
Pagi hari yang cerah, sinar surya telah merekah diufuk timur bersama membawa harapan baru, mimpi baru, dan hidup baru.
" Ayah, aku butuh berangkat lebih awal. " Pinta Ceafi pada Ayah José saat berjalan ke meja makan.
" Ada apa ? Apa ada rapat mendadak pagi ini? " Tanya Ayah José.
" Tidak! Tidak! Aku ada sedikit pembicaraan penting dengan Lily. So, can we go now? " Ceafi meminta segera pergi setelah minum susu.
" Breakfast ? " Tanya Ayah José singkat.
" Dijalan saja, aku sudah minta Bi Minah menyiapkan, sarapanku mana Bi? "Ujar Ceafi dan lalu memanggil Bi Minah.
" Ini Non, sekalian punya Tuan. " Bi Minah memberikan dua kotak makanan.
" Hmn, baiklah kita berangkat. Kau sudah merusak ritual pagiku Nona Kecil. " Ayah José bangkit dari kursi meja makan dan segera memasuki mobil.
" Itu sebagai balasan Ayah sudah merusak senjaku. " Gumam Ceafi, ia membenarkan tasnya dan segera masuk mobil.
Sesampainya dikantor, Ceafi langsung menemui Lily. Mereka membahas proposal yang akan segera diajukan ke kantor pusat. Ceafi meminta sedikit revisi dari proposal yang telah Lily susun.
" Li, aku sudah beri note untuk perlu kau revisi lagi. Maaf semalam aku sudah tidur saat kau memanggil. " Ucap Ceafi yang meminta Lily untuk merevisi proposal.
" Baik Non! Akan segera kukerjakan sekarang. " Lily mengangguk dan tersenyum pada Ceafi.
" Good! Nanti langsung bawa ke Ayah untuk tanda tangan, Prof. Jhon dan aku. " Ujar Ceafi sedikit tegas namun, Lily menatap sedikit bingung. Lily hanya mengangguk dan segera bersiap untuk apel pagi.
" Tok! Tok! " Suara ketukan pintu terdengar didepan ruang kerja Prof. Jhon, ternyata Lily yang mengetuk.
" Ya, maasuk ! " Ucap Prof. Jhon dari dalam.
" Permisi Prof, saya ingin meminta tanda tangan anda untuk proposal pengajuan. " Lily berjalan pelan dengan mendekap dokumen proposal untuk diserahkan ke Prof. Jhon.
" Oh, ya bawa kemari. Segera ajukan agar penelitian bisa segera berjalan ya Li, " Ucap Prof. Jhon sembari membubuhkan tanda tangan di lembar proposal.
" Baik Prof, kalau begitu saya permisi. " Lily mengangguk hormat lalu keluar.
Diruang kerja Ayah José dan Ceafi, Lily masuk dan menyerahkan dokumen proposal pada Ayah José.
__ADS_1
" Apa ini Nona Lily? " Tanya Ayah José saat membuka dokumen proposal itu.
" Proposal penelitiannya Tuan, " Jawab Lily sedikit gugup.
" Hmn, hey Nona Kecil! Dokumenmu tersesat disini! " Kata Ayah José seketika membuat Ceafi kaget, begitupun wajah Lily yang langsung terlihat bingung.
Ceafi mendekat, " Ku kira hanya makhluk hidup yang bisa tersesat, sudah kau revisi semua Li? "
" Sudah! Prof. Jhon juga sudah ku mintai ttd. " Ucap Lily masih dengan raut kebingungan.
" Eh, ttd ? Bukankah harus ada tanda tangan Ayah dulu? " Ceafi menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ayah José menatap keduanya ikut bingung juga.
" Seperti yang anda katakan bukan? " Tanya Lily.
" Something wrong? " Ayah José ikut bertanya.
" Kenapa Ceafi jadi bingung? Apa yang salah? " Ceafi balik bertanya.
" Memangnya kau perintah apa sama Lily, Nona Kecil? " Ayah José mencoba memecah kebingungan yang terjadi.
" Aku minta Lily untuk revisi dan membawanya ke Ayah untuk tanda tangan Prof. Jhon dan aku. " Jelas Ceafi.
" Maksudnya? " Ceafi memicingnkan matanya.
" Haruse kau bilang begini, Lily kau revisi dulu lalu berikan padaku setelah benar tanda tangan ke Ayah kemudian Profesor Jhon. Begitu dong Sayang, " Ayah José menjelaskan dan menggerakkan tangannya untuk lebih memperjelas.
Ceafi menepuk jidat, " Ohh, astaga! Kenapa bahasaku seburuk itu. Maafkan aku Lily, sungguh aku tak bermaksud membingungkanmu. " Ceafi memohon maaf pada Lily, ia memegang lengan:Lily meminta maaf.
" Ya ampun Nona, saya tak merasa begitu. Saya minta maaf karena salah paham. " Lily mengelus pundak Ceafi.
" Sepertinya kalian butuh asupan dulu, ayo kita break dulu! Ayah belikan kopi ya, " Ayah José merangkul keduanya mengajak ke kantin untuk break.
Pagi yang cukup membingungkan. Baru juga memulai hari sudah oleng nih profesor mudanya.
Dan pekerjaan harus segera diselesaikan agar proses penelitian bisa dijalankan sesuai jadwal yang direncanakan. Setelah dapat ACC Prof. Jhon, Lily dan Ceafi menuju kantor pusat penelitian untuk pengajuan. Tak menunggu waktu lama, proposal tersebut mendapat persetujuan. Melihat jejak profil dua ilmuwan hebat yang tak perlu diragukan lagi. Menteri yang menjabat bidang penelitian ini langsung menyetujuinya.
" Baik, proposal sudah disetujui. Silahkan jalankan penelitian anda dan kami sangat berharap para tim berhasil memberikan yang terbaik. Selamat bertugas profesor muda, Nona Ceafi. Betul kan!? " Ucap salah seorang staff yang mewakili Pak Menteri.
__ADS_1
" Baik Pak! Kami para tim akan memaksimalkan semua prosedur dan semoga hasilnya baik. " Ceafi menanggapi dengan pelan berkata, ucapannya masih takut-takut, khawatir salah bahasa lagi.
" Mohon setiap minggu melakukan laporan ya, itu sebagai upaya pemantauan dari pihak kami. " Imbuh staff itu.
" Oh iya,baik Pak! Karena sudah cukup, kami pamit undur diri ya, Pak! Terima kasih! " Lily segera menyelesaikan urusan karena waktu sudah sore.
Setelah bersalaman mereka segera pergi dan kembali ke kantor. Diperjalanan Ceafi bercerita tentang pengalaman penelitiannya saat di Eropa pada Lily. Mereka semakin akrab, ada kecocokan antar keduanya.
" Kita punya banyak kesamaan ya, oh iya aku minta kau panggil aku Ceafi saja. Mulai sekarang panggil aku Ceafi, anggap aku seperti teman dekat Li. Aku berharap memang begitu diantara kita. Bukankah kita akan menjadi partner selama aku disini? " Pinta Ceafi pada Lily, panjang lebar ucapannya semoga Lily tidak bingung lagi ya. Hehehe!
" Iya Non, eh maksudnya Ceafi. Maaf aku belum terbiasa. Apa kau ingin makan? Dekat sini ada kuliner enak. " Lily menawari Ceafi untuk berhenti makan.
" Kurasa lain waktu. Ayah sudah menungguku takut ia khawatir jika kita datang lama. Nanti saat kita punya banyak waktu luang ya, " Ceafi menolak dengan halusnya.
" Okey, tak masalah Nona, ah maksudku Ceafi, "
Keduanya tertawa dan terlihat Pak Sopir yang sedang mengemudi juga ikut tertawa.
Harinya sedikit panjang. Pagi hingga sore begitu menguras tenaga. Tapi lelah itu tak begitu berarti, karena hal yang membuat lelah terbayar telah dibawanya hari itu juga.
Dengan gembira Ceafi bercerita pada Ayah José atas persetujuan proposal dari kantor pusat. Mendengar hal itu Ayah José tak kalah senangnya. Tak habis habis ia memuji sang putri kesayangan.
***
Dan Senja
Waktu dimana sebuah keputusan ditetapkan
Tak sabar Ceafi menemui senja dirumah. Bait puisi yang setia menunggunya diatas meja diteras tempat favoritnya membaca dan bertemu senja. Namun sayang sangat disayangkan, sore ini langit terlihat abu, tak banyak cahaya matahari yang menggurat timbul jingga sebagai tanda senja.
" Senja menyapamu dalam abu abu, Sayang. Jangan khawatir ia ingin memberitahumu bahwa senja punya banyak warna untuk ditampakkan. " Ucap Ayah José menghibur Ceafi yang cemberut pada senja.
" Aku tak marah, thankyou Ayah. Aku ingin istirahat awal nanti, makan dulu yuk! " Ceafi memeluk lengan Ayahnya.
" Ayo, Ayah juga lapar menghadapi polahmu pada Lily tadi sungguh menguras pikiran dan energi. Nanti Ayah boleh temani Ceafi tidur ya, sebentar saja kok. Ayah rindu ingin memeluk Ceafi. " Wajah Ceafi memerah,
" Ouh, mon cher père. " Ceafi menggelayut manja
__ADS_1
Mesranya ayah dan anak ini.