
“Yah, gara-gara ingin berlibur ke pulau ini, aku harus menghadiri acara ayahku yang membosankan itu” ucap James saat ia dan Zabrina telah tiba dijalanan pinggir pantai diluar hotel.
“Tapi beruntung juga bertemu kamu, aku jadi bisa keluar dari ruangan itu” tambah James saat mereka mendapatkan tempat duduk yang nyaman dengan pemandangan yang indah menghadap laut malam. “tapi kebetulan macam apa ini, aku benar-benar tak menyangka bertemu denganmu disini lebih-lebih didalam tadi”
“Yah, kau takkan pernah tau kemana kehidupan akan membawamu” jawab Zabrina seraya melepas hak tingginya dan menyentuhkan telapak kakinya keatas pasir.
“Ngomong-ngomong kenapa kau bisa berada disini Zab? Apa ini acara keluarga yang kau maksud kemarin?” Tanya James kemudian dengan sindiran.
Zabrina menatap James yang sedang mengamati lautan, dengan ekspesi wajah yang tak jelas, yang sering terlihat tampak diwajah gadis itu. “Aku dipaksa ikut, karena hendak dijodohkan” jawab Zabrina kemudian.
“Eh?” Spontan James menatap Zabrina dengan wajah tak percaya. “Hendak apa?”
“Yah, seperti yang kau dengar, aku sedang menanti calon suamiku, sampai tiba-tiba aku menabrakmu dan…” Zabrina terlihat santai dalam bicara, “…disinilah kita” Zabrina terlihat tersenyum samar “Mungkin aku juga beruntung bertemu kamu disini” tambahnya kemudian.
“Masa iya sih? Hari gini? Perjodohan? Eh tapi apa tidak apa-apa kau keluar begini? Acara itu? Ayah-ibumu bagaimana? Apa mereka tidak cemas mencarimu?” James menjadi tak enak karena telah mengajak Zabrina meninggalkan acara yang mungkin sangat penting baginya dan keluarganya.
“Kau ini bodoh atau apa sih? Tenang saja. Mereka tidak akan susah-susah mencariku. Mereka punya bawahan yang bisa menemukanku meski aku berada dihalaman pintu neraka sekalipun” saut Zabrina ketus namun masih dengan nada bicara yang tenang dan sopan.
“Eh?” James bingung harus mengomentari apa.
“Tapi, yang soal jodoh itu kamu ga nolak?” Tanya James dengan sedikit ragu kemudian.
“Hm” Zabrina hanya mengangkat bahunya.
James berusaha merasa puas dengan respon Zabrina barusan, karena ia merasa hal yang baru saja ia tanyakan pada Zabrina itu adalah masalah sensitif. “Eh, tapi nggak nyangka ternyata kau juga sama sepertiku” tambahnya untuk menggalihkan pembicaraan.
__ADS_1
“Sama apa? Anak orang kaya?” Tanya Zabrina santai namun tajam.
“Bukan” saut James jengkel. “Menurutku kau juga tidak terlalu suka mengandalkan ‘Fasilitas’ keluarga kan?”
“Maksudmu dengan bekerja dicafe kecil mencoba mencari penghasilan sendiri?” Tanya Zabrina mempertegas.
“Ya, aku menyebutnya belajar mandiri”
“Aku menyebutnya keisengan saja. Karena terlalu bosan berada terus dirumah, aku mencoba mencari kerja seperti orang-orang kebanyaan” saut Zabrina “tapi setelah puas menikmatinya aku juga akan kembali ke ‘Fasilitas-fasilitas’ keluargaku. Jadi jangan terlalu dipikirkan” tambahnya.
“Kau ini kenapa sih? Lagi bete ya? Ngomongnya ngaco. Lebih baik kita ketepi pantai sana” ucap James melepas sepatunya dan kemudian menarik lengan Zabrina menuju pasir putih kearah bibir pantai “Kau akan lebih rilek bila bersentuhan dengan air laut”
“Hey-hey tunggu dulu” Zabrina terlihat buru-buru mengangkat gaun panjangnya.
“Hey! Kau ini apa-apaan sih?” Zabrina mengusap wajahnya yang basah.
“Yang ini juga” James menendang air laut yang menggenangi kakinya kearah Zabrina.
“Hey! Sudah ku bilang—” belum selesai Zabrina berucap, kembali wajahnya basah tersiram air laut
“Kamu ini!!” Segera setelah itu Zabrina membalas mencipratkan air laut kearah James.
Air membasahi wajah James yang langsung disambut dengan serangan balasan, dan keduanya pun saling menyerang dibawah langit malam yang mendung.
“Belum habis pikir aku, dijaman seperti ini masih ada perjodohan seperti itu” ucap James setelahnya. Mereka masih berdiri ditepian bibir pantai.
__ADS_1
“Kau akan tersedak sampai mati saat kau mulai masuk dalam dunia orang dewasa” jawab Zabrina yang penuh makna seraya menggerakan ujung kakinya berain dengan pasir.
“Kalo boleh tau, kau akan dijodokan dengan siapa?” James bertanya ragu, kalo-kalo pertanyannya menyinggung dan membuat Zabrina marah.
Zabrina menatap James dengan ekspresi tenang, seolah tidak ada beban dalam pikirannya. Terdiam beberapa detik saat menatap James, seolah sedang memikirkan sesuatu “Kurasa aku tau siapa orangnya, tapi mungkin orang itu tidak mengetahuinya” ia menjawab dengan pandangan kearah laut.
“Jadi kau juga belum yakin benar siapa orang itu?” Tanya James masih dengan takut-takut “ini jaman dimana hal pribadimu sudah dapat ditonton orang melalui Youtube, tapi masih ada juga yang blind-date kaya gini” tambah James mengomentari.
Zabrina berjalan kepinggir, kemudian duduk diatas pasir tak jauh dari tempat James berdiri. Sambil menatap James tanpa ekspresi gadis itu berkata “Tanya saja pada orang-orang dewasa” dengan nada yang tajam dan bersahaja.
James tidak berkomentar. Ia mencoba menghormati perasaan Zabrina.
“Sebenarnya perusahaan keluargaku sedang diujung tanduk” ucap Zabrina kemudian “Pernikahan politik. Penggabungan perusahaan, atau sekedar menjaga kestabilan saham dengan issu ini” tutupnya kemudian.
“Apa separah itu, sampai kau juga harus ikut-ikutan?” Tanya James kemudian.
Zabrina hanya tersenyum tanpa jawab seraya menatap garis cakrawala yang tak nampak diujung lautan.
James tidak melanjutkan pertanyaannya. Ia telah tau melalui senyuman yang baru saja dirangkai Zabrina.
“Oya, kau tampak ganteng dengan tuxedo itu” tambah Zabrina kemudian mengalihkan topik pembicaraan.
“Sudah hentikan” saut James cepat dengan wajah yang berubah kesal.
~*~
__ADS_1