
“Oh ya Jem, bagaimana kalau aku melihat kau manggung?” Sela Rika ditengah makannya.
“Sekarang?” Terlihat James sedikit enggan.
“Ya iyalah, masa tahun depan?”
“Tapi sekarang aku lagi ga pingin main” James mencoba menolaknya.
“Ah, memangnya kenapa?”
“Ya lagi ga mood main” jawab James kemudian seraya meneruskan acara makannya.
Rika mulai manyun, lalu tak lama kemudian tampak mata Rika mulai berbinar “eh, bagaimana kalau aku menggunakan satu permintaanku untuk memintamu main didepan?” Ucapnya kemudian dengan senyum yang mulai mengembang.
“Dari tiga permintaan tadi? Bener? Kau ga nyesel?” James meyakinkan Rika untuk memikirkan ulang keputusannya.
“Iya, itung-itung meringankan bebanmu dalam permintaan pertama, karena kau telah berbaik hati mengajakku makan ditempat ini. Bagaimana?” ujar Rika kemudian.
James terdiam menatap Rika dengan wajah sedikit curiga “bener nih? Permintaanmu pertama cuma ingin melihatku manggung disini?” Tanyanya memastikan lagi.
“Kau ingin aku berubah pikiran?”
“Baiklah kalau begitu, aku main” saut James seraya bersiap beranjak dari kursinya. “Your wish is my command” ucapnya seraya berjalan menuju kearah panggung mini itu.
__ADS_1
Sementara Rika hanya tersenyum dan bertepuk-tangan kecil saat mendapati James diatas panggung sedang menyiapkan saxophone-nya.
Tampak memang James sering bermain ditempat ini, karena semua orang yang ada disitu mengenal James dengan akrab. Dan setelah pembicaraan kecil James dengan anggota band yang lain, merekapun memulai memainkan sebuah lagu. Jazz. Cool Jazz. Dengan ritme pelan dan sendu.
Rika menikmati pertunjukan itu, ia memang selalu menikmati permainan saxophone James ditiap kali sahabatnya itu main.
Dan setelah James selesai dengan solo perform-nya disaat Jam season, terkejutlah ia sampai nyaris membanting saxophone-nya bila saja alat musik itu tak terkait dengan tali dilehernya. James mengusap matanya beberapa kali untuk memastikan pandangannya. Karena tampak walau dengan posisi mebelakanginya, sesosok Helen sedang duduk bersama seorng pemuda dimeja disisi sebelah kiri panggung, dan nampak bukan pemuda yang dilihatnya malam-malam saat ia mengantar Zabrina kemarin. Tak habis pikir James bisa bertemu Helen ditempat seperti ini.
Lalu seketika itu juga tekanan darah James mulai meningkat, adrinalen memaksa jantungnya memompa dengan terburu, keringat dingin mengucur dengan cepatnya. James tau bila ia menghentikan permainannya ditengah lagu malah akan mengundang perhatian Helen, maka dari itu ia hanya mampu berdoa supaya Helen tak menatap kearahnya hingga acara manggungnya selesai, karena bila tidak ia tak akan tau apa yang akan terjadi.
Dan tak butuh waktu lama bagi Rika untuk dapat menyadari ada hal yang salah yang terlihat dari raut wajah James. Segera Rika menatap mencari tau apa yang sebenarnya dihindari James, karena tampak sekali ia mencari posisi baru dengan wajah tegangnya.
Dan akhirnya Rika pun mendapati sosok Helen dimeja jauh diujung ruangan. Kemudian menatap kearah panggung, “makanya jadi orang jangan over confident, sekarang baru tau rasa” ucapnya kemudian dengan senyum walau sebenarnya ia juga merasa kasihan melihat James.
Mungkin ini adalah perform James yang tak bisa ia nikmati dalam seumur hidupnya, apalagi saat tiba-tiba tenggorokannya terasa tercekik dan nafasnya tak mau keluar. Jangan, jangan sampai ia membuat kesalahan dan menyebabkan pusat perhatian.
Namun memang ketakutan James beralasan, karena biarpun teman se-band-nya berusaha menutupi kekosongan nada yang dibuat oleh James tapi tetap sebagian orang menyadari akan keganjilan dari musik yang mereka dengar. Dengan segera dan sigap James membungkuk seolah sedang mencari sesuatu dilantai, saat beberapa mata menatap kearah panggung.
“Nice move” ucap Rika pelan sambil tetap mengamati apa yang akan terjadi pada James.
Tapi orang-orang tak terlalu ambil pusing dengan hal sepele ini, dan kembali sibuk dengan topik mereka masing-masing. Dan tampaknya begitu juga Helen. James segera ambil posisi dan sebisa mungkin kembali masuk dalam alunan lagu.
“Bravo!” Ucap Rika dengan tepuk tangan kecil menyambut begitu James kembali ke meja setelah lagu selesai dan ia berhasil menyelinap turun tanpa disadari oleh orang-orang.
__ADS_1
“Benar-benar sial! Kau tau Rik?” Ucap James begitu ia duduk dimeja.
“Si iblis itu kan?” Saut Rika sebelum James meneruskan ucapannya.
James terdiam kemudian menatap kearah kiri jauh ruangan, “sial! Dari sini jelas sekali terlihat” sautnya lagi setelah mendapati tak adanya penghalang untuk langsung menatap kearah meja Helen, karena posisi lantai meja mereka lebih tinggi dibanding lantai disisi kirinya.
“Bagaimana tadi yang ga mungkin Helen kemari, tempat ini kurang terlalu anak muda?” Saut Rika mencemooh.
“Siapa sangka? Terus gimana kalau sekarang kita pulang aja?” Ucap James kemudian dengan masih sibuk menyembunyikan diri dari Helen.
“Siapa sangka?” Saut Rika dengan mengulang pertanyaan James namun dengan nada meremehkan “tapi aku heran Jem, kenapa kau sebegitu paniknya sih?”
“Sudahlah Rik, ayo kita pergi dari sini. Kau sudah selesai dengan makannya kan?” Saut James tak menghiraukan pertanyaan Rika barusan, “ayo cepat!”
“Tak pernah kulihat kau menjadi sepengecut ini” saut Rika dengan ketus sembari mengikuti James bangkit dari tempat duduknya.
James dan Rika segera keluar dari ruangan itu dengan sewajar mungkin, mencoba mengurangi semaximal mungkin perhatian.
“Hampir saja” saut James begitu mereka telah masuk dalam lift.
“Aku makin tak habis pikir terhadapmu, Jem?” Rika mengeleng saat menatap James.
“Cukup! Aku tak ingin membicarakannya” saut James buru-buru.
__ADS_1
“Aku juga tak ingin” saut Rika balik seraya membuang muka.
~*~