiba terdengar teriakan dari arah kiri James.


James mencoba memincingkan matanya dan membiasakan menatap dalam kegelapan.


”Lepaskan aku! Tidak!” Teriakan samar itu mulai jelas terdengar, suara cewek.


James berdiri dan setelah pandangannya terbiasa, ia mendapati dua sosok sedang berguling dipasir. Tanpa pikir panjang segera James berlari menghampiri. Terlihat seorang pria dengan kasar memaksa seseorang gadis yang tergeletak diantara pasir. Tak menunggu lebih lama James segera menarik pria itu menjauh, dan melayangkan pukulannya kearah pria itu hingga tersungkur.


Terlihat sedikit shock Helen hanya terdiam dalam posisinya terduduk tiga sampai empat langkah didepan James. Nafasnya tak teratur. Ia dengan panik membenahi baju kemudian tatanan rambutnya.


”Kau baik-baik saja kan? Tak ada yang terluka kan?” Tanya James seraya mengulurkan tangan saat tiba-tiba dari arah belakang sebuah pukulan dengan mantap mendarat tepat dipipinya.


James tersungkur seketika. Tampak pria tadi telah bangkit berdiri dengan sedikit sempoyongan. Dan sebelum melakukan apapun lagi, James telah berdiri dan menerjang pria itu dengan pukulan. Baku hantam pun terjadi. Beruntungnya karena pria itu sedikit mabuk, yang membuat posisi James diatas angin.

__ADS_1


Setelah beberapa kali pukulan dan dengkulan, akhirnya kemenangan ada pada James. Walaupun ia juga telah dibuat sempoyongan oleh sang lawan.


Helen yang kini sudah dapat berdiri, hanya terdiam menatap James. Ia mundur beberapa langkah saat James mendekatinya.


James kemudian menatap Helen dengan nafas yang tersengal-sengal ”Lain kali kau harus berhati-hati” ucapnya kemudian seraya pergi meninggalkan Helen yang masih belum memahami keadaannya.


Helen menatap James yang pergi meninggalkannya, dengan tak tau harus berbuat apa. Sebentar ia ingin memanggil James namun diurungkan.


James juga masih tak habis pikir dengan semua hal yang terjadi barusan. Begitu cepat dan sulit untuk dipahami. Tapi setidaknya ia bersyukur, karena ia berada disaat yang tepat walau mungkin bukanlah orang yang diharapkan Helen saat itu.


James kembali ke hotelnya dan tak disangka ternyata Helen mengikuti James dari jauh. Sedikit penasaran kemana James akan pergi. Dan lebih penasaran lagi saat melihat James memasuki hotel berbintang.


Sebenarnya ia hanya ingin mengucapkan rasa terima kasihnya yang sulit sekali diutarakan karena tertahan oleh ego nya yang berlebih. Namun kemudian ia tersadar dengan apa yang sedang ia lakukan sekarang.


Kenapa ia melakukan hal yang terlihat bodoh seperti ini. Ia sedang mengamati seseorang dari jauh. Seseorang yang bukan siapa-siapa. Seseorang yang jauh tingkatannya dibanding dirinya. Dan dengan cepat sebelum ada yang melihatnya, segera ia pergi berlalu.

__ADS_1


~*~


__ADS_2