
Fajar pagi telah terbit, sebentar lagi disusul sang mentari bersinar menyambut hari. Hari kerja tetap harus dijalani dengan semangat baru, meski begitu banyak deadline menanti. Ritual pagi sudah selesai, Ceafi dan Ayah José siap berangkat ke kantor.
Hari ini Ceafi disibukkan dengan setumpuk data laporan penelitian. Setelah petualangannya mendaki gunung, ia harus kembali ke tugas negaranya. Ada jadwal yang ia tunggu-tunggu kali ini, yaitu jadwal keliling Pulau Jawa untuk keperluan tambahan dalam penelitiannya.
Ayah José datang ke meja kerja Ceafi dan bertanya,
" Ceafi sudah selesaikah laporan minggu kemarin? " Ayah José memegang bahu Ceafi.
" Sudah Yah, tunggu Ceafi cetak ya, oh iya hari ini tidak ada diskusi kan? Aku ingin pulang lebih awal Ayah. " Jelas Ceafi dan meminta untuk pulang awal ke Ayah José.
" Pasti masih lelah ya? " Tebak Ayah Josè dan itu sangat tepat.
" Hmn, aku perlu tambahan istirahat boleh ya? " Senyum manja Ceafi pada Ayahnya.
" Baiklah Sayangku, nanti biar Bi Minah panggil tukang pijit ya, " Ayah José kembali ke meja kerjanya.
" Oke! " Ceafi mengiyakan ucapan Ayahnya meski sebenarnya ia tak tau apa maksud tukang pijit.
***
" Haaaaaahh!!! " Suara teriakan yang sangat memekakan telinga.
Begitu suasana sore dirumah Tuan Joshington. Ceafi berteriak kesakitan saat dipijat oleh tukang pijat yang dipanggilkan Bi Minah. Ayah José tertawa terbahak meski hatinya sedikit khawatir.
" Aaaahhh! Lepaskan aku!! " Teriak Ceafi dari dalam kamarnya.
" Ya Allaah, sudah besar malu dong. " Ejek Ayah José yang padahal jika ia dipijat juga pasti teriak.
" Udah Ndhuk sakitnya cuma sebentar kok, besok bangun pasti enakan. " Begitu ucap tukang pijatnya yang bernama Mbok Siem.
" Alhamdulillah dah selesai ya Mbok, udah Non sekarang istirahat Bibi ambilin makan terus bobok oke, " Senyum Bi Minah didepan Ceafi yang sudah tak berdaya.
" There you are, feels better now? " Ayah José datang membawa minum untuk Ceafi.
" She is killing me! Tulangku seperti remuk Ayah... " Rengek Ceafi pada Ayahnya dan minta dibantu untuk minum.
" Ini makannya Non, Bibi suapin atau makan sendiri? " Bi Minah datang membawa nampan berisi makan malam.
" Biar saya suapin Bi, katanya tulangnya remuk gitu, " Ucap Ayah Josè dan tertawa sedangkan Ceafi hanya bisa cemberut.
Setelah selesai makan akhirnya Ceafi tertidur, Ayah José membenarkan posisi tidur Ceafi dan pergi keluar.
***
" Haii bonjour Ayah!! " Sapa Ceafi kepada Ayah José pagi ini.
" Hai My Girl! Rupanya badanmu sudah segar sekarang ha? " Ayah José memeluk Ceafi yang duduk disampingnya.
" Entah apa yang terjadi semalam aku tidur sangat pulas dan bangun seperti mendapatkan tubuh baru. " Jelas Ceafi sambil meraih gelas susunya.
" Berarti kalo besok capek panggil Simbok aja ya? " Balas Ayah José.
__ADS_1
" Ayaah jangan, tubuhku benar-benar terasa hancur karenanya. " Ceafi menepuk dada Ayahnya.
" Hahaha bolehlah jika kadang Nona Kecil ini nakal. Okay here your breakfast, Baby, " Ayah José menyodorkan piring berisi sandwhich kesukaan Ceafi.
Its time for work, keduanya sudah berada dikantor dan tengah membahas jadwal penelusuran hutan tambahan yang mana akan dimulai minggu depan. Prof. Jhon, Ayah José, dan Ceafi akan turut serta dalam penelusuran ini.
" Baiklah saya rasa rapat untuk jadwal keliling Pulau Jawa cukup, dan untuk Nona Ceafi tolong persiapkan SOP dan data basisnya ya. " Perintah Prof. Jhon pada Ceafi.
" Baik Prof! " Ceafi tersenyum dan mengangguk.
Semua staff dalam rapat telah kembali ke ruang kerja masing-masing. Kemudian Ceafi dan Lily tampak sedang berdiskusi bersama dan bekerja satu meja hingga sore.
***
" Semua sudah siap?! " Tanya Prof. Jhon ketika tim dalam persiapan untuk perjalanan keliling Pulau Jawa.
" Siap Prof! " Jawab semuanya serentak.
Setelah doa bersama, Ceafi dan rombongan berangkat dengan rute tujuan yang sudah disusun sebelumnya. Tak ada kehebohan dan canda tawa dirumah selama seminggu kedepan. Bi Minah pasti merasa kesepian.
Perjalanan panjang untuk ketiga kalinya bagi Ceafi, hal apalagi yang akan ditemukannya? Mata birunya tak luput memandangi pesona hutan yang ia lalui bersama tim. Perjalanan menghabiskan 3 hari di Jawa Timur.
" Hei Nona Kecil! Jangan kau jauh-jauh nanti kau diculik hantu. " Teriak Ayah José saat melihat Ceafi berjalan masuk area pepohonan yang sedikit rimbun dan gelap.
" Mana kuat hantu menggendongku Ayah, aku ingin melihat sesuatu disana. " Ceafi terus berjalan menuju suatu pohon.
Ternyata ia melihat harta karun. Bukan harta yang berada didalam kotak peti dan menggunakan mantra untuk membukanya. Tapi sebuah pohon anggrek yang tumbuh melekat dipohon beringin besar.
" Itu anggrek kantong semar, atau bernama ilmiah Paphiopedillum glaucophyllum. Anggrek endemik di wilayah Jawa Timur dan termasuknya langka. " Jelas Prof. Jhon menghampiri Ceafi yang begitu serius melihat detail bunga itu.
Selesai sudah perjalanan Jawa Timur, Ceafi dan tim diajak berkunjung ke rumah saudaranya Prof. Jhon di daerah pegunungan. Tak jauh berbeda dengan suasana di Magelang namun hawanya lebih hangat disini. Mereka menginap semalam dan Ceafi mendapat hadiah istimewa.
" Monggo tehnya Cah Ayu, " Ucap seorang wanita paruh baya pada Ceafi. Beliau adalah Bibinya Prof. Jhon bernama Mbok Jati.
" Ah iya Bibi, terima kasih banyak, " Ceafi menerima teh yang diberikan Mbok Jati.
"Jangan panggil Bibi, Mbok aja yo. Nah Mbok punya sesuatu buat kamu Ndhuk Cah Ayu, ambil ini! Ini adalah lukisan dari suami Mbok, saya kasih ke kamu karena Mbok tahu, kamu adalah penjelajah. Mbok yakin suatu hari kamu akan jadi penjelajah sejati. " Mbok Jati memberikan kain yang terdapat suatu lukisan peta. Ceafi terharu dan sangat kagum pada Mbok Jati.
" Suatu kehormatan bagi saya Mbok, its beautifull. Bukankah ini peta Jawa? " Ceafi membentang kain itu.
" Betul sekali, itu dulu pernah digunakan untuk perjalanan suaminya Mbok. Simpan baik-baik yo Cah Ayu, " Ujar Mbok Jati.
Mereka berbincang hingga senja menghilang berganti langit malam yang diselimuti awan.
***
Semburan cahaya silau menerangi pagi bersama langit biru nan jernihnya. Perjalanan panjang berlanjut, rombongan tengah menuju Jawa Barat dan akan mengakhiri perjalanan di Banten. Ada suatu kejutan dari Prof. Jhon untuk Ceafi. Kita lihat diakhir episod ya!?
Jam dua siang tim rombongan berhenti sejenak untuk istirahat di rest area. Ayah José mengajak Ceafi bermain egrang. Egrang adalah salah satu mainan tradisional yang terbuat dari bambu.
" Come on! You can do this! " Ucap Ayah José saat Ceafi mencoba untuk menaiki egrang.
__ADS_1
" Ayah ini terlalu tinggi, aku takut jatuh! " Ceafi tampak gugup.
" Ayah bantu pegang, ayo coba langkah satu, " Ayah José berdiri didepan Ceafi memegangi tongkat egrangnya.
" Hey José! Awas jika Nona Kecilku jatuh, ku lempar kepalamu dengan kelapa ha?! " Prof. Jhon memperingati Ayah José.
" Tenang kau Jhon, aku pernah mengalahkanmu dalam duel dulu, " Ayah José tampak nyengir ke Prof. Jhon.
Semua tertawa, dan Prof. Jhon juga ikut bermain. Sejenak melepas lelah dan pusingnya tugas negara sebelum lanjut lagi perjalanan.
Dua hari untuk jadwal wilayah Jawa Barat, dan Ceafi sempat mampir ke sebuah taman anggrek. All about orchid, banyak sekali spesies anggrek disana. Ceafi mendapatkan hadiah tanaman anggrek yang sangat spesial.
" Dia adalah teman saya Non, Pak Amin adalah bapaknya bunga anggrek hahaha! " Jelas Prof.Jhon mengenalkan temannya yang bekerja di taman itu.
" Wah, bapak anggrek dan suatu saat aku bisa jadi ibunya dong. " Ceafi ikut bergurau.
" Hahaha, dan ini untuk Nona! Bunganya sangat bagus dan tanaman ini berbunga saat musim panas, dan Nona tahu jika terkena matahari dia akan memantulkan cahaya. Saya beri nama Sun Glory. " Jelas Pak Amin pada Ceafi.
" Waw, aku sangat beruntung Pak. Terima kasih banyak untuk bunga anggrek ini. Aku janji akan menjaganya. " Ceafi menunduk berterima kasih.
Setelah usai urusan peranggrekan, tim berlanjut menuju provinsi terakhir yaitu Banten. Cukup perjalanan beberapa jam saja mereka sudah sampai. Karena waktu masih dini hari, Ceafi dan tim memutuskan untuk istirahat di hotel.
***
Udara pagi yang sejuk dan hawa dingin yang membelai halus dikaki. Paling pas sarapan dengan yang berkuah dan kopi. Will be a perfect morning vibe.
Tak perlu menunggu siang, setelah semua sarapan Ceafi dan tim berangkat penelusuran. Hari ini tim dibagi dua, tujuannya untuk mempersingkat waktu. Prof. Jhon memerintah salah satu rombongan Ceafi untuk tak bercerita dimana tempat bertemu nanti sore.
And jreng.. jreng..! Ceafi mendapat surprise lagi. Sunset at the beach! Prof. Jhon dan Ayah José sudah menunggunya di pantai.
" Oh waw! Ini keren sekali! Beach and sunset? Come on! " Ceafi sangat ceria dan berlari menghampiri Ayahnya dan Prof. Jhon yang sedang menyiapkan makan.
" You good!? " Tanya Prof. Jhon.
" Im great! Ayah aku ingin kesana lihat sunset lebih dekat, " Ceafi menarik lengan Ayah José.
" Baiklah, ayo bersama saya saja Non, saya sudah siapkan tempat terbaik. Hey Jos! Jangan cemburu jika aku bermesraan dengan Nona Kecilmu, ini waktuku bersama Nona Ceafi. " Prof. Jhon merangkul Ceafi dan pergi meninggalkan Ayah José yang menatapnya tajam.
" Bye Ayah! " Ceafi melambai pada Ayah José dan dibalas kepalan tangan. Bisa jengkel juga dengan teman sendiri yang dari dulu sudah seperti adik kakak.
Karang, ombak, dan senja sudah seperti gerbang menuju surga. Prof. Jhon membawa Ceafi ke karang yang menjulang di lepas pantai. Mereka menikmati senja berdua di Pantai Tanjung Layar. Ceafi tampak membentangkan kain bergambar peta Pulau Jawa pemberian Mbok Jati.
" Dan akhirnya aku menggenggam Pulau Jawa, hai Prof, apa gambar dibalik peta ini? Terlihat seperti suatu bentuk sosok yang.. " Belum selesai Ceafi bertanya Prof. Jhon menjawabnya.
" Itu adalah Arjuna, tokoh dalam wayang. Arjuna disini sebagai lambang pengembara. Dia tahu seluk beluk dunia. Simpan petanya baik-baik ya Cah Ayu. " Prof. Jhon tersenyum lebar ke Ceafi.
Senja menjadi penutup perjalanan Ceafi seminggu menggenggam Pulau Jawa. Sapaan indah sang senja mengingatkan Ceafi pada satu kalimat akhirnya,
Kemanapun dan sejauh apapun aku pergi hanya karena satu alasan, adalah untuk kembali pulang.
" Its time for go home Ceafi! "
__ADS_1