
Tak terasa sebulan berlalu Ceafi dan para tim peneliti melakukan penelitian di Sumatera khususnya Sumatera Selatan. Karena Pulau Sumatera cukup besar jadi dibuatlah beberapa tim untuk disebar dibeberapa wilayah provinsi. Hal ini dilakukan untuk mempercepat waktu karena masih harus menjelajahi hutan di Kalimantan setelah itu.
Namun sepertinya Ceafi telah terhipnotis dengan alam Sumatera. Setiap minggu Ceafi pergi mencari tempat-tempat wisata yang mana tujuannya adalah bersama senja. Ceafi pergi bersama Ayah José namun terkadang ia pergi sendirian.
" Cea' ayo pulang Sayang. Hari sudah hampir gelap. " Panggil Ayah José mengajak Ceafi pulang.
" Baiklah, Ayah bisa tunggu di mobil aku pergi ke toilet sebentar. " Ceafi merapikan buku cerita sorenya dan berjalan pergi, sedang Ayah José memasuki mobil.
Dalam perjalanan pulang menuju rumah dinas Ayah José berpesan pada Ceafi jika tugas penelitiannya harus diutamakan.
" Cea' ? Ayah rasa kau perlu mengurangi jadwal travelingmu. Tugas penelitian harus jadi yang pertama bukan? " Ayah José tak menatap Ceafi hanya fokus mengemudi.
" Ehm, Ceafi tahu Ayah dan Ceafi tidak akan lupa dengan tanggungjawab Ceafi. Tapi impian Ceafi menjelajah bumi tetap akan aku wujudkan. " Ujar Ceafi dengan nada lemah lembutnya.
" Tapi Ayah lihat kau sedikit mengabaikan pekerjaan. Ayah hanya mengingatkan bukan ingin melarang Ceafi pergi berpetualang. " Ayah José mengelus lengan Ceafi.
" Ceafi mengerti Ayah, maaf jika Ceafi terlalu senang jika pergi. Besok akan segera aku selesaikan laporan bulan ini. " Ceafi tersenyum simpul pada Ayahnya.
" Kembali pada tugasmu. Sayang. " Ayah José menggenggam tangan Ceafi tanda ia mempercayai putrinya.
Udara malam tak begitu dingin hari ini. Beberapa staf peneliti tampak sedang berdiskusi diruang tamu. Mereka membicarakan untuk rencana pindah ke Medan karena ada kendala tim disana.
__ADS_1
" Bagaimana jika Nona Ceafi dan Lily yang kita berangkatkan menuju Medan. Sedangkan saya dan José akan menuju Bengkulu. Nanti kita semua berkumpul di Aceh untuk menutup perjalanan Sumatera. " Prof. Jhon menjelaskan renacana pembagian tim.
" Medan dan Bengkulu apa tidak terlalu jauh Jhon? " Tanya Ayah José, sepertinya beliau tak ingin terpisah dengan Ceafi.
" Aku tahu kau khawatir Nona Ceafi. Cobalah membebaskannya sebentar José biarkan putrimu menemukan dirinya di Sumatera. " Jawab Prof. Jhon meyakinkan Ayah José.
" Tapi aku minta beberapa pendamping lagi untuk menemaninya ya, " Ujar Ayah José.
" Baiklah Tuan! Putrimu akan aman bersama anak buahku! " Gurau Prof. Jhon dan dibalas tertawa oleh semua orang.
***
" Terserah kau author cerewet! " Kira-kira begitu gumam Ceafi ke author ya, hehehe becandalah!
Ceafi dan Lily sedang menikmati kuliner di suatu foodbar saat sore. Tiba-tiba dari belakang Ayah José menarik tangan Ceafi.
" Mau sampai kapan kau bersantai tak jelas ha?! " Ucapan Ayah José dengan tatapan marah.
" A..Ayah! Ayah kapan datang?! Kenapa tak menelpon Ceafi jika ingin kemari Yah? " Ceafi terkejut dan jelas wajahnya takut melihat Ayahnya menatap tajam.
" Ayo pulang sekarang, dan kau juga Nona Lily! " Ayah José menarik Ceafi menuju mobil dan Lily berjalan dibelakangnya.
__ADS_1
Akan ada sidang perkara sepertinya. Dalam perjalanan semua hanya diam, Ceafi tersadar jika ia lupa membuat laporan selama seminggu ini. Semenjak dipisah tugas dengan Ayah José, Ceafi lebih banyak jalan-jalan dan sering mengabaikan tugas.
" Ayah sudah berkali-kali mengingatkan Ceafi! Tapi apa ini Cea' ? Satu minggu tak ada progres apapun, ada apa dengan putriku ini ha?! " Ayah José benar-benar marah pada Ceafi. Tapi sebenarnya ia tak tega membentak Ceafi.
" Ceafi minta maaf Ayah, Ceafi sangat minta maaf. " Ucap Ceafi pelan dan terus menunduk tak berani melihat ke arah Ayahnya. Begitupun Lily yang hanya diam tak bergeming.
" Dengar Prof. Jhon memberimu surat peringatan, dan itu sangat buruk bagi Ayah. Memalukan sekali kau Cea', selama seminggu kedepan kau tak boleh keluar rumah. Ayah akan disini bersamamu, dan ingat Sayang jadikan ini yang terakhir! " Ayah José meletakkan amplop surat di meja depan Ceafi dengan sedikit menggebrak kemudian pergi.
Ceafi hanya menunduk menahan air matanya. Sedangkan Lily pamit menuju kamarnya. Begitu menyesal karena telah lalai pada tugasnya. Ceafi berjalan menuju kamarnya sedikit terhuyung karena tiba-tiba kepalanya nyeri. Namun ia mengabaikannya dan terus berjalan menuju kamar.
" Cklekk! " Suara pintu dibuka, setelah lama diluar Ayah José datang ke kamar Ceafi. Terlihat Ceafi sudah tertidur dimeja kerjanya. Rupanya Ceafi mengerjakan laporan hingga ketiduran.
" Je suis désole Papa, Chérie. " Ayah José mengusap wajah Ceafi yang tampak bilur air mata dan mengucapkan maaf. Rupanya Ceafi menangis setelah dimarahi.
Digendongnya badan Ceafi ke ranjang dengan pelan, Ayah José segera pergi tapi tangan Ceafi menahannya.
" Maafkan aku Ayah.." Suara Ceafi lirih karena setengah sadar dengan tidurnya.
" Ayah juga minta maaf ya, dont cry again oke? Je t'aime, tidurlah sudah larut ini. Ayah keluar dulu! " Ayah José mengecup kening Ceafi dan dibalas senyum tipisnya.
Tidurlah Cea' kembali pada tugasmu besok.
__ADS_1