
" Jadi setelah saya dan Tuan José menganalisis semua data sebagai bahan penentuan hipotesis penelitian terhadap hutan di Indonesia, kami simpulkan bahwa penelitian ini akan mengambil hipotesis Bagaimana Pengaruh Geografis Wilayah Terhadap Ragam Hutan Termasuk Flora-Fauna dan Pola Hidup Manusia Disekitarnya ? Mungkin dari rekan-rekan ada yang perlu ditimbang lagi? " Tutur Ceafi panjang lebar menjelaskan dalam presentasi rapat rencana penelitian. Begitu jelas dan padat kata-kata yang ia sampaikan.
" Hmn, bagaimana dengan pengaruh iklim? " Tanya salah satu tim peneliti dengan mengacungkan jari telunjuknya.
" Dalam hal ini diperlukan cakupan wilayan yang luas, minimal satu region, karena iklim pengaruhnya sangat luas tidak hanya disuatu negara saja. Kita akan melampaui batas waktu target lebih lama. Bagaimana Prof.Jhon? " Jawab Ayah José yang kemudian ia lemparkan pada Prof.Jhon.
" Iya betul sekali mungkin bisa dijadikan bahan hipotesis untuk penelitian lanjut, kita berfokus pada hutan Jawa, Sumatera, dan Kalimantan dulu karena wilayah ini perlu perhatian. Melihat kondisi hutannya yang semakin terancam oleh deforestasi. " Tanggapan Prof.Jhon meyakinkan.
" Baiklah, masih ada lagi yang ingin menambahkan? " Tanya Ceafi, matanya melihat seluruh peserta rapat. Awas bola mata birunya..
" Cukup! " Jawab salah satu staff.
" Cukup! " Sahut lainnya.
" Baik, Cukup! " Mereka menjawab bersahutan.
Setelah menempatkan kesepakatan bersama, rapatpun diakhiri. Waktu istirahat makan siang juga tiba. Ceafi mengajak Ayahnya makan diluar. Entah kesambet apa, yang biasanya makan pilih-pilih sekarang ingin makan diluar yang tentunya banyak lemak, manis, dan pedas. Ayah José tak bertanya banyak, mereka pergi ke restaurant terdekat.
***
Usai pulang kerja, Ceafi menjalankan ritual sore harinya. Secangkir teh, buku, dan senja. Ayah José pergi ke rumah temannya karena ingin mencari relawan penelitian. Dalam penelitian sudah biasa dibutuhkan relawan karena tak mungkin seluruh agenda dijalankan sendiri oleh tim peneliti.
Drt! Drt! Drt! Ponsel Ceafi bergetar. Terlihat pesan masuk dari Lily. Ceafi mengambilnya dan membuka isi pesan tersebut.
" File proposal sudah siap, Non! Besok kita bawa ke pusat untuk pengajuan. " Tulis Lily dipesan itu.
" Okay! Merci Lily. " jawab Ceafi singkat dengan memberi emot terima kasih. Menyeruput tehnya dan Ceafi tersenyum lebar ketika surya mulai menyentuh cakrawala, warna jingga dengan palet emas dan biru begitu memberi kesan glorious sunset.
Tutup mata, tarik nafas panjang, dan hembuskan. Serasa semua beban ikut terhembus keluar.
" Hwaah!! " Teriak Ceafi terkaget karena tiba-tiba ada tangan yang memeluknya dari belakang.
" Ayah!! Kebiasan!! " Ceafi berbalik dan memukul dada Ayahnya. Ayah José terkekeh telah berhasil mengagetkan Ceafi.
" Awas kalau Ayah lagi-lagi mengagetkanku, merusak senja saja. Tuh kan sudah gelap! Ah Ayah jahat dengan Ceafi! " Ceafi mengumpat kesal.
" Hei, santai Nona Kecil.. Ayo kemari! " Ayah José merangkul Ceafi membawanya masuk. Wajah Ceafi cemberut dan tak mau duduk bersama Ayah José, ia langsung berlalu masuk kamar.
__ADS_1
" Ceafi tak mau makan malam! " Ucap Ceafi dan menutup pintu sedikit keras.
Begini kalau berani usik senjanya Ceafi. Ayah José cari masalah nih.
Tak mau masalah berlanjut, Ayah José membiarkan Ceafi. Bibi Minah mengantarkan makanan ke kamar Ceafi.
" Nona makannya, Bibi taruh meja ya, " Ucap Bi Minah.
" Iya Bi! " Jawab Ceafi singkat. Ceafi sedang bicara dengan Christon lewat telepon. Bi Minah segera keluar dari kamar.
***
Malam ini terasa begitu dingin, langit terlihat hitam dan bintang-bintang bertabur indahnya pertanda esok hari cuaca akan cerah. Sunyi menggantikan hiruk riuh siang hari, sesekali angin bertiup kencang timbul suara hembusan yang menciptakan damai.
Ayah José masuk ke kamar Ceafi, namun Ceafi sudah terlelap. Nampan makanan masih penuh dan ponsel Ceafi masih menyala yang tergenggam ditangannya. Rupanya ia ketiduran saat bicara dengan Christon. Ayah José membenarkan posisi tidurnya dan membawa keluar nampan makanan.
" Bi Minah! " Panggil Ayah José.
" Iya Tuan? Ada apa? " Bi Minah datang.
" Baik Tuan, saya segera hangatkan. " Bi Minah mengambil nampan yang dibawa Ayah José membawanya ke dapur.
***
Benar saja, pagi ini begitu cerah dan langit sangat jernih hanya sedikit awan.
Dimeja makan,
" Putriku masih marahkah? Senyap sekali pagi ini, hmn? " Ayah José menggoda Ceafi.
" Sudah jangan banyak bicara, nanti telat sampai kantor, " Jawab Ceafi ketus.
" Hmn, kau lupa Nona, hari ini kan simulasi medan di hutan dekat desa, sebelum memulai di hutan tempat penelitian. Kau rapi sekali pakai jas, ha? Mau jasmu sobek terkena ranting nanti? Haha..! " Ayah José tertawa. Satu poin kemenangan Ayah José.
Ceafi mengerutkan dahinya,
" Sudah senjaku kau rusak dan sekarang pagiku, hmn. Kenapa tak beri tahu semalam, Ayah sengaja nih! " Umpat Ceafi mencoba tahan emosinya. Tanda-tanda PMS nih keknya.
__ADS_1
" Salah siapa tidur duluan tak mau makan lagi, " Timpal Ayah José. Ceafi mendengus kesal.
" Bi tolong bungkuskan bekal ya, air putihnya pakai botol besar!" Pinta Ceafi kepada Bi Minah dan ia pergi ke kamar.
" Siap Non! " Bi Minah memberi tanda hormat.
Ayah José mencoba minta maaf dengan membujuk Ceafi akan diajak ke kolam renang hangat sehabis kerja. Ayah José memetik satu bunga anggrek dan menyambut Ceafi saat keluar rumah.
" Oh Nona Kecilku, terimalah permintaan maafku. Ayah ajak ke kolam hangat sehabis kerja, mau ya? " Ayah José menunduk berlutut.
" Ayah apaan ini, malu dilihat Pak Slamet. Ok Ceafi maafkan, ayo segera berangkat sekarang! " Ceafi berjongkok menerima bunga dari Ayah José dan mengecup pipinya.
" Yeayy! Ayah tak akan ganggu senja Ceafi lagi, masuklah Nona Kecil! " Ayah José membuka pintu mobil. Akhirnya luluh juga.
Para tim peneliti sedang melakukan simulasi medan hutan sebelum pergi ke hutan yang akan dijadikan tempat penelitian. Hutan yang digunakan simulasi tidak begitu besar hanya berada di pinggiran desa. Ayah José menjaga Ceafi, khawatir jika terpeleset atau ada serangga. Kaya orang pacaran deh, hihi..
" Nona pernah coba ini? " Prof.Jhon memberi Ceafi buah arbei. Ceafi memicingkan matanya melihat bentuk buahnya yang ia rasa tidak asing.
" Seperti raspberry tapi... " Jawab Ceafi ragu dan disahut oleh Ayah José.
" Itu arbei Sayang.. Cobalah! " Ayah José menjawabi Ceafi dan mengambil satu biji buah itu. Ceafi juga mengambilnya.
" Hmn, wow! Rasanya asam tapi segar ada manisnya juga. " Ceafi mengangguk-angguk saat merasakan buah arbeinya.
Dulu saat hutan desa belum banyak digarap masih banyak tanaman arbei yang tumbuh liar, Sekarang sudah semakin jarang.
Seharian penuh tim peneliti berlatih medan dihutan desa. Mereka sangat antusias dan semangat sekali, hingga Ceafi tak sabar ingin pergi ke hutan penelitian. Hutan yang sebelumnya ia dan Ayahnya kunjungi saat berkeliling dulu.
Tiba waktunya pulang, Prof.Jhon sempat mampir ke rumah Ayah José sebentar. Kemudian Ceafi dan Ayah José berangkat ke kolam hangat beriringan dengan mobilnya Prof.Jhon.
Tak butuh waktu lama mereka sampai di kolam renang air hangat yang dituju. Suasana tak begitu ramai, Pak Doni memesankan tempat VIP untuk Ceafi. Oh iya, sore ini Ayah José tak mengemudi karena agak lelah.
Kedatangan Ceafi memberi perhatian beberapa pengunjung. Apalagi kalau bukan karena cewek bule. Ceafi sengaja berbaur dengan mereka dan berfoto ria. Mereka diajak bercerita dan bercanda bersama, Ayah José tersenyum melihat putrinya tertawa lepas. Ia duduk ditaman kolam ditemani Pak Doni.
Senja tak terlihat ukirannya di kolam ini, hanya langit biru keorenan yang bisa dipandang. Setidaknya mood Ceafi terbayarkan setelah drama Ayah José kemarin sore.
Dasar bocah senja!
__ADS_1