Catatan Cinta

Catatan Cinta
_catatan dua_bagian keenam


__ADS_3

Kurang dari pukul tujuh, James meminta ijin untuk pulang lebih awal dari tempat kerja pada atasannya. Hari ini James sengaja menyisihkan waktu luangnya untuk makan malam sekeluarga, aturan tak tertulis yang dilakukan saat semua orang dalam rumah tak memiliki acara apapun.


Hari ini ayahnya pulang dari Brussel dan tepat saat adiknya pun tak ada acara malam ini. Pukul delapan mereka sudah duduk mengitari meja makan.


Ayah James orang yang terlihat selalu tampil rapi dan bergaya, itu juga kerena ia adalah seorang pengusaha yang mau tak mau harus memperhatikan penampilan, karena ia harus bertemu dengan banyak orang. Tampangnya terlihat tegas, dan walau terlihat seperti seorang yang gila kerja namun ia juga sangat menyayangi dan memperhatikan keluarganya.


“Oya Jem, liburan depan kau bisakan ikut ayah? Ada acara yang harusnya ku hadiri bersama mu, bagaimana?” Ayah James mulai pembicaraannya, saat mereka tengah santap malam “Kau ga ada rencanakan?“ Pertanyaan tambahan dilemparkan oleh ayah James karena wajah James yang langsung berubah.


“Acara apa lagi?” Tanya James yang mulai merasakan hal-hal yang kurang baik akan datang padanya.


“Acara perusahaan biasa. Pertemuan kolega seperti kemarin-kemarin, hanya saja aku ingin menghadirinya denganmu kali ini, kau mau?”


“Dimana? Kalau kutolak bagaimana?”


“Di Hotel kita yang dipulau resort dan sebenarnya ayah ingin mengenalkanmu ke beberapa kolega ayah saja, tapi bila kau tak bisa ya tak apa. Kau sudah punya rencana ya?”


“Sebenarnya belum sih, tapi...“ James enggan meneruskan perkataannya, ia tak mau menolak permintaan ayahnya namun juga tidak ingin pergi keacara perusahaan itu.


“Begini saja, kau pikirin dulu aja. Kau bisa mengajak teman bila kau mau, siapa? Rika juga boleh“ tawaran ayahnya disambut anggukan ragu dari James.


~*~


Hari begitu terik siang ini, tapi itu tak pernah mengendurkan semangat Rika untuk tetap berlari dilintasan. Kurang seminggu lagi sebelum perlombaan, jadi ia harus berlatih lebih rajin dan intensif.


James berdiri di akhir line dengan stop-watch mengukur kecepatan Rika dalam waktu.


“Dua menit empat puluh detik. Tiga belas detik lebih cepat” ucap James begitu Rika melewatinya.


Rika mengangkat tangannya keatas “Yeah!” Teriaknya seraya berlari balik menuju James.


“Ku yakin kau pasti memenangkan perlombaan ini” ucap James kemudian.


“Yah, kurasa. Tak banyak lawan berat pada perlombaan kali ini” jawab Rika santai seraya menuju kepinggir beristirahat.


“Oya Rik, libur minggu depan kau mau kemana?” Tanya James seraya menyusul Rika.


“Ga kemana-mana, tanggung cuma libur empat hari” saut Rika menjawab.


“Tapi ga seru kalo ga kemana-mana juga”


“Emang mau ngajakin pergi?”


“Gimana kalau berlibur kepulau resort?”


“Eh? Pergi berpiknik? Tumben? Belum liburan musim panas sekarang” Rika terlihat terkejut kemudian menyipitkan mata curiga. Tak biasanya James mengajaknya berlibur disaat seperti ini. Biasanya mereka sering berlibur bersama saat musim libur kuliah.


“Kenapa? Ga boleh ya?”

__ADS_1


“Boleh aja, cuma mencurigakan” saut Rika yang kemudian meneguk habis sisa dari botol minumnya.


“Nah, jadi kau ikut kan?” saut James girang.


“Siapa yang mutusin ikut? Aku cuma bilang kau boleh saja kok berlibur ditempat seperti itu disaat seperti itu” Rika menjelaskan maksudnya.


“Yah, ayolah Rik. Kau ikut saja” James mulai merengek.


“Pasti kau dipaksa ayahmu lagi ya?” Duga Rika yang disaut anggukan oleh James “Menghadiri acara perusahaan ya?” duganya lagi.


“Kau boleh minta apapun asal kau mau menemaniku kali ini”


“Aku saja masih punya dua permintaan yang belum ku gunakan. Dan lagi terakhir menuruti kemauanmu, aku harus memakai sepatu yang menyiksa dengan baju yang membuatku masuk angin”


“Kali ini, aja” James mengeluarkan jurus rengekan mautnya.


“Cukup. Aku tak akan termakan rayuanmu lagi, maaf ya” saut Rika seraya beranjak pergi meninggalkan James.


“Rika!”


-


“Liburan Minggu depan kau mau kemana?” Tanya James pada Iton saat mereka dibelakang beristirahat karena sedang tak banyak tamu.


“Sial! Aku kebagian shift dua hari dari empat hari libur. Benar-benar menyedihkan” saut Iton sedikit uring-uringan mengingat ia tak berlibur “Kalau kau, mau kemana Jan?” Iton balik bertanya.


“Acara kantor? Keterlaluan banget tuh ayahmu. Kau disuruh ikut acara bapak-bapak?”


“Aku harus bagaimana?” Terlihat James menggeleng pelan dengan dramatis seolah penuh penderitaan “Eh Zab, liburan minggu depan kamu mau kemana?” Tanya James tiba-tiba saat melihat Zabrina mendekat.


“Aku ada acara dengan keluargaku” jawab Zabrina singkat dan padat.


“Yah, semua sudah punya acara masing-masing”


“Memang kenapa?” Zabrina ganti bertanya.


“Tidak, cuma bete aja ga da yang bisa diajaki liburan” jawab James asal.


Zabrina terdiam, entah apa yang dipikirkan kemudian berucap lagi “oya, didepan ada Helen loh” yang langsung direspon James dengan tatapan berseri-seri dan langsung beranjak kedepan.


Zabrina hanya terdiam menatap tingkah laku James, melihatnya hingga sosok James lenyap dibalik pintu keluar.


“Dia benar-benar sudah tergila-gila pada Helen, kasihan temanku James sebentar lagi ia akan masuk rumah sakit jiwa setelah sadar putri impiannya terlalu jauh untuk diraihnya” saut Iton asal menanggapi expresi Zabrina yang tak dapat ditangkap artinya, seraya mengikuti James kedepan.


Sedang James penuh semangat menatap gadis pujaannya itu dari balik meja pesan. Nampak Helen dengan dua teman seperti biasanya. Entah kenapa semua persoalan tiba-tiba saja lenyap saat ia menatap Helen.


Bahkan ia sudah melupakan prasangka-prasangka tentang Helen yang suka gonta-ganti cowok. Tak ada juga rasa kawatir kalau-kalau Helen mempergoki dia dan Rika direstouran mewah beberapa hari lalu.

__ADS_1


“Sudah, jangan berharap banyak. Sana antar pesanan” ucap Iton tiba-tiba muncul disamping James seraya menyerahkan nampan kecil berisi segelas Latte.


“Mimpi harus tinggi” saut James balik dengan senyum seraya mengambil nampan dan mengantarnya.


James sengaja sedikit memutar melewati meja Helen dan kawan-kawannya yang sedang berbincang. Dan tanpa sengaja ia mendengar teman Helen, Lia yang beranting lima berucap “Jadikan minggu depan kita kepantai?”


“Jelas dong, Ada Dj idola gue di Rave nanti” saut Indie teman Helen yang lainnya.


“Iya, lagi pula gue sudah ngomong ke papi buat bookingin tiketnya” saut Helen.


“Lama kita ga Rave dipantai ya?” Lia berucap lagi.


“Kagen juga ya, kapan terakir kita berlibur di pulau resort sih? Lulus SMA bukan?” ucap terakhir dari Lia yang dapat didengar James sebelum suara pengunjung lain masuk dalam jangkauan telinganya dan mengaburkan sisa percakapan Helen dan teman-temannya.


Tapi dari semua hal itu hanya satu yang menarik perhatian James dan membuatnya menjadi sangat bergairah, itu adalah: Helen dan teman-temannya akan ke pantai dipulau dimana ayahnya meminta ia ikut untuk acara perusahaan minggu depan. Suatu kebetulan yang luar biasa.


Tanpa pikir-pikir lagi James segera menghubungi ayahnya dan menyanggupi untuk menghadiri acara perusahaan ayahnya.


“Jadi ikut acara ayahmu?” Tanya Rika saat mereka ada dalam perjalanan pulang.


“Jadi” jawab James singkat dan terdengar tak wajar bagi Rika.


“Bener?”


“Kenapa memangnya?”


“Motifasi apa yang bisa merubahmu seperti ini? Dan dari tadi senyum-senyum lagi”


“Aku selalu tak bisa menyembunyikan sesuatu darimu” ucap James kemudian dengan wajah yang berseri-seri.


“Iya-iya ayo cepet katakan, ada apa?”


“Tadi denger-denger dari temennya, kalo Helen mau pergi kepantai di pulau resort yang sama dengan tujuanku” cerita James menggebu-gebu “Bagaimana menurutmu, jodoh tidak?”


“Ternyata karena si iblis betina itu, kenapa aku ga kaget ya?” jawaban ketus keluar dari tanggapan Rika akan cerita James “jadi sekarang sudah berani menghadapinya saat mungkin kalian bertemu ditempat-tempat high class yang kaya kemarin?” Tambahnya dengan ledekan.


“Iya-iya udah jangan diungkit-ungkit lagi” saut James tak ingin memulai beradu argumen dengan Rika tentang Helen.


“Berarti kau sudah tak perlu aku kan?” Saut Rika kemudian dengan sewot.


“Eh, bukan. Kau tetep diharapkan bila kau mau ikut” jawab James buru-buru.


“Sudahlah, lupakan saja”


“Rika”


~*~

__ADS_1


__ADS_2