Catatan Cinta

Catatan Cinta
_catatan satu_bagian kedelapan


__ADS_3

Hampir lima hari setelah James melihat Helen menangis. Setelah itu ia tak pernah bertemu Helen sama sekali, baik di kampus maupun di cafe. Benar-benar menghilang dari kehidupan James, statusnya: MIA–Missing In Action.


Hari ini pun sudah mulai sore namun James belum melihat Helen muncul, padahal ia terus berharap sebelum shift nya berakhir ia bisa bertemu dengan Helen.


”Kenapa lemes?” Tanya Iton saat mendekat kearah James seraya membawa gelas kotor.


”Nggak” jawab James kemudian yang sedang mencuci gelas dan cangkir kotor.


”Helen kan? Sudah jangan pura-pura” Iton menebak.


James hanya tersenyum kecil.


”Denger-denger ia ke singapur atau malaysia gitu” ucap Iton kemudian.


”Masa? Ngapain? Sama siapa?” Tiba-tiba James menderukan pertanyaan pada Iton.


”Hey, hey, aku bukan bapaknya. Tenang dulu dong. Segitunya, aku kan cuma denger-denger jadi ga tau bener atau salah” jelas Iton kemudian.


”Maaf” ucap James sedikit malu.


”Tenang aja setau ku dia cuma liburan dan bukan pindah selamanya disana” jelas Iton seraya pergi kedepan lagi.


Apa itu ada hubungannya dengan saat Helen menangis kemarin? Pikir James. Ia benar-benar tak tau apapun tentang Helen.


”Jan!” Tiba-tiba Iton berlari dengan tergesa kearah James.


”Kenapa kau lari-lari kaya yang kemalingan gitu?” Tanya James saat melihat Iton kehabisan nafas.


”Tuh didepan. Pujaan mu” ucap Iton yang memicu gerak spontan James berlari kedepan.


Telihat Helen dengan 2 temannya seperti biasa, tak nampak kesedihan dan air mata, sosok yang terbiasa nampak dimata James. Helen yang tampak ceria, selalu riang penuh senyum dan tawa.


Segera James berdiri dibalik meja kasir, menanti Helen menghampirinya untuk memesan. Terlihat 2 temannya tertawa-tawa saat menatap kearah James. James tau mereka membicarakan dirinya.


”Moccalate dua” ucap salah satu teman Helen pada James.

__ADS_1


”Seperti biasa” kali ini Helen yang menyela, ia bahkan tak mau memandang James.


”Dua Moccalate, satu Vanila Blended. Ditunggu sebentar ya, nanti diantar” ucap James.


”Dia bahkan tau minuman favorit lo, Len” ucap teman Helen yang tadi memesan seraya berjalan pergi menuju meja mereka.


”Ia kerja disini, jadi harus tau itu” ucap Helen dengan sedikit ketus.


”Jangan terlalu senang, kau bisa-bisa menakuti si harimau” saut Iton dengan selentingan kecil saat sambil jalan.


Terlihat Zabrina menatap James yang dengan bersemangat mengantar pesanan Helen dan teman-temannya ke meja, terlihat seperti seorang anak yang baru pertama kalinya menerima hadiah ultah. Begitu berseri.


Dalam hati, Zabrina merasa sedikit iri. Bukan terhadap Helen melainkan terhadap James.


”Kenapa Zab?’ Iton tiba-tiba bertanya membuyarkan lamunan Zabrina.


”Hm?” Zabrina menoleh terlihat tak tampak perubahan dalam mimik mukanya walau ia terkejut ”Itu lagi perhatiin James” jawabnya kemudian.


”Kenapa emang?” Tanya Iton lagi.


”Ha-ha” spontan Iton tertawa mendengar ucapan Zabrina barusan ”Itulah yang kusuka sekaligus kubenci darimu Zab, kamu kalau ngomong ga pake basa-basi” ucapnya lagi sambil lalu.


Zabrina menatap Iton dengan bingung.


Sementara James sudah mulai dikerjai oleh teman-teman Helen.


”Kalo dilihat-lihat lo tu cakep” ucap salah seorang teman Helen dengan lima anting di telinga.


”Bener juga” temannya yang satu lagi nyeletuk sambil mengamati wajah James dengan seksama.


James hanya tersenyum ”ada yang bisa saya bantu lagi?” Ucapnya dengan pertanyaan.


”Kenapa ga coba jadi model? Kan lumayan tu, tampang lo pasti masuk” si anting lima tadi berucap lagi mengacuhkan pertanyaan James barusan ”Dari pada jadi pelayan cafe”


”Bener, Lia punya koneksi agen model gitu” ucap yang satunya menambahi ucapan temannya yang bernama Lia tadi.

__ADS_1


”Terima kasih” jawab James dengan ramah dan sopan ”Baiklah saya permisi dulu” ucapnya lagi.


”Wah, ditawari yang lebih malah ditolak” ucap Lia ”ga nyukurin berkah lo”


”Maaf, bukannya begitu maksud saya” jawab James masih dengan sopan.


”Ya udah kalo gitu” tutup Lia kemudian.


”Coba kalo lo jadi terkenal, lo kan bisa lebih deket sama Helen” celetuk yang satu lagi ”ya ga?”


”Indie! Apaan sih lo?!” Sergah Helen spontan.


”Loh kan bener, setidaknya kan ga malu-maluin bawa artis jalan, ya kan?” Tambah Indie sekali lagi.


Teman Helen Lia–yang beranting lima tadi–mengangkat kedua jempolnya ”Lo suka sama Helen kan?” Tanyanya kemudian pada James.


James hanya tersenyum kemudian berlalu. Sementara dua teman Helen itu renyah sekali tertawa. Terlihat pula Iton tertawa tertahan berjalan menuju kearahnya dengan beberapa gelas dalam nampan di pegangannya.


Iton masih tetap tersenyum menahan tawa ketika ia dekat dengan James dan meja Helen. Karena tidak konsentrasi, kakinya tersandung kaki kursi didekatnya. Tak dapat mempertahankan keseimbangannya Iton pun terjatuh.


Melihat hal tersebut, membuat James segera berlari menuju Iton, bukan karena temannya itu, namun gelas yang tadinya dipegang Iton terlempar kearah Helen. Dengan sigap James meraih tangan Helen, menariknya maju hingga seluruh tubuh Helen menunduk dan terhindar dari gelas yang mengarah kekepalanya.


Prang!!!


Sesaat semuanya hening setelah terdengar suara gelas terbanting. Helen terdiam. Ia tampak terkejut, sampai kemudian sadar tangan kanannya masih dalam genggaman James. Kemudian segera ia menariknya, berdiri, kemudian menampar wajah James.


James terdiam menerima tamparan Helen barusan, ia masih tidak menegerti.


”Ayo kita pergi” ucap Helen mengajak pergi teman-temannya.


”Jan?!” Iton buru-buru mendekati James begitu ia sudah kembali berdiri.


”Ku anggap itu sebagai ucapan terima kasih” jawab James kemudian ”katakan, apa sekarang wajahku merah?” Tanyanya kemudian kearah Iton.


Berusaha sekuat tenaga menahan tawa Iton berucap ”Pasti malunya lebih sakit dari tamparannya ya?”

__ADS_1


~*~


__ADS_2