
Sore ini James sudah siap didepan tempat kerja Rika menanti sahabatnya itu pulang. Ia ada janji untuk traktir Rika makan malam, janji untuk mengganti jasa ’titip-absen’ nya. Menunggu di tempat parkir tak jauh diseberang jalan. Terlihat setengah lima para pegawai sudah mulai keluar. Tak terlalu lama kemudian nampak Rika menghambur kearah James, diantara teman-teman sekerjanya yang lain.
”Dah lama?” Ucap Rika begitu telah sampai diseberang.
”Baru aja. Gimana?” Saut James yang masih ga turun dari motornya.
Rika tersenyum ”mau langsung atau?”
”Terserah” jawab James singkat.
Terlihat Rika terdiam berpikir ”langsung aja deh kalo gitu, dah laper nih” ucapnya seraya melompat membonceng.
”Siap tuan putri!” James memberikan helm ke Rika.
Tak lama motor James pun melesat begitu Rika telah siap diboncengannya.
”Kali ini aku mau makan steak” ucap Rika dari belakang James.
”Ditempat biasa atau mau cari yang baru?” Tanya James kemudian.
Terlihat Rika sedikit berpikir ”tempat biasa aja kali ya? Soalnya udah laper. Ntar kelamaan kalo cari-cari, trus belum dijamin enak” ucapnya kemudian.
”Baiklah kalo gitu” ucap James yang telah mendapat tujuannya segera memacu motornya lebih mantap.
Mereka tiba disebuah restoran kecil, sedikit mewah sih kelihatannya, tapi sebenarnya itu tempat tujuan utama anak-anak kost untuk makan, karena disamping murah juga enak. Banyak kenalan mereka yang sering makan ditempat ini.
Tempatnya kurang strategis sih, masuk jalan kecil hampir ga keliatan dari mana-mana, tapi nyaman dan yang terutama murah dengan luxury-taste kalo Rika mengistilahkannya. Dan itulah rumah makan mewah yang sering dikunjungi mereka berdua, restouran favorit mereka.
__ADS_1
”Rik, kamu pernah ga sedih sampai pengen banget nangis?” Tanya James disela makan mereka.
”Hm?” Rika menatap James sembari memotong daging dihadapannya.
”Nangis” James menegaskan ”nangis sendirian, meluapkan perasaan, karena sedih banget?”
Rika terdiam seolah mengingat ”Ga pernah seingetku” kemudian kembali memotong-motong daging dipiringnya.
”Ga pernah?” Tanya James lagi ”kalau perasaan terpendammu teramat dalam dan tak bisa dibendung lagi, kau tetap ga menangis?” James terlihat mulai serius.
”Kan aku punya sahabat, jadi kenapa mesti kupendam hingga harus dengan ironisnya menangis sendirian karena terlalu sedih” jawab Rika seraya menyuapkan potongan steak nya kedalam mulut ”biarpun kehidupan sangat tak berpihak padaku, tapi it’s okey. Aku tak akan pernah mau menangis untuknya. Aku tak akan pernah mau mengalah dengannya, walau segala cara harus ku lakukan” tutupnya kemudian.
James mendengar jawaban Rika dengan mengangguk-angguk sambil mulai menyuapkan makanan kemulutnya. Terlihat jelas ia sedang berpikir.
”Memangnya kenapa?” Tanya Rika yang mulai sadar sebenarnya ada yang ingin James katakan.
”Siapa?” Tanya Rika yang kali ini penasaran.
”Oh, ada temenku” jawab James singkat. Ia tidak ingin Rika tau bahwa yang dimaksudnya adalah Helen.
”Oh, kamu punya temen ya?” jawab Rika seraya melanjutkan makannya.
Terlihat James terdiam berpikir ”Apa ada tipe orang yang memang suka memendam semuanya sendiri ya?” Tanyanya kemudian tak menghiraukan nejekan Rika. James masih penasaran.
”Mungkin?” Jawab Rika dengan ringan.
Terlihat James terdiam lagi, seolah mengandai-andai tentang perasaan atau penyebab Helen menangis kemarin.
__ADS_1
”Memang kenapa sih?” Tanya Rika membuyarkan lamunan James.
”Eh? Cuma kepikiran doang” jawab James sambil kembali makan.
”Oya, bentar lagi aku ada lomba” ucap Rika kemudian.
”Kapan?” Tanya James yang kini mulai lahap.
”Bulan depan” ucap Rika yang kini terlihat sudah tak menyisakan apapun di piringnya.
”Mau intensif kapan?” Tanya James lagi.
”Minggu depan mungkin” jawab Rika singkat seraya mengambil tisu.
”Siap mendampingi!” Ucap James menegakan badannya seraya menghormat pada Rika.
”Tapi kadang ada juga kalanya kita tetap harus memendamnya sendiri, karena tak mungkin untuk kita bagi dengan siapapun” ucap Rika tiba-tiba.
”Eh? Apa itu tadi?” James terlihat terkejut.
”Itu perasaan yang dipendam tadi” jelas Rika.
”Dan kau punya?” Tanya James balik.
”Aku? Ya ga ada lah” ucap Rika kemudian.
James hanya terdiam sambil mengeryitkan dahinya.
__ADS_1
~*~