
Memasuki pukul empat kurang, dimana James dan Zabrina terus mencari pekerjaan agar tidak mengantuk, tiba-tiba mereka kedatangan seorang tamu. Walaupun masih berupa silhouette, James sudah dapat memprediksi bahwa Helen lah yang ada diambang pintu. James dan Zabrina saling berpandangan sesaat sebelum akhirnya James menghampiri Helen.
”Buatin gue Banana Split” saut Helen sebelum James benar-benar mendekat.
Langkah James berbalik setelah mendengar perintah dari Helen. Ia segera menuju dapur dan membuatkan apa yang dipesan Helen.
Es dijam seperti ini? Dan lagi kenapa ia masih diluaran jam-jam segini? James tak bisa menghilangkan pikiran itu dari benaknya. Dan segera ia keluarkan setelah apa yang diraciknya itu beres.
Helen duduk dimeja dekat pintu, menundukan kepalanya dengan tangan kanan sebagai penyangga. Telapaknya menutupi seluruh mata hingga sebagian hidungnya. Terdiam nyaris tak bergerak. James mendekatinya dengan sedikit ragu. Berjalan perlahan.
”Maaf, ini pesanannya” ucapnya kemudian meletakan secawan kecil ice cream diatas meja.
Helen tak mengangkat wajahnya ”Yah, terima kasih. Sekarang lo boleh pergi” ucanya kemudian.
__ADS_1
James mundur dengan teratur menjauh dari meja Helen. Ia masih sedikit tak percaya ia masih bisa bertemu Helen di jam-jam yang terlihat ga mungkin seperti sekarang.
”Dia kenapa ya?” Tanya James saat ia sudah berada dibalik meja pesanan bersama Zabrina.
Zabrina hanya terdiam menatap Helen yang belum juga mengangkat kepalanya.
”Kelihatannya ada masalah ya?” Tanya James pada Zabrina.
Zabrina masih diam menatap Helen kemudian mengangkat bahunya kearah James sebagai jawaban bahwa ia juga tidak tau.
James menatap kearah Zabrina ”apa ia menangis?” Tanyanya memastikan.
Zabrina masih juga dalam bisu menatap Helen kemudian menatap James.
__ADS_1
Melihat hal tersebut membuat hati James miris. Tak pernah ia melihat gadis yang selalu tersenyum ceria itu menangis dengan tertahan dalam kesendirian. Ingin sekali ia melakukan sesuatu untuk Helen ”Dia menangis. Apa yang harus aku lakukan sekarang Zab?” Tanyanya dengan wajah yang terlihat ingin melakukan sesuatu tapi tak tahu harus herbuat apa, ”Apa aku harus kesana?” Tanyanya kemudian yang terdengar seperti sebuah perintah untuk meyakinkan diri sendiri.
”Jangan. Biarkan dulu ia menyelesaikannya” saut Zabrina saat James bersiap untuk menghampiri Helen.
”Tapi Zab” terlihat James tak mengerti dengan maksud ucapan Zabrina.
”Ia memang butuh seseorang disampingnya, tapi bukan kamu" ucap Zabrina kemudian dengan terus terang, "Kau hanya akan menahan semua perasaan yang akan ditumpahkannya” tambahnya dengan masih menatap Helen yang kini semakin cepat menyuapkan bersendok-sendok es ke dalam mulut. ”Ia sedang meluapkan perasaannya, biarkan dulu” tutup Zabrina kemudian.
James menatap Zabrina dengan pandangan sedikit bingung sedikit aneh. Tapi James menurutinya. Menurutnya ucapan Zabrina masuk akal. Ia kini hanya terdiam menatap Helen, yang sesekali mengusap air matanya sambil terus menyuapkan sendokan es ke mulut, dengan perasaan sedih tapi tak dapat berbuat apapun.
Namun tiba-tiba Helen berhenti, meletakan sendoknya, berdiri, dan tanpa ucapan apapun ia nyelonong pergi begitu saja. Meninggalkan sisa ice cream dalam cawan kecil diatas meja.
Serta James dan Zabrina di meja kasir.
__ADS_1
~*~