
”Lo napa?” Helen bertanya saat melihat James tersenyum kecil dengan gelasnya sendiri.
”Nggak, cuma lagi seneng aja” jawab James singkat.
”Ya pastilah. Lo pasti baru pertama masuk cafe ini kan? Terus distro-distro yang tadi kita datangin, ya kan?” Helen berucap dengan nada bangga.
James tersenyum lagi ”bukan karena hal itu” ucap James sambil mengaduk-aduk sedotan minumnya ”karena aku bisa keluar berdua denganmu” tambahnya dengan sedikit ragu.
”Hey, lo jangan berfikiran yang macem-macem ya! Lo itu pekerja gue, dan sekarang pun status itu masih ada. Jangan salah paham” cegat Helen dengan rentetan kata-kata.
”Iya aku tau” James buru-buru menjawab.
”Hey Je!” Sapa seseorang dengan tiba-tiba yang tak disadari James sudah berdiri disebelah nya seraya menepuk pundak.
”Axel?!” Ucap James kaget bercampur senang dan rasa takut yang muncul secara instan.
”Axel?!” Helen lebih terkejut lagi mendapati Axel disitu.
”Eit?” Kini ganti Axel yang terkejut mendapati Helen ada disitu bersama James.
James ganti terkejut mendapati mereka berdua saling kenal. Axel ini adalah pewaris tunggal sebuah perusahaan textil terbesar nomer enam di Asia tenggara. Ia lahir dan tinggal di Amerika sampai usia 12 tahun.
Ia merupakan teman dekat James sejak umur 6 tahun. Saat keluarga James terpaksa pindah ke Amerika agar mudah mendapat akses untuk pengobatan ibu nya. Dan karena orang tua mereka berteman akrab maka James dan adiknya sering di titipkan ke tempat Axel disaat-saat tertentu. Lama kelamaan James dan Claudia jadi seperti saudara yang tidak pernah dimiliki Axel sebelumnya.
Saat SMP dan SMA, Axel memaksa mengikuti James ke Indonesia dan bersekolah di sekolah negri yang sebenarnya ditolak oleh orang tua Axel. Dan baru saat lulus SMA mereka terpisah. Axel meneruskan kuliahnya di Melburn.
”Wah kemajuan lu Je” Axel menepuk punggung James ”gitu donk” tambahnya.
__ADS_1
”Kau baru pulang ya?” Tanya James mengalihkan topik.
”Wa bolos” ucap Axel sambil nyengir ”oya Eit bagaimana kabar lu?” tambahnya menyapa Helen.
”Gue baik-baik aja, lo ndiri?” Ucap Helen dengan sedikit bingung melihat sikap Axel terhadap James ”Kalian saling kenal ya?” Tambahnya kemudian.
”Apa lu bilang? Saling kenal?” Axel bertanya dengan sedikit tertawa ”dia satu-satunya sahabat yang wa punya, sodara cowok” Axel menjawab dengan renyah seraya menatap James yang terlihat gelisah.
”Sahabat? Sodara?” Helen bertanya dengan memincingkan mata curiga karena merasa aneh.
”Sudah-sudah. Apa tadi yang kau maksud dengan membolos?” Tanya James memotong pembicaraan Axel dan Helen.
Axel menatap James dengan tersenyum ”lu tau kan wa bosan disana. Jadi wa main kemari dan sengaja ga ngomong ke lu, supaya bikin kejutan. Eh malah gua yang dibuat kaget” ucap Axel seraya melirik Helen.
”Jadi ayahmu ga tau kamu pulang?” James tetap menjaga topik pembicaraan agar tak melenceng.
“Axel!“ Terlihat James menghardik marah walau dalam nada yang tak tinggi.
”Sori, sori” jawab Axel sambil mengangkat tangan ”jadi bagaimana Eit?” Tanyanya kemudian kepada Helen.
”Apa?” Respon cepat Helen yang masih bingung dengan situasi sekarang ”apa maksud lo?” tambahnya saat melihat Axel senyum-senyum ”kita ga ada apa-apa. Dia cuma nganterin gue belanja, itu aja” jawab Helen cepat menyangkal segala pikiran Axel yang belum diucapnya.
”Wah, jadi sekarang lu punya mobil ya Je?” Tanya Axel spontan kearah James. Karena ia tau James tak pernah mau untuk dibelikan mobil saat ayahnya ingin memberi kado ultah ke 17 tahunnya.
”Jelas mobil gue lah!” Saut Helen kesel. Ucapan Axel barusan itu sungguh ga masuk akal pikirnya. Axel ini aneh, jelas-jelas melihat keberadaan James yang seperti ia tau ga bakalan mampu membeli mobil. Alih-alih mobil, motor aja belum tentu.
”Wah, kalo gitu lu udah bisa nyetir ya?” Tanya Axel spontan lagi kearah James.
__ADS_1
”Gue yang nyetir” sela Helen yang kini semakin kesal.
Axel menatap Helen, kemudian kearah James ”so, fungsi dia apa?” Tanyanya kemudian pada Helen.
“Bawain belanjaan gue“ Jawab Helen dengan bangga.
“Apa?“ Axel menatap James yang hanya tersenyum pasrah. Namun saat Axel hendak berkomentar lebih, tiba-tiba handphone nya berbunyi dan segera ia mengeluarkanya untuk mencari tau “Wah wa lupa ada janji ma si Key. Yaudah wa tinggal dulu kalo gitu“ tambahnya kemudian setelah mengecek hp nya “ntar wa kerumah, banyak hal yang perlu lu ceritain“ Axel tersenyum menatap James dan kemudian menghilang dengan cepat dibalik pintu cafe.
“Dasar anak itu“ ucap James sambil tersenyum.
Sedang Helen terus menatap kearah James dengan expresi butuh penjelasan.
”Apa?” Tanya James merespon tatapan Helen.
”Apa-apaan yang barusan?” Tanya Helen dengan ketus.
”Ya seperti yang dikatakan. Kami teman sejak kecil” jawab James dengan bersunguh-sunguh mengatakannya.
”Bagaimana kalian bisa ketemu?” Tanya Helen lagi saat mereka kembali melanjutkan acara belanjanya.
”Axel? Orang tua kami berteman” jawab James sambil tersenyum ”oya, habis ini udah ga ada acara lagi kan?” tambah nya supaya Helen tidak memulai topik pembicaraan tentang Axel.
”Ga ada, kenapa? Lo mo balik?” Jawab Helen disambung pertanyaan.
”Hm, aku sudah seharusnya ganti shift dengan orang lain” ucapnya ragu kalo-kalo Helen marah dengan ucapanya.
Helen menatap jam ditangannya. Setengah tujuh malam ”Oh, sudah jam segini. Baiklah. Ayo balik ke cafe” ucapnya kemudian.
__ADS_1
-